16.01.2014 07:27 WITA - SARASAMUCCAYA
Sarasamusccaya Oleh Bhagawan Wararuci (Sambungan 3-Habis)

(Berikut kitab Sarasamuccaya sloka 461 sampai selesai)

461.
Melalui keserakahan harta kekayaan didapatkan, setelah berhasil munculah ketakutan akan adanya pencurian, perampokan dll; apabila harta itu berkurang bukan main sedih hatinya, apabila menjadi bangkrut rasanya lebih buruk dari kematian; singkat kata keserakahan itu hanya menimbulkan kesedihan dan kedukaan hati saja.

462.
Setelah berhasil memperoleh harta hasil keserakahan, berikutnya munculah kecongkakan, kebingungan dan kesusahan. Menjadi congkak karena harta diperoleh dengan mudah, bingung karena harta hasil kejahatan, dan susah karena takut harta akan segera habis.

463.
Mereka yang memperoleh harta dengan cara jahat, tiada orang yang tidak dicurigainya, bahkan ia juga curiga pada api yang bisa membakar hartanya, pada air yang bisa menghayutkan hartanya, pada angin yang bisa menerbangkan hartanya; bagaikan keberadaan sang maut yang selalu ditakuti oleh makhluk hidup. Dalam kecurigaan dan ketakutan kapankah kebahagiaan itu diperoleh?

464.
Tiada bedanya harta sesat itu dengan daging dendeng, semua tempat ditakutinya; jika ia ditaruh di atas burunglah yang ditakutinya, jika di bawah anjinglah yang ditakutinya, jika ditaruh di air ikanlah yang ditakutinya; semua tempat mendatangkan kecurigaan bagi orang yang memperoleh hartanya dengan cara sesat.

465.
Tiada yang abadi, persaudaraan, pernikahan, dan persahabatan yang terjalin semuanya kelak akan berpisah; bahkan lekatnya roh dengan badan sekalipun, kelak apabila tiba waktunya akan dipisahkan oleh maut. Menyadari itu semua apa sebabnya manusia menginginkan perolehan harta dengan cara yang sesat.

466.
Banyak orang yang berani mempertaruhkan nyawanya dan membunuh demi harta; ada orang yang mau menjual harga dirinya pun orang lain demi harta; bahkan banyak orang yang mau menjadi penjilat demi harta; demikian kuatnya keinginan akan perolehan harta, padahal ketika ia mati tidak akan ada sedikitpun yang bisa dibawanya ke alam akherat.

467.
Harta sesat adalah harta hasil keserakahan, keserakahan itu adalah sumber dari segala jenis kejahatan, kejahatan menghasilkan dosa, dari dosa diperolehlah neraka.

468.
Tiga yang dapat membuat manusia itu mabuk dan bingung, yakni: 1) lawan jenis (pria/wanita); 2) harta (kekayaan) dan 3) tahta (kekuasaan). Jika ada orang yang dikuasai olehnya, ia sesungguhnya sedang tidur atau pingsan dalam hidupnya.

469.
Hasrat akan kekayaan dan nafsu sesat pada lawan jenis berkeadaan sama dengan riaknya ombak, sama-sama goncang, berkeadaan tidak tetap, dan tidak bisa diprediksi; karena sifatnya yang berubah-ubah hendaknya orang bijaksana tidak lekat padanya, sebab kenikmatan yang diberikan oleh harta dan nafsu sesat itu sama persis dengan kenikmatan jika berlindung di bawah mulut ular yang berbisa.

470.
Janganlah menjadi bingung, jangan berlebih-lebihan dalam mengejar harta, hendaknya dilakukan secara wajar dan benar, sebab hasrat badaniah dan panca indria itu adalah rintangan terberat dari umat manusia.

471.
Kemiskinan dan kekayaan itu terlihat berbeda, seolah-olah si miskin adalah wujud kesengsaraan dan si kaya adalah wujud kebahagiaan; padahal jika dicermati, orang kaya yang tidak perah merasa puas akan selalu saja diganggu oleh perasaan takut bangkrut sedangkan si miskin yang puas dengan hidupnya berhasil memperoleh kebahagiaan.

472.
Oorang-orang yang suka mengejar perolehan harta secara sesat, tidak ada satupun dari mereka yang dapat terbebas dari kesusahan juga tidak ada satupun dari mereka yang akan memperoleh kebahagiaan sejati; maka dari itu orang bijak tidak akan mengumpulkan harta dengan cara sesat, bahkan pikiran-pikiran tentang kesesatan itu dengan cepat hendaknya dienyahkan dari dalam diri.

473.
Suka dan duka sejatinya disebabkan oleh pikiran sendiri; orang menjadi suka hatinya melihat suatu yang menyenangkan, sebaliknya orang dapat mengalami duka nestapa ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan; seseorang menjadi senang ketika dapat memungut sekeping emas sebaliknya yang kehilangan menjadi berduka; orang berduka karena kecurian sedangkan si pencuri bergembira mendapat harta curian. Inilah yang menjadi alasan bahwa sesungguhnya suka dan duka itu di sebabkan oleh subjektifitas pikiran.

Prihal Ikatan Cinta Kasih

474.
Sangat sukar memperoleh harta kekayaan; sangat berat tanggung jawab untuk mensejahterakan keluarga, namun sebaliknya sangat mudah untuk memperoleh kesengsaraan, mereka yang dapat memahami ketiganya berdasarkan kewajiban pasti dapat terbebas dari belenggu kesengsaraan.

475.
Maka dari itu hendaknya segala sesuatu yang terkait dengan keduniawian dilakukan atas dasar kewajiban dan jangan sampai terikat olehnya, bagaikan keadaan sang ular yang melepaskan kulitnya dengan ikhlas demi perkembangan dirinya menuju kebaikan.

476.
Mereka yang terikat kuat oleh perasaan cinta buta, sesungguhnya sangat gemar hidup dalam kesedihan dan duka hati; bagaikan menusuk jatung sendiri dengan tombak.

477.
Karena cinta buta itulah asal mula dari kesedihan hati, perasaan yang buta itu membuat hidup terkekang dan terbelenggu duka hati.

478.
Jika sangat lekat cinta buta itu pada keluarga, hingga segala cara hendak dilakukan demi kemewahan keluarga, keadaan orang ini sama dengan seekor gajah tua yang dengan sengaja menenggelamkan diri dan keluarganya dalam lumpur.

479.
Mereka yang mencintai anak dan istrinya secara buta hingga tanpa sadar melakukan tindakan-tindakan yang justru menyesatkan keluarganya berkeadaan layaknya orang yang tanpa sadar minum minuman keras hingga mabuk, mereka menjadi bingung, kacau pikirannya dan membahayakan orang lain.

480.
Keluarga, istri, bahkan anak dengan sengaja harus dinasehati, dimarahi bahkan dihukum jika mereka melakukan tindakan-tindakan jahat; keluarga, istri, bahkan anak hendaknya dengan rela ditinggalkan ketika ajal tiba.

481.
Apapun yang berlebih-lebihan hendaknya ditinggalkan saja, karena tidak mungkin akan membawa pada kebaikan; demikian juga cinta yang berlebih-lebihan hanya akan membawa orang pada kesengsaraan saja.

482.
Jangan memikirkan lagi ikatan-ikatan duniawi, harta, keluarga anak dan istri ketika ajal menjemput, bebaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi agar dapat mencapai kebebasan.

483.
Sesungguhnya segala kesenangan dan duka dalam hidup ini terkait erat dengan kehidupan terdahulu.

484
Sesungguhnya orang terpisah kemudian bertemu kemudian berpisah lalu bertemu lagi pada akhirnya akan terpisah juga oleh kematian, walaupun kelak dapat bertemu lagi dalam kehidupannya yang akan datang.

485.
Demikianlah persahabatan terjalin, pernikahan terjadi, anak dilahirkan pada akhirnya semua akan dipisahkan oleh sang maut kematian, oleh karena itu janganlah terlalu besedih apalagi sampai menyengsarakan diri apabila perpisahan itu terjadi.

Pembebasan

486.
Tiada yang tahu akan penjelmaan manusia, tidak juga dapat diketahui berapa banyak penjelmaan yang telah dilalui, berkali-kali pernah menjadi ayah, ibu, sumi, istri, dan anak; menyadari siklus ini siapakah yang sebenarnya dengan permanen dapat dikatakan seketurunan, dan yang manakah dapat anda tunjuk satu keturunan permanen dengan anda?

487.
Tidak ada hubungan yang kekal, bahkan hubungan anda dengan badan pun tidak kekal, suatu saat dan pasti akan tiba saatnya anda berpisah dengan badan sendiri.


488. Dinyatakan hidup datang dari ketiadaan dan akan kembali tiada, menyadari ini yang manakah sesungguhnya menjadi hak milik secara permanen, sedangkan cepat atau lambat akan tiba saatnya di mana anda akan berpisah dengan sesuatu yang dianggap kepunyaan sendiri.

489.
Akan tiba saatnya kita berpisah dengan kekayaan, akan tiba saatnya kita berpisah dengan orang tua, akan tiba saatnya kita berpisah dengan anak-anak, dengan sahabat, teman dll; ketika perpisahan itu terjadi hanyalah baik buruk perbuatan diri yang setia menemani.

490.
Adalah mereka yang selalu bersedih akan yang mati, adalah mereka yang selalu bersedih akan harta yang hilang; sangat besarlah kesedihan hatinya, kesedihan itulah sumber dari kesengsaraan.

491.
Inilah obat untuk memusnahkan kesedihan, jangan pernah membiarkan diri larut dalam kesedihan yang berkepanjangan akibat kehilangan dan kematian, jangan pernah menenggelamkan diri dalam kedukaan hati, sadarilah bahwa pada akhirnya tiada apapun yang kekal, manusia akhirnya akan berpisah dengan orang-orang yang disayang, akhirnya mereka akan kehilangan harta kekayaan; orang yang senantiasa sadar dan ikhlas pada yang hidup pasti akan mati, yang datang pasti akan hilang, dapat terbebas dari kedukaan dan kesedihan hati.

492.
Ada kalanya orang meninggalkan kekayaannya, seringkali kekayaan meninggalkan orang, tiada kekallah pertalian orang dengan hartanya dan harta dengan orangnya, inilah bukti bahwa segala sesuatu itu tidak akan pernah kekal; orang yang bijaksana dan sadar akan hakekat ini, pasti dapat terebas dari ikatan.

493.
Sebaiknya kuatkanlah diri dengan ilmu pengetahuan yang benar, yang dapat membimbing orang untuk senantiasa berkeadaan sadar pada hukum ketidak kekalan dan dapat terbebas dari ikatan.

494.
Mereka yang sadar akan ketidakkekalan, walaupun layu bunga yang disuntingkan dirambut kepalanya tidak akan membuatnya berduka atau bersedih, sedangkan mereka yang buta, amat bersedih hatinya jika sesuatu yang diyakininya sebagai kepunyaan menjadi berkurang walaupun hanya beberapa bagian kecil saja.

495.
Perhatikan orang yang bahkan hingga mempertaruhkan jiwanya demi menumpuk harta kekayaan, orang seperti ini sungguh kurang bijaksana sebab mereka yang bijaksana hanya mau bersusah-susah asalkan dengan tidak susah juga ia dihilangkan. Orang yang kurang bijak karena mendapatkan harta dengan sangat susah menjadi terikat kuat dengan hartanya itu, sedangkan mereka yang bijak meskipun tampaknya harta didapat dengan cara susah tidaklah terikat beliau olehnya.

496.
Ada suka pasti ada duka; ada yang kaya pasti ada yang miskin; ada yang hidup pasti ada yang mati. Sekarang suka suatu saat pasti mengalami duka, sekarang kaya suatu saat pasti menjadi miskin, sekarang hidup suatu saat pasti akan mati, demikianlah keadaannya datang dan pergi, hidup dan mati silih berganti; mereka yang bijaksana tidak bergembira pada yang datang dan tidak pula beliau bersedih pada yang pergi, senantiasa tenang dan jerih pikirannya.

497.
Nikmatilah kesukaan dan kesedihan, jalani hidup dalam kaya dan miskin, ikhlaslah pada yang hidup dan yang mati. Janganlah pikirkan hasil dan kontribusi yang didapatkan dari usaha, akan tetapi teruslah berbuat bajik dan benar, bagaikan orang bersawah tahan akan panas terik matahari dan tetap bekerja berdasarkan kewajiban, setelah saatnya tiba panen pasti akan diperoleh.

498.
Sesungguhnya tidak dapat dihindari suka dan duka itu, sebab keduanya adalah anugerah bagi pendewasaan diri; namun mereka yang bijak tidak akan dapat dikacaukan oleh keduanya dan justru mendapatkan manfaat darinya.

499.
Hidup ini bagaikan putaran roda, yang tadinya di atas berikutnya akan berada di bawah, demikian juga yang di bawah berikutnya akan berada di atas, demikian juga suka dan duka itu datang silih berganti, ada kalanya suka berikutnya duka, adakalanya duka berikutnya suka; sesungguhnya semua itu terhubung dengan hukum sebab akibat dari perbuatan sendiri; baik ataukah buruk kualitas hidup saat ini, sungguh disebabkan oleh perbuatan masa lalu.

Prihal orang Bijaksana

500.
Jika orang sadar akan hakekat dari hukum sebab akibat perbuatan, demikian juga sadar akan hakekat kelahiran dan kematian (hukum karma), semakin ia sadar akan hakekatnya semakin tidak terlekati dirinya oleh kesenangan dan kesedihan, orang seperti inilah yang disebut bijaksana.

501.
Pikiran yang dipenuhi oleh pengetahuan sejati (hakekat karma), inilah hendaknya dipergunakan untuk melenyapkan kedukaan hati; seperti rempah-rempah dapat dipakai melenyapkan penyakit badan, demikianlah kearifan budi dapat dipakai menyembuhkan penyakit-penyakit rohani.

502.
Penyakit rohani pada akhirnya pasti akan menimbulkan penyakit fisik; seperti besi yang dibakar hingga panas lalu dicemplungkan ke dalam air, panas jugalah air itu akhirnya.

503.
Oleh sebab itu kekacauan pikiranlah yang hendaknya dimusnahkan lebih dulu dengan kearifan budi, bagaikan keberadaan api yang akan padam oleh air, demikian juga apabila kekacauan pikiran lenyap, hilang jugalah sakitnya badan.

504.
Bukannya orang yang telah berusia lanjut, bukannya orang yang sudah ubanan, dan bukannya orang yang keriput kulitnya dikatakan bijaksana, melainkan hanya orang yang paham akan hekekat paling hakiki dari pengetahuan itu sajalah yang pantas dinyatakan bijaksana.

505.
Mereka yang arif bijaksana tidak bersedih jika mengalami kesusahan, tidak bergirang hati jika memperoleh kesenangan, tidak digelapkan hatinya oleh kemarahan, ketakutan dan kedukaan hati; mereka yang bijak tetap tenang dan jernih hatinya dalam berbagai situasi.

506.
Beribu-ribu kesusahan, demikian juga ribuan marabahaya dan kedukaan hati datang dalam hidup ini, hanya pikiran si bodohlah yang dapat dikacaukan oleh keadaan itu, sedangkan mereka yang arif bijaksana sedikitpun tidak terkacaukan.

507.
Mereka yang telah berhasil memahami hakekat paling hakiki dari pengetahuan pasti dapat melenyapkan segala pikiran kotor, dapat melenyapkan perkataan kotor, dan dapat melenyapkan perbuatan kotor. Mereka yang berkeadaan suci terbebas dari sifat ego dan malas, rohani pun jasmaninya dipenuhi oleh sifat baik dan bajik.

508.
Mereka yang arif bijaksana tidak akan dibutakan hatinya oleh kenikmatan duniawi; walaupun dikelilingi oleh berbagai kesenangan, oleh berbagai kelesatan makanan, mereka yang arif bijaksana tidak akan terlekati olehnya. Adapun mereka yang bodoh menjadi sangat senang saat memperoleh kenikmatan hidup pun amat berduka ketika memperoleh kesengsaraan hidup, hati mereka buta oleh kebodohannya.

509.
Kearifan budi jika dikotori oleh kekotoran pikiran berkeadaan tidak murni lagi, seperti kemurnian emas menjadi berkurang karena adanya logam campuran, menyebabkan cahaya emas menjadi kurang cemerlang.

510.
Jika tekun dalam melatih dan menyucikan pikiran niscaya kecemaran badanpun akan lenyap, jika kekotoran badan dapat dilenyapkan oleh pengetahuan hakiki, terhapuslah segala macam kesengsaraan hidup.

511.
Demikian hebatnya kekuatan pikiran itu, ia tidak tampak namun kenyataannya ia ada dan menjadi sumber dari segalanya, ia sumber dari kebahagiaan pun sumber dari kesengsaraan, berkeadaan layaknya jejak-jejak burung yang terbang diudara atau jejak ikan yang berenang di air.

Selesai

             

 
Maintained by rumahmedia