08.09.2014 08:36 WITA - SOSIAL BUDAYA
Perkawinan Beda Agama Menurut Hindu

SAAT ini ramai diperdebatkan soal perkawinan beda agama. Penyebabnya karena ada yang menggugat Undang Undang Perkawinan ke Mahkamah Konstitusi dengan harapan agar perkawinan beda agama mendapat perlindungan hukum dari negara. Dengan perlindungan hukum itu maka status mereka jelas, yang nanti terkait dengan status anak-anak mereka, termasuk soal waris.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menolak perkawinan beda agama. Sementara Komnas HAM setuju ada perlindungan dari negara. Mahkamah Konstitusi sedang mengkaji masalah ini dan belum memutuskan. Nah, bagaimana dengan Hindu? Saya diminta menyampaikan pendapat dan pendapat ini sifatnya pribadi berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan dan yang dipraktekkan oleh umat Hindu di Bali.

Perkawinan umat Hindu mendapatkan akte pengesahan dari Kantor Catatan Sipil, karena umat Hindu tidak punya Kantor Urusan Agama (KUA) sebagaimana umat Muslim. Pengajuan akte ke Catatan Sipil menggunakan formulir dengan lampiran ada pengesahan perkawinan secara adat dan agama. Dalam surat lampiran yang sangat penting ini disebutkan, siapa pendeta (sulinggih) yang muput, di mana alamatnya, dan seterusnya. Jadi sulinggih itu tidak dicatut namanya. Sulinggih memberikan tanda tangan dan kemudian ada saksi dari adat, baik adat tempat tinggal mempelai pria maupun adat asal mempelai putri.

Logikanya adalah tanpa pengajuan permohonan akte yang tak lengkap itu, tak mungkin Catatan Sipil memberikan pengesahan. Lalu, bagaimana seorang sulinggih muput pawiwahan? Pasangan pengantin itu haruslah satu agama dan agama itu mutlak Hindu. Namanya saja perkawinan Hindu dengan pendeta Hindu, pastilah semuanya beragama Hindu.

Tidak mungkin pasangan pengantin itu beda agama. Misalnya, yang lelaki Hindu yang perempuan Islam atau Katolik atau Buddha. Sulinggih muput karya itu dengan penuh kesakralan, bukan akting atau main-main belaka. Ada upacara byakala, melukat, nanjung sambuk dan sebagainya yang semuanya ritual Hindu. Bagaimana mungkin menjalankan upacara ini kalau salah satunya bukan Hindu? Tak ada doa atau mantram yang bisa dilantunkan jika pengantin itu beda agama. Bahkan bisa-bisa sulinggih digugat kelak hari, jika bersedia melangsungkan perkawinan beda agama dengan ritual Hindu.

Biasanya kalau pasangan pengantin itu sudah akur di kedua keluarga dengan disaksikan masing-masing ketua adat, sulinggih tak perlu lagi menanyakan apa agama keduanya. Ya, sudah pasti Hindu. Tetapi kalau kelihatan yang satu datang dengan keluarga yang “aneh”, saya biasanya bertanya, apakah yang bukan Hindu itu sudah masuk Hindu dengan upacara Sudhiwadani. Kalau dijawab sudah, saya terus menanyakan di mana upacara Sudhiwadani, siapa yang mengeluarkan surat Sudhiwadani. Biasanya dari Parisada setempat.

Itu kalau upacara Sudhiwadani dilakukan sebelumnya dan saya sebagai sulinggih tidak menyaksikan. Tapi seringkali terjadi, upacara Sudhiwadani itu dilangsungkan menjelang ritual pernikahan. Bahkan selesai Sudhiwadani langsung ada upacara potong gigi sehingga calon pengantin yang tadinya bukan Hindu resmi masuk Hindu dan bahkan menjalankan rangkaian upacara Manusa Yadnya lain sebelum pawiwahan.

Dengan praktek di lapangan seperti ini maka saya simpulkan, perkawinan dalam Hindu khususnya dalam budaya dan adat Bali, tak memberi peluang kepada psangan beda agama. Harus satu agama, karena ritual perkawinan itu sakral. Ada saksi sekala (dunia nyata) yaitu pimpinan adat, ada saksi niskala (dunia religius) yang dimohonkan oleh pendeta ke leluhur, kawitan dan Istadewata.

Sekarang konon ada beberapa keluarga yang beda agama, yang lelaki Hindu yang perempuan Islam. Mereka disebutkan sangat rukun dan baik-baik saja, yang lelaki tetap aktif ke pura, yang perempuan dan anak-nya tetap menjalankan sholat sebagai umat Islam. Sudah menjadi rahasia umum di berbagai media, tokoh terkenal itu disebutkan namanya, yakni seorang menteri yang sedang kena masalah. Saya tak enak lagi menyebut di sini.

Pertanyaan banyak orang, bagaimana proses perkawinan mereka itu? Lalu siapa yang mengesahkannya, apakah Catatan Sipil atau KUA (Kantor Urusan Agama)? Kalau Catatan Sipil pasti tidak, karena ketentuannya harus perkawinan satu agama dan disahkan secara adat dan agama sesuai UU Perkawinan. Kalau akte perkawinan dari KUA, berarti yang lelaki itu masuk agama Islam. Saya tidak bisa menjawab karena tak tahu prosesnya.

Tapi saya pernah dengar cerita “perkawinan akal-akalan”, dan ini contohnya bukan dari tokoh yang di atas. Contohnya pasangan lain. Yang lelaki Hindu yang perempuan Islam. “Akal-akalannya” adalah si perempuan bersedia masuk Hindu, bukan saja upacara Sudhiwadani malah mau potong gigi. Keluarga si lelaki tentu senang, tetapi keluarga si perempuan tidak datang dengan alasan sibuk. Yang penting ritual berjalan.

Ketika pasangan ini kembali ke Jakarta, si lelaki masuk Islam disaksikan keluarga sang istri. Yang perempuan mestinya masuk Islam kembali karena sudah pernah jadi Hindu, tapi tak dilakukan karena ritual Hindu di Bali itu dianggap ”akal-akalan” saja. Setelah itu dilangsungkan perkawinan di KUA tanpa setahu keluarga di Bali.

Bertahun-tahun tak ada yang tahu masalah ini, kedua pasangan itu juga menyimpan rahasia dengan bagus. Tiba waktunya lelaki itu meninggal dunia. Tentu saja dikuburkan secara Islam di Jakarta. Mendengar ini keluarga di Bali marah besar, mau membongkar kembali kuburannya supaya bisa diaben di Bali. Tak bisa, padahal berbagai upaya sudah dilakukan. Keluarga di Jakarta punya bukti otentik akte nikah di KUA.

Itulah resiko kawin  beda agama dengan cara “akal-akalan”. Untuk calon pengantin yang masih beda agama, kalau memang tak ada kesepakatan soal “menyatukan agama” lebih baik batal kawin. Kalau “kumpul kebo” juga resikonya besar, tanpa perlindungan hukum baik untuk pasangan itu maupun anak-anaknya. Lagi pula karena perkawinan itu adalah sakral – di agama apapun – kumpul kebo itu tergolong berzina. Demikian pendapat saya sehingga bisa disimpulkan, perkawinan beda agama tak dibolehkan dalam Hindu. Sekali lagi ini pendapat pribadi dari pelaksanaan di lapangan. (*)

 
Maintained by rumahmedia