09.08.2014 16:32 WITA - RENUNGAN
Sad Ripu dan Sapta Timira

Sad Ripu dan Sapta Timira adalah ajaran yang harus dihindari oleh seseorang untuk mendapatkan perilaku yang ideal dalam kehidupan di masyarakat. Sad Ripu adalah sifat-sifat yang dikatagorikan sebagai musuh yang harus dilawan. Artinya sifat itu belum kita miliki. Sedangkan Sapta Timira adalah yang menyebabkan seseorang menjadi gelap dan sifat itu sudah ada dalam diri kita.

Sad Ripu sesuai namanya, sad berarti enam dan ripu berarti musuh, adalah enam musuh yang harus dilawan. Keenamnya itu adalah kama, lobha, krodha, moha, mada dan matsarya. Kama adalah nafsu yang negatif. Tentu seseorang boleh punya nafsu, tetapi nafsu negatif haruslah dihindari. Misalnya nafsu untuk menjegal seseorang untuk menjadi pemimpin. Kalah dalam pemilihan pejabat lalu merekayasa berbagai kasus agar pejabat yang terpilih batal dilantik. Ini nafsu buruk yang harus dihindari.

Lobha berarti rakus yang merugikan orang lain. Contohnya korupsi dan mencari keuntungan dari berbagai kesempatan. Krodha berarti kemarahan. Banyak pemimpin yang tak bisa mengendalikan amarahnya. Bicara ngawur dan main tuduh macam-macam.

Moha berarti kebingungan atau suka bingung terhadap sesuatu yang sesungguhnya biasa-biasa saja. Orang seperti ini mudah stress padahal ia banyak tahu masalah. Mada adalah sifat mabuk karena pikiran kotor sehingga kata-kata yang keluar tidak terkontrol. Orang harus mengendalikan perilakunya sejak ada dalam pikiran.

Yang terakhir Matsarya berarti dengki. Tak pernah menghargai orang lain betapa pun orang lain itu jauh lebih baik. Nah, keenam sifat buruk ini harus dilawan sebelum merasuki kehidupan kita agar pikiran, perkataan dan perbuatan sesuai dengan Tri Kaya Parisudha.

Akan halnya Sapta Timira, ini adalah tujuh sifat yang sudah merasuk ke dalam diri kita yang kalau tidak kita manfaatkan dengan benar maka sifat itu menjadi gelap atau memabukkan. Sepanjang sifat itu dimanfaatkan dengan baik tidak akan menimbulkan masalah.

Rincian Sapta Timira yang pertama adalah Surupa. Arti kata ini adalah wajah (rupa) yang bagus. Kalau dia lelaki disebut ganteng kalau perempuan disebut cantik. Tetapi janganlah rupa yang ganteng dan cantik ini dijadikan alat untuk menyombongkan diri, lalu mencela setiap orang yang ditemui. Jadikan wajah yang bagus itu untuk hal yang positif yang bisa memikat orang. Cantik di wajah cantik pula di hati.

Yang kedua Dhana berarti harta atau kekayaan yang melimpah. Gunakan harta ini dengan baik, membantu orang miskin, memberi dana punia ke panti asuhan atau untuk memperbaiki pura. Janganlah kekayaan ini dihambur-hamburan untuk foya-foya apalagi dipamerkan saat banyak orang menderita.

Yang ketiga Guna, berarti kepintaran atau kepandaian yang dimiliki. Jika kepintaran ini dipakai untuk menipu dan kepandaian itu dipakai untuk menyengsarakan orang lain, itulah kegelapan yang harus dicegah. Tak ada gunanya orang pintar tetapi merusak lingkungan.

Yang keempat Kulina, berarti memiliki keturunan yang dianggap tinggi di masyarakat feodal atau sering disebut kebetulan lahir dalam keluarga bangsawan. Kalau kebangsawanan ini diagung-agungkan, masyarakat akan tidak bersimpati karena yang dilihatnya adalah “kegelapan”. Namun kalau sifat rendah hati dan tak mau mengagungkan status sosial itu, niscaya akan semakin dihormati masyarakat.

Yang kelima Yohana, punya sifat atau wujud seperti anak muda atau prilaku seperti anak muda. Kalau sifat ini ditonjolkan akan kelihatan seperti labil, umumnya sifat orang muda. Orang itu akan dicap tak pernah dewasa. Di Bali ada ungkapan “tua-tua tuwuh” hanya usia saja yang tua, prilaku tidak.

Yang keenam Sura adalah sifat yang buruk diakibatkan oleh kegemaran minum minuman keras. Orang boleh saja berkata, uang-uangnya sendiri kenapa dilarang beli minuman keras, tetapi akibat sampingannya besar. Orang lain yang kecipratan akan ikut merasakan mabuk. Betapa banyak korban akibat minuman keras oplosan saat ini, padahal sumbernya adalah satu dua orang.

Yang terakhir Kasuruan, sifat yang mengagungkan keberanian. Mungkin merasa punya ilmu bela diri yang tinggi lalu memamerkan keberanian itu tidak semestinya. Orang berani itu bagus, tetapi harus diletakkan dalam porsinya yang memberi manfaat bagi orang lain yang belum berani.

Mari kita berperang melawan Sad Ripu dan mari kita kendalikan Sapta Timira.

 
Maintained by rumahmedia