06.09.2014 15:31 WITA - DHARMA WACANA
Sikap Tubuh dalam Meditasi

PADA tulisan sebelumnya (Meditasi Menurut Bhagawad Gita) sudah diuraikan tentang bagaimana meditasi menurut Bhgawad Gita sampai pada mempersiapkan tempat duduk. Supaya tidak lupa, kali ini disambung dengan sikap tubuh dan apa yang perlu dibangkitkan. Sekali lagi, meditasi ini menurut Bhagawad Gita, bukan menurut aliran-aliran yang lain. Besar sekali kemungkinannya tidak cocok lagi atau sudah dikembangkan oleh kelompok-kelompok meditasi yang kini bertebaran.

Sloka BG VI.13 menyebutkan: samam kaya siro grivam, dharayann acalam sthirah, sampreksya nasikagram svam, disas canavalokayan. Terjemahan bebasnya: Jagalah supaya tubuh atau badan, leher dan kepala tetap tegak lurus, memandang ujung hidung dan tidak melihat ke sana ke mari ke segala arah.

Mungkin sloka ini yang membuat ada kelompok meditasi yang membolehkan orang meditasi dengan telentang berbaring. Bukankah tubuh, leher dan kepala tetap lurus dalam berbaring? Namun karena sloka sebelumnya banyak diuraikan bagaimana mempersiapkan alat duduk, maka pada sloka ini pun banyak yang mengartikan bahwa meditasi itu haruslah duduk. Bahkan Rsi Patanjali mengajarkan cara duduk yang lebih ketat lagi dalam melakukan meditasi. Misalnya, dianjurkan kepada para yogi untuk duduk dalam posisi padmasana. Ini dari kata padma dan asana. Padma berarti bunga teratai, asana berarti sikap duduk. Tempatkan kaki kanan di atas paha kiri dan kaki kiri di atas paha kanan. Kedua tumit harus menekan ke arah bawah. Ini posisi yang sulit dan harus dilatih sejak kecil. Kalau sudah tua dengan kondisi tulang dan persendian yang tak memadai lagi, sulit melakukan sikap duduk padmasana.

Teratai atau di Bali disebut tunjung adalah lambang kemurnian. Teratai yang berkembang adalah lambang dari berkembangnya kesadaran. Akar dan batang teratai berada di dalam air yang berlumpur, kotor dan jauh dari kesucian. Ini melambangkan karma kita yang buruk. Tetapi bunga teratai berada di atas air, tetap bersih. Yang disimbolkan dari sini adalah betapa pun kita punya dan memiliki karma buruk (sesuatu yang tak bisa dihindari oleh manusia) tetapi pikiran kita tetapkan jernih dan tidak tercemar.

Jika kita tak bisa melakukan sikap duduk padmasana ada yang lebih mudah, yaitu siddhasana. Sikap duduk ini dengan cara menumpangkan kaki kanan ke atas paha kiri, namun kaki kiri tak harus ditumpangkan ke paha kanan. Jadi kaki tidak bersilang. Para pendeta Hindu di Bali banyak yang memakai sikap siddasana dalam muput karya.

Bagaimana sikap tangan? Jika tangan dalam posisi disilang dan diletakkan di paha sementara kaki dalam posisipadmasana maka ini tingkat kesukaran tertinggi dan disebut mukta-padmasana. Tetapi kalau terlalu sulit sikap duduk apapun yang dipilih tangan taruh saja di paha. Yang diutamakan adalah tubuh berdiri tegak mata memandang ujung hidung.

Nah, kenapa harus memandang ujung hidung? Dengan memandang ujung hidung maka mata tidak terpejam. Dalam meditasi dianjurkan tidak menutup mata dengan rapat karena dikhawatirkan akan tertidur lelap dalam keheningan, karena meditasi bukanlah tidur meski yang dicapai adalah keheningan. Tetapi kalau dibiarkan mata terbuka lebar dan memandang ke segala arah maka konsentrasi sulit dicapai. Meditasi itu adalah proses setelah konsentrasi atau dalam istilah yang dipakai Rsi Patanjali, meditasi (dhyana) adalah tangga ketujuh setelah dharana (konsentrasi). Dengan memandang ujung hidung maka mata tak terbuka lebar-lebar tetapi tidak juga tertutup rapat.

Dalam berbagai kelompok meditasi, proses dharana (konsentrasi) banyak yang memakai alat, misalnya, menatap patung atau pratima, menatap lilin atau cahaya lain. Tidak menatap ujung hidung. Tetapi kelebihan menatap ujung hidung otot mata menjadi kuat, hidung bisa mencium bau dari jarak yang jauh. Kekuatan otot mata ini bisa menjadi kekuatan sorot mata, sehingga mereka yang terlatih dengan teknik ini bisa menentramkan orang yang beringas dengan hanya memandangnya dengan kekuatan sorot mata.

Lalu kenapa posisi tubuh tegak? Ini terkait dengan membangkitkan cakra yang ada di tulang ekor (muladhara cakra) untuk dibawa naik menuju cakra-cakra lain. Nah berapa cakra yang mau dibangkitkan, kembali persoalannya pada aliran meditasi yang dilakukan dan ini bisa berbeda-beda di setiap kelompok. Lain waktu akan diuraikan beberapa saja. (*)

 
Maintained by rumahmedia