06.11.2012 14:03 WITA - SARASAMUCCAYA
Sarasamusccaya oleh Bhagawan Wararuci (Bagian 1)

Sarasamusccaya adalah kitab Smerti dengan 511 sloka (ayat) yang memuat sejumlah ajaran tentang moral dan etika. Disusun oleh Bhagawan Wararuci, kira-kira pada abad ke-9 – 10 . Kitab ini ditulis dengan dua bahasa yaitu Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno (Kawi). Banyak yang menyebut Bhagawan Wararuci lahir di Nusantara karena kitab ini ditemukan dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuno dari aslinya, Sansekerta. Kedua bahasa itu dipersandingkan. Namun, tidak ada kepastian bahwa beliau lahir di Nusantara, bisa saja Sarasamuccaya itu datang dari India dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno oleh seseorang yang tak mau disebutkan namanya. Hal-hal yang anonim itu jamak dalam susastra Hindu di era kerajaan-kerajaan di Jawa.

Kitab Sarasamuccaya ini dimaksudkan oleh Wararuci sebagai intisari dari Astadasaparwa (Mahabharata), gubahan Rsi Wiyasa. Sara artinya intisari, sedangkan samuccaya artinya himpunan. Inilah himpunan dari instisari ajaran etika yang ada dalam Astadasaparwa.

Berikut ini sloka lengkap Sarasamuccaya dalam terjemahan bahasa Indonesia saja, diambil dari berbagai sumber yang dipadukan.

Tujuan hidup manusia

01
Manusia hendaknya mulai dari detik ini juga mengusahakan dengan tidak pernah jemu untuk memahami hakekat kebajikan/kebenaran, kekayaan, kesenangan, dan kebebasan. Manusia adalah Sang Raja bagi dirinya sendiri, ia adalah pemimpin dari tubuhnya, ia adalah penguasa dari pikirannya; maka dari itu, berusahalah untuk memahami hakekat penjelmaan ini.

02
Manusia adalah satu-satunya mahluk yang dapat melakukan kebajikan pun kejahatan. Terlahir menjadi manusia bertujuan untuk melebur perbuatan-perbuatan jahat ke dalam perbuatan-perbuatan bajik, hingga tidak ada lagi perbuatan-perbuatan jahat yang masih tersisa dalam diri, inilah hakekat menjadi manusia. Hanya dengan menjadi manusiakejahatan itu dapat dilebur dalam kebajikan.

03
Janganlah pernah bersedih hati dilahirkan menjadi manusia, meskipun pada kelahiran yang dianggap paling hina; karena sesungguhnya amat sulit untuk bisa menjelma menjadi manusia. Berbahagialah menjadi manusia.

04
Menjadi manusia adalah kelahiran yang paling utama. Karena hanya dengan menjadi manusia sajalah kebajikan/kebenaran dapat dilakukan, dan hanya dari kebajikan/kebenaran itulah kesengsaraan dapat dibenahi.

05
Manusia jahat dianggap sebagai sampah sekaligus penyakit dunia. Sesungguhnya tidak ada kesenangan apapun dalam kejahatan itu. Si jahat selalu merasa kosong dalam setiap perbuatannya, kebahagiaan yang mereka peroleh adalah semu.

 06
Pergunakanlah kesempatan terbaik ini, kesempatan lahir sebagai manusia, kesempatan yang sungguh sulit didapat, kesempatan untuk bisa memasuki alam surga. Lakukanlah hanya perbuatan-perbuatan yang dapat mengantar roh ke surga dan jauhilah perbuatan-pebuatan yang akan mengantar roh ke neraka.

 07
Terlahir sebagai manusia adalah kesempatan untuk melakukan perbuatan bajik dan jahat, yang hasilnya akan dinikmati di akherat. Apapun yang diperbuat dalam kehidupan ini hasilnya akan dinikmati di akherat; setelah menikmati pahala akherat, lahirlah lagi ke bumi. Di akherat tidak ada perbuatan apapun yang berpahala. Sesungguhnya hanya perbuatan di bumi inilah yang paling menentukan.

 08
Kelahiran sebagai manusia sangat pendek dan cepat, bagaikan pijaran cahaya petir, lagi pula kesempatan seperti ini sungguh sulit di dapatkan. Oleh karena itu pergunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya, lakukanlah perbuatan-perbuatan bajik/benar yang akan memutus lingkaran dan putaran kesengsaraan lahir dan mati, dimana kebebasan abadi itu bisa di peroleh.

09
Mereka yang memanfaatkan kelahirannya hanya untuk mengejar kekayaan, kesenangan, nafsu-nafsu kotor dan rakus, mereka yang tidak melakukan kebajikan di bumi, mereka inilah manusia yang tersesat dan pergi menjauh dari jalan kebenaran.

10
Mereka yang telah melakukan kebajikan pun kebenaran, namun masih terikat dalam proses lahir dan mati, mereka ini belumlah memperoleh inti sari dari kebebasan.

11
Lakukanlah pencarian kekayaan dan kesenangan hanya berlandaskan pada kebajikan/kebenaran yang pasti akan mengantar ke surga. Hendaknya janganlah melakukan segala macam kegiatan yang bertentangan dengan kebenaran. Manusia sering melalaikan hakekat kebajikan/kebenaran, sebab bagi mereka sungguh-sungguh sulit untuk dilakukan. Sedangkan kejahatan/ketidakbenaran bagi mereka sangat mudah dilakukan dan pastilah neraka pahalanya.

Hakekat Kebenaran (Keagungan Dharma)

12.
Jika kekayaan dan kesenangan dicari, lakukanlah kebajikan/kebenaran terlebih dahulu. Jika kebajikan  pun kebenaran dilakukan, niscaya kekayaan dan kesenangan pastilah didapatkan. Sungguh tidak akan ada artinya jika kekayaan dan kebenaran yang dicari menyimpang dari kebenaran/kebajikan.

13.
Orang yang bijaksana adalah orang yang senantiasa melakukan kebajikan dan kebenaran. Orang yang tidak bijaksana adalah orang yang memperoleh kekayaan dengan cara tidak benar; pun mereka yang memperoleh kesenangan dengan cara tidak benar. Tentunya mereka yang tidak bijaksana masih memiliki kerakusan, mereka pasti dapat digoda oleh kekayaan dan kesenangan yang jahat.

14.
Kebajikan dan kebenaran itu laksana perahu yang dapat mengantarkan manusia untuk pergi ke surga.

15.
Dalam usaha mencari kekayaan dan kesenangan, seringkali kegagalan yang justru diperoleh. Namun usaha untuk melaksanakan kebajikan dan kebenaran, sudah pasti mendatangkan hasil, walaupun baru dalam angan-angan saja.

16.
Bagaikan terbitnya matahari yang melenyapkan kegelapan dunia, seperti itulah mereka yang senantiasa melakukan kebajikan/kebenaran dalam hidupnya, memusnahkan segala dosa-dosa.

17.
Siapapun juga, baik mereka yang dianggap mulia, berkuasa atau bahkan hina dina, selama ia tekun melakukan kebajikan dan kebenaran, akan tercapailah apa yang menjadi tujuan dan cita-citanya.

18.
Kebajikan dan kebenaran adalah sumber dari mana kebahagiaan itu datang; dan barang siapa melakukan kebajikan/kebenaran, mereka akan senantiasa dilindungi; selebihnya hanya kebajikan/kebenaran sajalah yang dapat melebur segala macam dosa.

19.
Mereka yang tidak bimbang, yang tetap teguh hati dalam melaksanakan kebajikan dan kebenaran, sesungguhnya mereka inilah orang yang hidup dalam kebahagiaan. Meskipun untuk menyambung hidupnya mereka menjadi pengemis, perkerjaan itu tidak akan membuat saudara, kerabat, dan handai tolannya menjadi susah dan bersedih hati.

20.
Bagaikan tanaman tebu kala hujan, tidak hanya tebu itu saja yang memperoleh air, tanaman lain yang berada di dekat tebu itu pun mendapatkan manfaatnya; baik itu rumput, tanaman menjalar dan lain-lain. Demikianlah orang yang tekun dalam kebajikan dan kebenaran, sekaligus akan dicapainya juga kekayaan, kesenangan dan kemasyuran itu.

21.
Mereka yang melakukan kebajikan dan kebenaran, setelah meperoleh surga; kelak apabila dilahirkan kembali ke bumi akan menjelma menjadi orang yang rupawan, gunawan, muliawan dan berkekuasaan; segala macam pahala kebajikan dan kebenaran itu akan diperolehnya.

22.
Mereka yang senantiasa melaksanakan kebajikan dan kebenaran, secara ajaib akan dilindingi dari berbagai macam bahaya. Walaupun ia berada dihutan, dijurang, disemak-semak, bahkan dalam kancah peperangan, dimanapun juga tempat-tempat yang mendatangkan bahaya bagi kebanyakan orang, bagi mereka yang tekun degan kebajikan dan kebenaran tidak akan ada tempat berbahaya dan dapat mencelakainya.

23.
Mereka yang senantiasa melakukan kebajikan dan kebenaran akan memperoleh istri yang cantik dan utama, mereka akan mendapatkan rumah mewah, kelimpahan sandang pangan dan juga harta kekayaan.

24.
Bagaikan katak yang datang sendiri kekubangan air, bagaikan burung yang akan selalu datang ke telaga, demikianlah harta kekayaan dan kesenangan itu akan datang sendiri menghampiri mereka yang teguh dengan kebajikan dan kebenaran.

25.
Orang boleh bersantai dalam mencari harta dan kesenangan, namun dalam mengamalkan kebajikan dan kebenaran, hendaknya manusia selalu berpikir bahwa kematian akan datang esok hari, hingga hilanglah kemalasannya.

26.
Mereka yang sadar bahwa maut dan kematian selalu mengintai hidupnya, tentunya mereka tidak akan rakus dengan harta dan kesenangan, apalagi perbuatan-perbuatan jahat yang menyimpang dari kebajikan dan kebenaran.

27.
Bagaikan keberadaan ilalang muda yang tajam, akan tidak tajam lagi di masa tuanya. Demikianlah hendaknya kebajikan/kebenaran, harta dan ilmu pengetahuan itu dikejar sedini mengkin, pada masa muda yang sehat.

28.
Masa muda adalah waktu yang terbaik untuk mempelajari hakekat dari kebajikan/kebenaran, usaha perolehan harta dan pengejaran terhadap ilmu pengetahuan.

29.
Masa anak-anak menantikan masa muda, setelah muda pasti akan diikuti masa tua dan bagi masa tua kematian sudah pasti semakin dekat. Menyadari itu hendaknya manusia segera melakukan kebajikan dan kebenaran.

30.
Panjangnya hidup manusia harus dikurangi masa sakit, dimana kala itu manusia tidak kuasa melakukan aktifitas apapun, sakit pasti mempercepat datangnya kematian. Mengetahui itu manusia harus segera dan mempercepat saja pelaksanaan bajik dan benar dalam hidupnya.

31.
Karena kematian tidak bisa di prediksi kedatangannya, pun tidak ada yang memberi tahu kapan datangnya. Selagi masih hidup, lakukanlah dengan segera kebajikan dan kebenaran itu.

32.
Keluarga, sahabat, dan teman hanya bisa mengatar sampai dikuburan saja ketika kematian itu datang. Adapun yang tetap turut mengantarkan roh hingga ke alam akherat adalah perbuatan baik dan buruk semasa hidupnya; lakukanlah segera perbuatan baik itu, yang akan menjadi teman pengantar ke alam surga.

33.
Dapat dipastikan setelah mati yang tertinggal hanyalah badan kasar tanpa guna dan akhirnya akan dibuang karena tidak ada bedanya dengan pecahan piring dan mangkok. Untuk sementara jasad itulah yang dihormati oleh keluarga dan kerabat, selanjutnya mereka akan membakar atau menanamnya dalam tanah. Oleh karena itu usahakanlah terus untuk melakukan kebajikan dan kebenaran, ia yang akan menjadi teman abadi guna mencapai kebahagiaan dan kebebasan abadi.

34.
Hanya kebajikan dan kebenaran itu saja yang terpenting, hanya ketentraman hati yang merupakan daya tahan dari berbagai godaan sesat, hanya itulah yang dapat melebur dosa dan menghilangkan duka hati. Camkanlah dengan baik kebenaran dan kesadaran diri. Hendaknya ilmu pengetahuan yang benar menjadi tujuan hidup, karena pengetahuan yang benar membawa pada kebahagiaan, sedangkan tindakan tidak menyakiti, tidak membunuh, tidak dibutakan oleh amarah, semua itulah yang dinamakan dengan kebahagiaan hakiki.

Kebenaran Agama

35.
Ekam yadi bhavecchastram sreyo nissamcayam bhavet’ bahutvadiha sastranam guham creyah pravesitam.

Sesungguhnya semua agama memiliki tujuan yang sama. Semua agama mengajarkan kebajikan/kebenaran untuk mencapai alam surga dan pembebasan dari kesengsaraan; namun cara masing-masing dalam mencari kebenaran berbeda-beda. Agama yang bingung membenarkan yang tidak benar. Kebenaran kelompok dianggapnya kebenaran untuk semua, hingga akhirnya menyalahkan yang sesungguhnya benar (kebenaran hakiki yang dapat diterima diberbagai kalangan). Bahkan agama yang bingung ada yang menyatakan bahwa kebenaan itu ada didalam goa; atau Tuhan hanya milik kelompoknya saja.

36.
Karenanya janganlah angkuh pada orang yang bijaksana, namun mohonlah selalu pada beliau ajaran tentang kebijaksanaan. Sebab yang disebut dengan kebajikan dan kebenaran hakiki (kebenaran universal), pengertian dan pemahamannya kadang muncul tanpa disangka-sangka.

Sumber Dharma

37.
Jika ingin mengetahui kebenaran, pahamilah secara cerdas wahyu Tuhan lalu bandingkan dengan tafsir-tafsirnya serta dengan aturan-aturan moral/etika/susila yang berlaku dalam sosial masyarakat. Jika demikian maka akan sempurnalah pemahaman kita tentang apa sesungguhnya kebenaran dan kebajikan itu.

38.
Sesungguhnya semua kitab suci adalah wahyu Tuhan, ia adalah petunjuk bagi umat manusia untuk hidup damai dan sejahtera, ia adalah sumber dari segala sumber kebajikan dan kebenaran. Apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi terkandung dalam wahyu Tuhan.

39.
Wahyu Tuhan hendaknya dipelajari dengan benar, dengan jalan mempelajari terlebih dahulu tafsir-tafsirnya, sebab Wahyu Tuhan sungguh takut jika dipelajari oleh mereka yang memiliki kedangkalan pemahaman dan sedikit pengetahuan. Sebab bagi mereka yang sedikit pengetahuan dan dangkal dalam analisis, wahyu Tuhan hanya akan dijadikan pembenar dari tindakan-tindakannya yang sesat.

40.
Yang patut dicamkan secara mendalam adalah kebenaran universal dalam wahyu Tuhan, kebenaran universal dalam tafsir-tafsirnya, dan kebenaran universal dari mereka-mereka (orang suci) yang hatinya telah tercerahi oleh kebajikan dan kebenaran.

Kebaikan dan Kebenaran (Pelaksanaan Dharma)

41.
Apa pun yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tidak menyenangkan bagi dirimu, apapun yang menimbulkan duka dan sakit hati bagi dirimu; janganlah hendaknya yang menimbulkan keadaan seperti itu engkau lakukan pada orang lain. Perbuatan apapun yang tidak engkau sukai menimpa dirimu, janganlah perbuatan seperti itu engkau timpakan kepada orang lain.

42.
Siapapun orang yang telah menang melawan hawa nafsunya, merekalah orang yang sungguh-sungguh bijaksana dalam kebajikan dan kebenaran; mereka inilah yang patut untuk ditiru dalam pelaksanaan bajik/benar.

43.
Kebajikan dan kebenaran itu memenuhi semesta ini, ia tidak terikat oleh apapun, ia tidaklah milik perseorangan, kelompok pun ras tertentu, ia antara ada dan tiada. ia akan muncul menampakkan dirinya dalam perbuatan manusia yang bajik dan benar, namun ia sungguh-sngguh tiada dalam hati dan perbuatan manusia-manusia yang berhati kotor dan jahat.

44.
Analisa dan pelajarilah segala perilaku dan setiap perbuatan, hingga dapat diketahui hakekat dari kebajikan dan kebenaran. Setelah dipahami simpanlah dalam hati. Segala yang tidak menyenangkan bagi diri pribadi, janganlah yang seperti itu dilakukan kepada orang lain. Hendaknya apa yang menyenangkan bagi diri, yang seperti itulah diberikan kepada yang lain.

45.
Mereka yang tidak melakukan kebajikan dan kebenaran, keberadaannya bagaikan padi yang hampa atau telur busuk, kenyataannya ia ada tapi sungguh tiada guna.

46.
Mritye janmanor’thaya jayante maranaya ca, na dharmatam na karmatham trnaniva prthagjanah.

Sebagaian besar manusia di bumi tidak memahami hakekat kebajikan dan kebenaran. Sungguh mereka tidak mengendalikan nafsunya dan hidup mereka hanya untuk menunggu mati, tanpa pernah berusaha untuk memahami hakekat kematian. Hidup yang hampa seperti itu tiada beda dengan rumput yang mati dan tumbuh kebali, tumbuhnya hanya untuk menunggu mati.

47.
Mereka yang ingkar dan mungkir dari kebajikan dan kebenaran, disebabkan oleh keangkuhan diri, serta tetap melakukan perbuatan-perbuatan keji dan jahat, sungguh dapat dipastikan bahwa dalam hidupnya mereka hanya akan memperoleh kesedihan dan kesengsaraan saja.

48.
Mereka yang bodoh dan tetap melakukan perbuatan-perbuatan keji dan jahat akan memperoleh neraka, setelah penyiksaan neraka dilaluinya, lalu menitislah ia menjadi binatang; bila kemudian kelahirannya meningkat, menjelmalah ia menjadi orang yang cacat, hina, sengsara dan hidupnya selalu terombang-ambing dalam kesedihan dan hidup mereka jauh dari kesenangan.

49.
Sesungguhnya yang paling mendesak untuk dilakukan adalah pengejaran akan harta yang tidak bisa dirampas atau dicuri oleh siapapun, harta yang akan selalu setia menemani ke alam akherat, harta seperti inilah hendaknya dengan tekun dicari, harta itu adalah kebajikan dan kebenaran.

50.
Mereka yang dengan tekun mengusahakan kebajikan dan kebenaran, meskipun hidup dalam kemiskinan dan menjadi pengemis, sesungguhnya ialah orang yang benar-benar kaya, karena kekayaannya itu tidak mungkin dapat dirampas atau pun dicuri oeh siapapun juga.

51.
Mereka yang tekun dalam kebajikan dan kebenaran, secara ajaib akan memperoleh kehidupan yang layak. Karena bagi orang  yang bajik dan benar, makanan, pakaian, dan berbagai macam harta kekayaan seolah-olah datang dan menawarkan diri untuk dimiliki.

52.
Banyak makanan yang tersedia dalam hutan, juga sungai-sungai yang berair jernih ada di sana, lampunya adalah bulan; hingga janganlah mengorbankan kebajikan dan kebenaran demi memperoleh kekayaan duniawi, sebab mungkin saja anda akan terlambat dalam pelaksanaan kebajikan dan kebenaran, dikarenakan kesibukan untuk menumpuk harta hasil kekejian dan kejahatan.

53. Laksanakanlah kebajikan dan kebenaran dengan tekun dan bersungguh-sungguh, bersamaan dengan itu carilah juga harta yang didasari oleh kebajikan dan kebenaran. Bagaikan keberadaan seekor sapi yang sedang membajak sawah, sambil bekerja, sempat juga ia meraih rumput yang tumbuh disekitarnya, dengan itu ia bekeja tanpa merasa lelah.

54.
Kebajikan dan kebenaran itu amatlah mulia, ia juga bersifat amat rahasia, bagaikan jejak-jejak ikan yang berenang dalam air. Biarpun seperti itu adanya, bagi orang yang bijaksana, kebajikan dan kebenaran itu dengan tekun dan keteguhan hati akan selalu dilaksanakannya.

Pekerjaan dan Profesi (Prihal Catur Warna)

55.
Manusia sesuai profesinya dibagi menjadi empat golongan. Agamawan adalah golongan pertama, ke dua negarawan, ke tiga usahawan, dan ke empat adalah pelayan. Ketiga golongan profesi tersebut di atas haruslah dalam hidupnya melakukan penyucian diri, apabila diinginkan mereka boleh hidup selibat. Sedangkan golongan pelayan juga boleh melakukan penyucian walaupun tidak menjadi keharusan baginya.

56.
Profesi agamawan haruslah mempelajari ilmu pengetahuan, mengajarkan kebajikan dan kebenaran, mengajarkan kitab suci, melaksanakan upacara dan pemujaan, melakukan amal sosial, bersembahyang ke tempat-tempat suci,serta menjadi pemimpin upacara.

57.
Inilah kewajiban seorang agamawan, melakukan kebajikan dan kebenaran; setia pada ucapan dan janji; teguh pada pelaksanaan kebajikan dan kebenaran, menaklukkan hawa nafsu; tidak mementingkan diri sendiri; rendah hati; sabar dan tahan godaan; tidak diliputi oleh kemarahan dan kejahatan; melakukan persembahan kepada Tuhan; beramal sedekah; menyucikan fisik dan rohani; serta welas asih dan pemaaf.

58.
Inilah kewajiban negarawan, mempelajari ilmu pengetahuan dan kitab suci; melaksanakan upacara kurban ke hadapan Tuhan; memfasilitasi upacara kebaktian; menjaga keamanan negara; mengenal bawahannya sampai pada sanak keluarga dan kerabatnya; berderma dan bersedekah.

59.
Seorang usahawan, hendaknya belajar kepada agamawan dan negarawan. Mereka hendaknya berderma dan bersedekah pada waktu yang baik; hendaknya mereka bersedekah kepada orang-orang yang memerlukan dan meminta bantuan kepadanya. Mereka hendaknya taat beribadat.

60.
Inilah kewajiban pelayan, setia mengabdi kepada agamawan, negarawan, dan usahawan, mereka hendaknya melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.

61.
Apabila negarawan pengecut, angkara murka, tidak mengusahakan kebahagiaan negara dan tidak mengasihi rakyatnya; agamawan rakus, bewatak jahat, menyeleweng dari norma dan susila; curang; diliputi birahi; mementingkan diri sendiri, mencemarkan tempat suci; negara dimana mereka itu hidup pasti hancur berkeping-keping

62.
Usahawan menganggur; pelayan tidak setia; mereka-mereka yang seperti ini pasti akan memperoleh malapetaka.

63.
Inilah yang harus dilakukan oleh keempat profesi: jujur; tidak egois dan mementingkan diri sendiri, dapat menasehati diri sendiri; mengendalikan indra-indra.

64.
Inilah yang harus dilaksanakan: tidak menyakiti dan membunuh dalam arti luas, setia pada ucapan, berkata benar, tidak berpikiran jahat pada semua mahluk, tahan cobaan, teliti, orang seperti ini sesungguhnya telah memperoleh kebahagiaan.

65.
Jika ketidakjujuran yang menjadi dasar perilaku, ia pasti akan mengantar ke alam maut. Jika kejujuran dan ketulusan hati menjadi pondasi perilaku, ia akan mengantar ke alam surga.

66.
Hidup dengan tidak mementingkan diri sendiri, itulah dasar dari kebajikan dan kebenaran utama. Tahan menghadapi cobaan hidup, itulah kekuatan yang utama. Berkeyakinan bahwa orang lain adalah bagian dari diri sendiri, itulah pengetahuan utama. Setia pada ucapan dan janji adalah kesetiaan utama.

67.
Perilaku mementingkan kepentingan pribadi tidak disukai oleh siapapun; mereka yang jahat, keji dan berperilaku hina sekalipun akan mebencinya. Bagaikan orang yang meninggalkan sumur kering, menghindari duri dan menyelamatkan diri dari kebakaran, demikianlah orang-orang akan meninggalkan mereka yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

68.
Orang yang berhati tenang senanantiasa berkeadaan sadar, mereka sanggup menasehati dirinya sendiri. ketenangan hati sesungguhnya lebih utama dari sedekah, sebab sering kali mereka yang dermawan tidak memiliki ketenangan hati, hingga dapat dipengaruhi oleh kemarahan dan keserakahan. Maka lebih utamalah ketenangan hati itu dibanding sedekah.

69.
Sesungguhnya bukan lantaran mandi seseorang dapat disebut suci, hanya mereka yang memiliki ketenangan hati sajalah bisa disebut suci.

70.
Orang seperti inilah pantas disebut berhati tenang, tidak berbohong, tidak girang hati apabila memperoleh kesenangan, tidak bersedih jika ditimpa kesusahan, memahami filsafat secara mendalam, sanggup menasehati dirisendiri, hanya mereka sajalah yang pantas dianggap suci.

71.
Sesungguhnya surga adalah kesuksesan dalam pengendalian nafsu, sedangkan neraka adalah kegagalan dalam mengendalikan nafsu.

72.
Mereka yang berhasil menguasai nafsunya akan berumur panjang, termasyur, memiliki nama harum, dan tidak pernah kekurangan harta kekayaan.

Trikaya Parisuda (Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan)

73.
Sepuluh banyaknya hawa nafsu yang harus dikendalikan, tiga bagian dari pikiran, empat bagian dari perkataan, dan tiga bagian dari perbuatan.

74.
Keinginan untuk memiliki hak milik orang, kebencian pada mahluk hidup, dan ketidak percayaan pada hukum sebab akibat, inilah produk pikiran yang harus dikendalikan.

75.
Berkata jahat, berkata kasar, memfitnah, dan berbohong, inilah empat jenis perkataan yang harus dikendalikan.

76.
Mencuri, berzinah, dan membunuh inilah perbuatan yang jangan pernah dilakukan.

77.
Yang membuat orang dikenal adalah hasil perbuatannya, perkataannya, dan pikirannya. Melalui ketiganya ini orang mengetahui kepribadian diri. Maka dari itu biasakanlah untuk berpikiran baik, berkata benar, dan berbuat bajik.

78.
Walau sangatlah sukar mengamalkan kebaikan dan kebajikan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, janganlah semua itu membut kita berhenti untuk melaksanakannya.

79.
Kesimpulannya, pikiranlah yang sangat menentukan perkataan dan perbuatan.

80.
Mano hi mulam sarvesamindrayanam pravartate, subhasubhasvavashtasu karyam tat suvyavasthitam.

Pikiran adalah sumber dari segala macam nafsu, ialah yang meggerakkan dan mengarahkan perbutan menuju kebajikan atau pun kejahatan. Maka dari itu usahakanlah terlebih dahulu untuk mengendalikan pikiran.

81.
Duragam bahudhagami prathanasamssayatmakam manah suniyatama yasya sa sukhi pretya veha ca.

Pikiran itu sangatlah labil dan berubah-ubah, apabila seseorang dapat mengendalikan pikirannya, niscaya ia akan memperoleh surga di dunia dan surga di akherat.

82.
Mata dapat melihat sesuatu dikarenakan oleh pikiran. Mata tidak akan melihat apapun dengan jelas jika pikiran kosong dan tidak fokus. Pikiran itulah sesungguhnya yang menerima kesan dari panca indra.

83.
Bagian-bagian tubuh lawan jenis bisa menimbulkan rasa hormat ataupun nafsu birahi, masing-masing persepsi yang berbeda muncul dari pikiran yang berbeda pula. Maka celakalah mereka yang memandang lawan jenisnya secara sesat dan penuh birahi.

84.
Air liur yang diludahkan, ataupun air liur yang dihisap saat berciuman adalah cairan yang sama. Orang jijik melihat ludah dan sangat bernafsu untuk menghisapnya saat birahi.

85.
Seorang anak dan seorang ayah beda persepsinya jika melihat payudara si ibu. Demikianlah sesungguhnya benda yang sama terlihat berbeda akibat pikiran.

86.
Bedalah tanggapan orang selibat, pria hidung belang, dan seekor srigala dalam memandang wanita. Mayat menurut si selibat, seksi dan mengairahkan menurut pria hidung belang, makanan lezat menurut srigala. Akibat kebingungan pikiran muncullah beragam persepsi.

87.
Seorang ayah lantaran cinta mencium anak dan istrinya, namun perasaan si ayah akan beda tatkala ia mencium anaknya dengan saat ketika ia mencium istrinya. Perbedaan ini disebabkan oleh pikiran si ayah. Pikiran itulah yang sesungguhnya menyebabkan munculnya perbedaan persepsi.

Pengendalian Indria

88.
Abhidhyaluh parasvesu neha namutra nandati, tasmadabhidhya santyajya sarvadabipsata sukham.

Bagi mereka yang ingin memperoleh kebahagiaan abadi, hendaknya jangan sekali-kali berkeinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan merupakan haknya, jangan sekali-kali berperasaan iri hati kepada orang yang beruntung.

89
Sada samahitam citta naro bhutesu dharayet, nabhidhyayenne sphrayennabaddham cintayedasat

Jangan merindukan sesuatu yang tidak mungkin, jangan menginginkan sesuatu yang mustahil, dan janganlah memikirkan cara-cara jahat guna memenuhi hasrat keinginan. Janganlah dengki dan irihati pada orang yang sukses, berbelaskasihlah kepada segala mahluk.

90.
Oleh karenanya, kekanglah dengan kuat indra-indra dan pikiran itu, janganlah dibiarkan melakukan tindakan yang terlarang dan melanggar hakekat kebajikan, janganlah dibiarkan melakukan tindakan tercela yang pada akhirnya akan menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan.

91.
Yasyerya paravittesu rupe virye kulavaye, sukhasaubhagyasatkare tasya vyadhiranatagah.

Sesungguhnya orang yang sengsara adalah mereka yang tidak suka melihat harta kekayaan orang, tidak suka melihat kerupawanan orang, tidak suka melihat status sosial orang, tidak suka melihat kesenangan orang, dan tidak suka melihat keberuntungan orang; bagi mereka yang senatiasa diliputi kedengkian dan irihati, hidupnya akan selalu dilekati oleh duka nestapa.

Kesabaran

92.
Segala sesuatu yang ada di bumi ini adalah milik dari orang sabar, demikian juga apa yang ada di jagat raya ini adalah juga milik orang yang berhati sabar. Hanya dengan kesabaranlah keberhasilan itu dapat diperoleh, mereka yang sabar dipuji dan dihormati di bumi, apabila mereka mati surgalah ganjarannya.

93.
Natah srimattara kincidanyat pathyatara tatha prabhavisnorytha tata ksama sarvatra sarpvada.

Kekayaan utama adalah kesabaran hati, apagunanya emas permata dibandingkan dengan kesabaran, sebab hanya kesabaran saja yang bisa menasehati orang dari kesesatannya, sedangkan emas dan permata hanyalah bagian dari bongkahan-bongkahan tanah yang membisu.

94.
Mustahil ada persahabatan tanpa kesabaran hati, yang ada pastilah kemurkaan, marah dan dendam, maka dari itu pupuklah terus kesabaran di dalam hati masing-masing.

Tentang Kemarahan

95.
Seorang manusia sejati dan berbudi luhur keadaannya bagaikan seekor ular yang membuang kulitnya, demikian pulalah orang yang sabar senantiasa meninggalkan kemarahan dari dalam hatinya.

96.
Na catravah ksayam yanti yavajjivamapi ghnatah, krodham niyantum yo veda tasya dvesta na vidyate

Meskipun seseorang selalu menang dalam pertempuran, selalu mengalahkan musuh-musuhnya, jika ia tetap terkungkung dalam watak pemarahnya dan sering mengumbar amarahnya pada orang lain, mereka akan selalu kedatangan musuh-musuh baru; sedangkan bagi yang mampu mengekang nafsu amarahnya, tidak akan pernah ada musuh dalam hidupnya.

97.
Minuman keras hanya diijinkan bagi orang yang benar-benar telah mampu menguasai indra-indranya, sedangkan bagi orang yang belum mampu untuk menguasai indranya, minuman seperti ini dilarang untuk di konsumsi. Kemarahan hendaknya anda minum, anda kuasai dan anda tundukkan, hingga dari itu kesabaran hati pasti anda dapatkan.

98.
Atmopamastu bhutesu yo bhavediha purusah. Tyaktadando jitakrodhah sa pretya sukhamdhate.

Seseorang yang berpikir bahwa mahluk-mahluk di semesta ini adalah bagian dari dirinya, yang perpikir bahwa orang lain adalah juga dirinya, mereka yang seperti ini tidak akan pernah menjadi manusia egois, mereka menjadi kasih terhadap sekalian semesta raya; hanya orang seperti ini sajalah yang mampu memperoleh kesenangan dan kepuasan yang hakiki.

99.
Seseorang yang selalu menganggap orang lain sebagai musuh dan selalu menganggap makhluk-makhluk lain sebagai ancaman bagi hidupnya; orang yang seperti ini tidak akan pernah memperoleh kesenangan apalagi kepuasan. Hidup mereka selalu was-was, selalu resah dan selalu merasa terancam walaupun telah berdiam di kamar baja dan dijaga ribuan prajurit.

100.
Orang yang sulit tidur (insomnia) adalah mereka yang sedang sakit, mereka yang ketakutan, mereka yang dibenci, mereka yang sedang memikirkan pekerjaannya, dan mereka yang sedang dimabuk asmara serta mereka yang sedang nafsu birahi.

101.
Akrodhanah krodhanebhyo visistastatha titiksuratitiksorvistatah, amanusebhyo manusasca pradhana vidvamstathaivavidusah pradhanah

Orang yang dapat menguasai kemarahannya berstatus lebih utama dari orang yang pemarah, mekipun sipemarah itu kaya raya sedangkan si penguasa amarah hidup dalam kemiskinan harta. Orang yang penyabar jauh lebih baik dari orang yang tidak sabaran walaupun mereka ini memiliki kekuasaan. Penjelmaan menjadi manusia lebih utama dari mahluk apapun di bumi ini walaupun makhluk-makhluk ini lebih kuat fisik dan tenaganya; demikian juga mereka yang berhasil menyucikan dirinya lahir batin jauh lebih utama dari manusia manapun walau mereka lebih kaya, lebih berkuasa, lebih wibawa, lebih dihormati.

102.
Ketahuilah bahwa orang yang dikuasai oleh kemarahan dan angkara murka apapun yang dipersembahkannya, apapun yang disumbang dan disedekahkannya, apapun jenis puasa dan pantangan yang dilakukannya, apapun yang dikurbankannya, semua itu menjadi tanpa pahala, mereka hanya mendapatkan rasa lelah dan kepayahan, oleh karenanya kuasailah kemarahan dan nafsu angkara itu.

103.
Teguhlah dalam penyucian jiwa. Angkara murka dilenyapkan dengan menyucikan hati, kedengkian dilenyapkan dengan kebahagiaan, pengetahuan suci akan membinasakan ego, selanjutnya jagalah pikiran, perkataan dan perbuatan dengan selalu mawas diri.

104.
Tiada bedanya kemarahan itu dengan kematian, demikian juga cinta buta itu sekeruh sungai yang dipenuhi kotoran dan bangkai, namun pengetahuan suci bagaikan kantung ajaib yang dapat menyediakan apapun keperluan dan keinginan dari pemiliknya.

105.
Mereka yang sedang diliputi oleh kemarahan dan dikuasai oleh nafsu angkaranya dapat dipastikan akan melakukan perbuatan jahat, mereka yang dibutakan oleh amarah dan angkara dapat menghujat orang suci, bahkan sampai membunuh ayah, ibu, anak dan orang-orang dekatnya.

106.
Mereka yang sedang dikuasai oleh angkara murka akan lupa dengan etika berbahasa, hingga perkataan yang kasar, jorok, tabu, dll akan dilontarkannya, demikian juga mereka akan melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang dan menyalahi kebajikan pun kebenaran.

107.
Kemarahan dan nafsu angkara adalah musuh yang sesungguhnya berada dalam diri kita, jika ada orang yang dapat menghilangkan kemarahan dan angkaranya, pastilah mereka itu akan dimuliakan dibumi dan di akherat.

108.
Maka dari itu, mulai saat ini juga, hendaknya manusia benar-benar berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menghilangkan kemarahan dan nafsu angkaranya, kasihlah dengan sesama manusia dan segenap isi semesta ini.

109.
Mereka-mereka yang selalu teguh dan sabar dalam melakukan dan mengamalkan kebajikan dan kebenaran, mereka yang dapat menghilangkan kemarahan dan nafsu angkaranya, niscaya akan memiliki nama harum di bumi dan di alam surga.

Dunia Akhirat (Prihal Orang Tanpa Kepercayaan)

110.
Hendaknya manusia yang bijaksana meninggalkan perasaan tidak percaya ataupun ragu-ragu akan adanya alam akherat, karma dari perbuatan, sikap mencela kitab suci dan keesaan Tuhan; demikian juga hendaknya mereka menjauhkan diri dari sifat iri hati, suka dipuji, amarah, dan segala tindakan kejam dan jahat lainnya.

111.
Meskipun anda masih ragu akan adanya alam akherat dan karma (buah) dari perbuatan, hendaknya jauhkan diri dari perilaku jahat; meskipun anda tidak percaya pada kitab suci dan nabi, teruslah berbuat baik dan bajik; sebab mereka yang dinyatakan sengsara adalah orang yang tanpa keyakinan sekaligus tanpa perbuatan bajik dan benar.

112.
Walaupun orang tidak bisa melihat langsung alam akherat, orang yang teguh keyakinannya akan kebenaran agama, pasti dapat merasakan alam itu dalam hati dan keyakinannya.

113.
Orang yang tidak meyakini wahyu Tuhan dalam kitab suci dan tidak taat pada aturan etika yang berlaku, dapat dipastikan mereka akan memperoleh kesengsaraan hidup yang berulang-ulang.

114.
Apabila ada orang yang tanpa kepercayaan, tanpa kebenaran, dan tanpa perasaan welas asih; apabila anda disambut oleh mereka hendaknya jangan pernah anda lengah, sebab mereka itu sama berbahayanya dengan angin deras di tepian sungai yang tanpa disangka dapat menceburkan anda, bagaikan debu yang berterbangan tertiup angin, penuh dengan kotoran.

115.
Sesungguhnya mereka yang tanpa kepercayan, tanpa perbuatan baik, dan tanpa kasih sayang berkeadaan sama dengan orang yang telah mati.

116.
Orang yang tidak percaya pada keesaan Tuhan, wahyu kitab Suci, dan keberadaan orang suci; mereka sesungguhnya hanyalah memelihara fisiknya belaka, mereka sibuk menumpuk harta kekayaan dengan cara jahat, mereka diperbudak oleh kesenangan-kesenangan duniawi tanpa hirau akan hari esok dan kebahagiaan orang lain. mereka ini sungguh mengabaikan kepuasan bagi rohaninya.

Perkataan/ Berbahasa (Setia  pada Kata-kata)

117.
Ada dua hal yang membuat orang menjadi terpuji, petama tidak mengucapkan kata-kata kasar; kedua tidak berpikir untuk melakukan perbuatan jahat.

118.
Hendaknya perkataan selalu terarah pada sesuatu yang membawa kebaikan, namun hendaknya janganlah disesumbarkan atau dibicarakan secara berlebih-lebihan dengan maksud pamer, sebab pikiran baik jika dibicarakan dengan cara gembar-gembor dan berlebih-lebihan dapat menimbukan perasaan benci dari orang yang mendengarkannya.

119.
Jika perkataan itu muncul dari pikiran yang baik, dan cara pengungkapkannya juga dengan cara yang baik, maka kesenangan itu pasti dapat diperoleh. Sebaliknya meskipun maksudnya baik namun salah cara mengungkapkannya, tentulah akan menimbulkan duka nestapa bagi yang mendengarkannya.

120.
Perkataan yang tidak baik bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busurnya, ia dapat melukai dan menembus hati orang yang mendengarkan, oleh karenanya kuasailah diri dengan mengendalikan kata dan bahasa.

121.
Demikian kuatnya efek dari perkataan, ia dapat menyakiti orang hingga kesumsumnya, oleh karena itu mereka yang bajik dan benar akan menghindar dari perkataan menghujat, mengecam, dan kata-kata jahat lainnya.

122.
Hutan yang semua pohonnya ditebang dapat tumbuh kembali dengan cepat, namun hati yang telah disakiti oleh perkataan, tersiksa dalam jangka waktu yang sangat lama.

123.
Janganlah menghina dan mencerca orang-orang yang cacat fisiknya, mereka yang buta huruf, orang yang hidup dalam kesengsaraan, orang sakit, orang yang tercela dan hina, orang yang tertimpa kecelakaan, orang miskin, orang bodoh; demikian juga janganlah mencela orang yang penakut, orang yang terkena aib ataupun yang diaibkan, janganlah kamu menghina makhluk-makhluk yang ada disemesta ini, sekalipun yang dianggap menjijikkan.

124.
Oleh karena itu, orang bijaksana yang berpegang teguh pada kebajikan dan kebenaran, tidak akan mencaci, tidak memfitnah, tidak mencela dan tidak berkata bohong. Manusia hendaknya selalu mempergiat dirinya dalam mengendalikan ucapannya dan selalu menjaga agar orang lain tidak terluka oleh ucapannya.

125.
Mereka yang memuji-muji orang tatkala berhadapan namun mencelanya dibelakang, mereka yang seperti ini adalah manusia behati keji dan akan dijauhkan dari kebahagiaan di dunia maupun di akherat.

126.
Oleh karena itu janglah kamu sekali-kali mengumpat orang, jangan mendengarkan  umpatan  orang, jauhkanlah diri dari situasi seperti ini (umpat-mengumpat).

127.
Orang yang jahat sekalipun takut hatinya kepada para pendusta dan pada mereka yang tempramental; sebab tiada bedanya mereka itu dengan ular yang dapat melahap anda secara dam-diam atau dengan bisanya yang mematikan.

128.
Amrtam caiva mrtyucca dvayam dehe prastititam, mrtyurapadyate mohat satyenapaddyate’mrtam

Sesungguhnya racun dan obat itu letaknya berdekatan dan semuanya ada dalam diri. Mereka yang bodoh dan gemar dengan kejahatan akan memperoleh racun, sebaliknya mereka yang teguh pada pelaksanaan kebajikan dan kebenaran niscaya akan memperoleh obat kehidupan/amerta.

129.
Persembahan kurban, amal sedekah, janji berpantang/sumpah batin, semua itu dapat membebaskan orang dari kesengsaraan hidup dan kemalangan; namun semua yang telah disebutkan di atas masih kalah oleh nilai kebajikan dan kebenaran dalam mencerahkan batin.

130.
Di antara kelahiran, mereka yang mengabdikan dirinya pada kebenaran adalah yang utama; di antara yang bersinar mataharilah yang paling terang; dalam anggota badan kepalalah yang paling utama; jika dalam perbuatan, pelaksanaan kebajikan yang berlandaskan pada kebenaran itulah yang mengatasi semuanya.

131.
Orang yang tidak menepati janji hingga membuat orang lain bersedih hati sesungguhnya tidak memiliki ketakutan akan siksa neraka, hendaknya janganlah mengobral janji jika tidak yakin dapat menepatinya.

132.
Ucapkanlah selalu kata-kata yang mengandung kebenaran, jangan mengucapkan kata-kata yang dapat melukai hati orang dan jangan mengumpat. Ucapkanlah selalu kata-kata yang bermanfaat, jangan mengucapkan kata-kata kasar, jangan kata-kata yang dipengaruhi oleh kemarahan, jangan kata-kata egois, jangan kata fitnahan, dan janganlah mengucapkan kata-kata yang bermakna jahat lainnya.

133.
Mereka yang cinta kebenaran tidak akan pernah berbohong, mereka akan selalu dengan jujur menyampaikan apa yang diketahuinya, orang seperti inilah disebut mencintai kebenaran

134.
Sesungguhnya kebenaran itu tidak selalu berada pada perkataan benar dan kesaksian jujur, jika ada orang yang berkata benar dan jujur namun menyebabkan kesengsaraan dan kematian makhluk hidup, perkataan seperti ini bohong namanya. Apabila ada orang yang berkata tidak benar dan tidak jujur demi menyelamatkan makhluk hidup dari kesengsaraan dan kematian, sesungguhnya mereka ini dikatagorikan sebagai orang bijaksana yang berkata benar dan jujur.

135.
Usahakanlah selalu kesejahteraan makhluk hidup di semesta ini, karena hanya dengan tetap terpeliharanya kesejahteraan dan kelangsungan hidup mereka itulah keberadaan dan keterjagaan semesta ini tetap terjamin.

Ahimsa (Tidak Menyakiti Mahluk)

136.
Jika orang sayang akan hidupnya, apa sebabnya mereka ingin membunuh makhluk lain, mereka sungguh tidak memakai ukuran dirinya. Jika orang selalu berharap kesenangan dan kedamaian, semestinya mereka terlebih dahulu memberi kesenangan dan kedamaian itu kepada yang lainnya.

137.
Sesungguhnya tubuh yang telah ditinggal oleh rohnya, tidak lagi memiliki kegunaan bagi yang lainnya, menyadari akan hal ini kenapa kita masih memelihara tubuh ini dengan cara membunuh makhluk-makhluk lainnya.

138.
Badan wadag yang telah mati akan menjadi abu, santapan ulat-ulat, atau hanya menjadi bangkai busuk yang dijauhi orang, menyadari hal ini kenapa manusia masih memelihara tubuhnya dengan cara membunuh lalu memakan bangkai-bangkai makhluk lainnya.

139.
Singkat kata usahakanlah kesejahteraan makhluk hidup itu, segala perkerjaan anda akan menjadi tanpa guna jika melalaikan kesejahteraan makhluk lainnya, meskipun anda melakukan pekerjaan berat atau ringan usahakanlah selalu kesejahteraan bagi yang lainnya.

140.
Seekor kijang beranak satu dua, sedangkan srigala beranak enam bahkan hingga tujuh ekor. Anak kijang memiliki peluang hidup lebih besar karena jarang yang mati, sedangkan anak srigala seiring waktu akan banyak yang mati. Demikian juga manusia, mereka yang memakan makanan dengan cara tidak membunuh makhluk lain berpeluang hidup lebih panjang dibanding mereka yang membunuh makhluk hidup untuk makanannya.

141.
Orang yang memperoleh kesejahteraan lahir batin adalah mereka yang tidak menyakiti makhluk lain, tidak menyiksa dan tidak membunuh. Mereka yang ingin memperoleh kesenangan lahir batin hendaknya selalu berusaha memberi kesenangan bagi makhluk-makhluk lainnya.

142.
Orang yang tidak menyakiti, menyiksa, dan membunuh makhluk lain, segala sesuatu yang dicita-citakannya, segala sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya, keinginan dan kehendaknya, akan dapat dengan mudah tercapai tanpa diikuti penderitaan.

143.
Jika ingin terlahir menjadi manusia rupawan, tanpa cacat, umur panjang, memperoleh kepandaian, keberanian, kesaktian, atau pengetahuan utama, janganlah menyiksa dan membunuh makhluk hidup lain.

144.
Orang yang melindungi makhluk hidup dari rasa takut, penyiksaan, dan kematian; mereka yang senantiasa berbelas kasih pada makhluk hidup akan mendapat balasan keselamatan dari segenap makhluk hidup di semesta ini, baik keselamatan di alam fana maupun di alam akherat nantinya.

145.
Memberi makanan kepada makhluk tentulah lebih rendah nilainya dibanding memberikan kasih sayang dan kebebasan hidup kepadanya.

146.
Kehidupan jauh lebih berharga dibanding apapun, maka dari itu hargailah hidup segala makhluk dengan mengasihi mereka, hendaknya manusia menghargai makhluk lain seperti ia menghargai dirinya.

147.
Mereka yang tidak dirasuki kemarahan, teguh pada kebenaran, tidak membunuh, tidak berbuat jahat, selalu berkelakuan suci; mereka yang seperti ini akan berumur panjang dikehidupan sekarang pun kelak dikelahiran berikutnya.

148.
Mereka yang kejam dan bengis pada makhluk lain akan berumur pendek, dan kelak dikehidupan berikutnya mereka akan lahir sebagai manusia berpenyakitan atau menjadi penyandang cacat.

Tidak Mencuri (Asteya)

149.
Mereka yang menggelapkan, mereka memeras, mereka yang mencuri, mereka yang merampok harta, kesenangan, dan kebenaran orang lain akan hidup dalam kenistaan, rasa was-was, dan ketakutan sepanjang hidupnya, sekarang maupun kelak dikelahiran mereka yang berikutnya.

150.
Mereka yang tidak melakukan perbuatan-perbuatan keji dan jahat, akan tetap merasa aman dan tenteram di tempat yang paling membahayakan sekalipun, mereka akan senantiasa dilindungi oleh perbuatan-perbuatannya yang bajik dan benar.

Perbuatan Susila

151.
Orang umum menyatakan bahwa harta adalah uang, emas, barang berharga, dan lain-lain; tapi bagi orang bijak harta yang sesungguhnya adalah kewelasasihan, perbuatan yang tidak menyakiti dan membunuh, kejujuran, perkataan yang benar dan kebajikan; harta seperti inilah yang tidak akan pernah dapat dicuri oleh para pencuri.

152.
Utamakanlah untuk menolong orang-orang yang sedang sakit, teraniaya, butuh perlindungan dan miskin.

Memperkosa

153.
Perbuatan memperkosa jangan hendaknya dilakukan oleh orang yang tidak ingin hidupnya berumur pendek.

154.
Orang yang ingin menjadi arif bijaksana, berkesusilaan, berilmu pengetahuan utama, dan bagi mereka yang ingin berumur panjang, jangan pernah berpikir untuk melakukan pemerkosaan.

155.
Mereka yang tidak takut bencana boleh memikirkan untuk bersenggama dengan istri orang; namun bagi yang takut akan datangnya bencana jangan sekali-kali berpikir untuk bersetubuh dengan istri oang lain.

Kesusilaan

156.
Janganlah dibiarkan pikiran, kata-kata dan perbuatan untuk melakukan hal-hal yang buruk. Kebaikan akan dibalas kebaikan sedangkan kejahatan pasti berpahala celaka dan kenistaan.

157.
Jangan berpikir untuk membunuh, jangan berkata-kata untuk membunuh, dan jangan melakukan perbuatan membunuh. Pikiran, perkataan, dan perbuatan hendaknya selalu dilakukan demi kasih sayang dan kebajikan.

158.
Karena sesungguhnya manusia diciptakan untuk melakukan kebajikan, kebenaran dan kesusilaan; mereka yang taat akan mampu memahami tujuan dari diciptakannya semesta raya ini oleh Tuhan.

159.
Ketiga dunia akan tunduk dan dapat dikuasai oleh orang yang beretika dan bertatasusila baik, tidak ada sesuatu apapun yang tidak dapat dicapai oleh orang yang teguh dan taat pada susila dan etika.

160.
Manusia menjadi utama karena kesusilaannya dan sesungguhnya kelahiran manusia bertujuan untuk melaksanakan kesusilaan itu; kekuasaan dan kebijaksanaan menjadi tanpa guna jika tidak dijabarkan dengan tindakan-tindakan yang susila.

161.
Walau agamawan yang telah lanjut usia sekalipun, jika ia tidak memiliki perilaku susila, untuk apa disegani; biarpun ia orang miskin dan dianggap hina, jika perilakunya susila ia sungguh patut dihormati dan disegani.

162.
Kebenaran dan kebajikan dijaga dengan perilaku yang baik; sastra-sastra suci dijaga dengan keteguhan hati dan pikiran; kerupawanan fisik dijaga dengan kebersihan; sedangkan kelahiran mulia dijaga dengan budi pekerti dan susila yang baik.

163.
Orang keturunan mulia dikenal melalui tingkah lakunya yang baik; walaupun asal-usul keturunan seseorang telah hilang termakan jaman, melalui kelakuannya yang susila pastilah ia keturunan orang-orang mulia.

164.
Walaupun keturunan dari agamawan mulia, keturunan dari ilmuwan pandai, semua menjadi sia-sia dan tanpa guna apabila berkelakuan jahat.

165.
Tiada sanak dan keluarga yang dapat membebaskan orang dari rasa sedih, pun tidak juga emas, kelahiran mulia, sastra-sastra, ataupun mantra-mantra; kesedihan hanya dapat dilenyapkanoleh diri sendiri melalui tindakan penuh susila.

Prihal Dana Punia (Sedekah)

166.
Mereka yang suka memberi pengetahuan kepada orang bodoh, menghibur orang yang sedang dirundung duka dan kesedihan, melindungi orang yang ketakutan dan terancam, suka membantu kesusahan orang-orang miskin; mereka yang seperti ini akan dimuliakan dalam hidup dan matinya.

167.
Biarpun orang itu pernah menjahatinya, pernah menghina, membuat sengsara, jika mereka datang padanya untuk minta pertolongan, akan tetap ditolong oleh orang yang berbudi luhur dan utama.

168.
Produsen berhubungan dengan distibutor dan konsumen; dokter berhubungan dengan apoteker dan pasien; suami berpasangan dengan istri; sedangkan bagi mereka yang sekarat dan hampir mati, sedekah di masa sehat itulah yang selalu menemaninya.

169.
Sedekah yang dilakukan, pahalanya tidak akan dinikmati oleh ayah, ibu, atau sanak saudara lainnya, kebajikan itu akan dinikmati oleh si pelaku sedekah itu sendiri.

170.
Yang disebut sedekah oleh orang suci bijak adalah sifat yang tanpa iri dan dengki, serta ketaatan pada kebajikan dan kebenaran; sebab dari perilaku yang mulia itu akan diperolehlah pahala yang melimpah ruah.

171.
Orang suci berkata: “kenikmatan hidup di bumi adalah pahala dari sedekah; kebijaksanaan dan kesadaran adalah pahala bakti kepada orang tua, sedangkan tindakan yang tidak membunuh dan menyiksa makhluk hidup menyebabkan umur panjang”

172.
Di antara apapun di bumi ini, sangat sulitlah untuk bersedekah, sebab harta itu diperoleh dari hasil kerja keras; walau sesulit apapun janganlah pernah lupa untuk bersedekah.

173.
Orang-orang utama adalah orang yang dengan suka rela memberi sedekah kepada orang-orang yang memerlukan, tidak perduli besar ataukah kecil pemberian itu.

174.
Tujuan utama dari harta dan kekayaan rahmat Tuhan adalah untuk disedekahkan, namun apabila sedekah itu digembar-gemborkan, hilanglah makna dari sedekah yang dilakukan.

175.
Mereka yang berpengetahuan, akan merelakan harta kekayaannya untuk kepentingan dan kesejahteraan umum, bahkan bila perlu nyawanyapun akan dikorbankan; mereka yang berpengetahuan menyadari bahwa tiada yang kekal dalam hidup ini, maka dari itu demi kepentingan dan kesejahteraan umum, jangankan harta, nyawa akan rela diserahkannya.

176.
Ada orang dapat mempertahankan kekayaan dalam jangka waktu yang lama, yang lainnya hanya sekejap menjadi kaya; yang lama pasti panjang amal sedekahnya, sedangkan yang hanya sekejap tentu sekejap pula amal sedekahnya. Maka dari itu janganlah kikir, lakukan sedekah semampunya, dan nikmatilah kekayaanmu dalam jangka waktu yang lama.

177.
Pernikahan berguna untuk melanjutkan keturunan, kitab suci berguna untuk menuntun pada kebajikan dan kebenaran, sedangkan kekayaan itu boleh dinikmati; selebihnya disedekahkan.

178.
Apa gunanya harta kekayaan itu dinikmati jika tanpa adanya sedekah, apa gunanya kesaktian jika tidak untuk mengalahkan musuh, apa gunanya sastra-sastra itu jika tidak untuk menuntun pada perbuatan bajik dan benar, apa gunanya juga kebijaksanaan jika tidak untuk menaklukkan hawa nafsu yang negatif.

179.
Maka dari itu, orang kaya yang tidak melakukan sedekah, sesungguhnya ia telah mati dalam hidupnya, hanya lantaran masih bernafas saja ia dikatakan hidup.

180.
Jika tidak memiliki kekayaan materi, ciptakanlah rasa aman bagi makhluk hidup, sebab jika seseorang dapat membuat makhluk hidup terhindar dari ketakutan, inilah bentuk sedekah yang dapat mengalahkan sedekah-sedekah yang lain.

181.
Sedekah dapat dilakukan kapanpun, di manapun, dan dalam bentuk apapun. Sedekah tanah, sedekah kesempatan, wahyu suci, harta benda, dll.

182.
Sedekah makanan dan minuman kepada orang yang kelaparan dan kehausan, sedekah selimut dan pakaian kepada orang yang kedinginan, nilainya sama dengan sedekah dalam bentuk harta kekayaan.

183.
Dipercaya sedekah akan mendatangkan pahala yang besar apabila dilakukan ketika matahari berada di bagian paling selatan katulistiwa, ketika matahari berada di bagian paling utara katulistiwa, ketika matahari berada tepat digaris katulistiwa, pada saat gerhana bulan dan gerhana matahari.

184.
Sedekah yang tepat dan diberikan kepada orang yang tepat sudah pasti akan mendatangkan pahala yang besar, sedangkan sedekah yang tidak tepat dan diberikan kepada orang yang tidak tepat, walaupun dalam jumlah yang besar, akan mendatangkan pahala yang kecil. Intinya, besar kecil pahala tidak tergantung pada besar kecil sedekah, tapi pada tepat atau tidaknya sedekah itu.

185.
Jangan bersedekah kepada orang yang jahat dan kejam, jangan menggembar-gemborkan sedekah yang dilakukan. Jangan menerima sedekah dari orang jahat dan kejam, serta jangan pula berlindung kepadanya.

186.
Sedekah jangan diberikan secara ngawur, jika ingin bersedekah hendaknya berusahalah mencari orang yang benar-benar pantas menerimanya.

187.
Pahala yang besar akan segera didapatkan jika sedekah diberikan kepada orang miskin yang baik, orang-orang yang hidup kelaparan, dan kepada orang yang benar-benar memerlukan bantuan.

188.
Hendaknya sedekah diberikan bukan karena ingin mendapatkan pujian, bukan karena rasa takut, dan tidak menyimpan motif atau tujuan-tujuan tertentu.

189.
Jika ayah dan ibu meminta pemberian, jangankan dalam bentuk harta, nyawapun hendaknya dikorbankan saja.

190.
Utang kepada orang tua tidak akan terbalaskan, walaupun si anak berusaha membalasnya setiap hari dalam seratus tahun. Sebab demikian banyak penderitaan, pengorbanan, dan usaha-usaha yang dilakukan oleh ibu dan ayah untuk membesarkan anak-anaknya.

191.
Hanya orang miskinlah yang patut diberikan sedekah, bukan kepada orang kaya. Seperti halnya obat hanya pantas diberikan kepada mereka yang sakit, menjadi tiada guna jika diberikan kepada yang sehat.

192.
Jika ada orang miskin, namun lantaran malu, ia tidak mau meminta sedekah; sang dermawan haruslah berusaha agar si miskin itu mau meminta dan menerima sedekahnya.

193.
Jangan sekali-kali marah kepada orang yang meminta sedekah, jangan mengusirnya, jangan menolak untuk memberi sedekah walau mungkin yang meminta sedekah itu dianggap hina oleh masyarakat, bahkan sedekah yang diberikan kepada anjingpun tidak akan sia-sia.

194.
Jangan gegabah mencela dan menolak kedatangan orang yang meminta sedekah, jangan pernah menolak harapan-harapan mereka; sebab seorang peminta-minta dengan harapannya akan sedekah, ia berkeadaan sama dengan seorang guru yang datang dengan ajaran tentang kebajikan dan kebenaran. Mereka yang datang meminta sedekah layaknya matahari yang datang setiap hari untuk menghilangkan kegelapan; bagaikan seorang tukang bersih kaca yang bertugas setiap hari untuk membersihkan kaca dari debu-debunya.

195.
Tidak ada dosa yang lebih besar dari orang yang berkata ‘tidak’ kepada orang yang meminta sedekah, bahkan dosa mereka yang berkata ‘tidak’ akan ditambahkan dengan dosa dari si peminta-minta itu.

196.
Orang miskin yang datang meminta sedekah kepada si kaya sesungguhnya adalah cermin guru yang bijaksana, sebab kedatangan si miskin seolah-olah menasehati si kaya agar menjaga hartanya dengan sedekah; sebab jika si kaya menjadi kikir, kekayaannya akan hilang dan ia akan menjadi miskin.

197.
Janganlah selalu memikirkan adanya pahala atau tidak adanya pahala saat bersedekah, hendaknya sedekah dilakukan semampu yang bisa dilakukan dan sedekah diberikan dalam bentuk yang layak disedekahkan. Sedekah seperti ini pasti berpahala.

198.
Adapun puncak dari sedekah adalah dalam bentuk emas (harta), sapi (ternak) dan tanah (tempat hunian atau tempat bercocok tanam). Sedekah seperti ini akan melenyapkan malapetaka dan mengantar ke surga.

199.
Hendaknya sedekah yang diberikan berupa uang atau barang-barang berharga, seperti emas, perak, permata, kain, dan tanah. Yang seperti inilah patut disedekahkan.

200.
Jika menyedekahkan lembu bule (ternak) hendaknya tanduk lembu tersebut dihiasi dengan emas beserta sebuah bejana dari kuningan untuk penampung susunya. Sedekah seperti ini akan menjadi nandini (lembu yang dapat memenuhi segala keinginan) di alam akherat nantinya.

201.
Jika yang disedekahkan dalam bentuk rempah-rempah (obat-obatan), dupa, harum-haruman (sarana sembahyang), pakaian atau kain, mereka yang melakukan sedekah seperti ini kelak akan terlahir menjadi orang yang berwajah tampan dan berfisik sehat.

202.
Inilah sedekah yang mudah cara memperolehnya, minyak, umbi-umbian (bahan makanan), air, lulur kaki, atau alat penerangan; mereka yang bersedekah seperti ini akan hidup senang, tenteram dan damai dengan sanak keluarganya.

203.
Jika ada orang yang memberikan sedekah air kepada orang-orang yang sedang kehausan, di akherat ditempat yang paling sulit airpun mereka yang bersedekah air tidak akan pernah kekurangan air.

204.
Adapun orang yang menyedekahkan penerangan kepada orang yang sedang melakukan perjalanan malam, kelak dikehidupan berikutnya akan memiliki mata yang bercahaya, wajah yang berseri dan karisma yang kuat.

205.
Jika ada orang yang menyedekahkan payung kepada orang yang kehujanan, di alam akherat mereka akan diormati. Jika ada orang yang menyedekahkan alas kaki kepada orang yang sedang berjalan dalam kepanasan, di alam akherat ia akan dihormati oleh para Dewa.

207.
Besar kecil pahala dari sedekah dan derma, bukanlah disebabkan oleh banyak atau kurangnya jumlah yang dikorbankan, namun ikhlas atau tidak ikhlas hati dari sipemberi kala itu.

208.
Barang yang disenangi, barang yang disayangi, barang-barang yang berharga, barang yang berkeadaan seperti inilah yang paling baik untuk disedekahkan.

209.
Sedekah yang diberikan dengan tanpa diminta terlebih dahulu tergolong sedekah tingkat utama, sedangkan sedekah yang diberikan lantaran ada permintaan tergolong sedekah dalam tingkatan menengah.

210.
Sedekah yang diberikan dengan tidak tulus ikhlas, terpaksa, atau dengan kata-kata kasar/hinaan tergolong sedekah tingkat rendah dengan pahala sangat sedikit.

211.
Sedekah yang diberikan dengan motif/syarat tertentu (negatif) dan dilakukan dengan tidak tulus ikhlas adalah sedekah dalam tingkatan hina dan tidak ada pahalanya.

212.
Untuk berlatih, sedekahkanlah terlebih dahulu barang-barang yang kurang berharga, berikutnya barang berharga, setelah terbiasa barulah menyedekahkan barang-barang yang sangat berharga dan anda sukai.

213.
Apabila seseorang menasehati orang lain untuk bersedekah, sedangkan ia sendiri tidak melakukannya, maka apa yang dicita-citakannya, apa yang diidam-idamkannya tidak pernah akan terwujud.

214.
Jika ada orang bertekad dan berjanji untuk berbuat kebajikan (berdana atau bersedekah), lalu ia tidak menepati janjinya itu, maka akan hilanglah pahala hasil dari sembahyangnya dan pahala dari amal dan jasanya.

215.
Pahala dari ketekunan memuja Tuhan dapat hilang seketika jika tidak menepati janji untuk bersedekah.

216.
Pahala dari amal dan jasa yang dilakukan seketika akan hilang jika tidak menepati janji untuk bersedekah.

217.
Mereka yang dalam hidupnya tidak melakukan perbuatan-perbuatan bajik dan benar akan takut menghadapi kematian, namun sebaliknya mereka yang telah melakukan perbuatan bajik dan benar justru akan merindukan datangnya kematian di hari tuanya.

218.
Orang yang belum melakukan perbuatan bajik dan benar dalam hidupnya, seringkali dapat tidur pulas. Masihkah mereka dapat tidur pulas, jika merenungi dan memahami apabila kematian itu dapat merenggut hidupnya setiap saat?

219.
Apabila ada yang mendermakan makanan dengan tulus ikhlas, kepada orang yang sedang kelelahan, haus dan lapar; mereka akan memperoleh pahala yang besar di kemudian hari.

220.
Jika ada orang yang hidup miskin, sering kelaparan namun malu untuk meminta bantuan, lalu ada orang yang tanpa dengan diminta membantu mereka, amat besarlah pahala yang akan diperoleh si dermawan di kemudian hari.

221.
Sedekah makanan bagi mereka yang kelaparan dan kehausan dapat mengeyangkan seketika itu juga, bagi yang memberi sedekah, pahalanya dapat dinikmati seketika itu juga melalui ungkapan terimakasih yang tulus dari yang dibantunya dan menimbulkan perasaan senang di hati si pemberi dan sipenerima.

222.
Bagi yang bersedih hati hiburlah, kepada yang kelelahan sediakan tempat istirahat; bagi yang kehausan berilah minuman, kepada yang kelaparan berilah makanan.

223.
Apapun bentuk pemberian, derma, ataukah sedekah, hendaknya selalu disertai dengan tutur kata yang manis, sapaan yang ramah, dan ketulus ikhlasan hati.

Tentang Pergaulan Hidup

224.
Tiga yang akan selalu tersedia di rumah orang yang baik budi, di antaranya: 1) makanan; 2) keramahan; dan 3) perlindungan.

225.
Mereka yang tidak melakukan yadnya/persembahan kehadapan Tuhan dan mereka yang tidak menjamu orang-orang yang bertamu ke rumahnya, manusia yang seperti ini tidak ada bedanya dengan raksasa.

226.
Kesenangan yang diperoleh hendaknya dinikmati bersama, makanan yang dimiliki hendaknya dinikmati bersama, keputusan hendaknya diambil bersama, demikian juga permasalahan hendaknya dipecahkan bersama; sungguh akan terasa janggal bangun paling dulu sementara yang lain masih tidur pulas.

Etika Anak Terhadap Orang Tua

227.
Jangan hendaknya anda menjadikan ayah dan ibu anda layakya pembantu atau tukang masak, jangan makan sebelum ayah dan ibu anda makan, mereka yang baru makan setelah mendapat ijin dari ayah dan ibunya akan hidup dalam kesejahteraan di alam fana dan akherat.

228.
Seorang putra sejati adalah mereka yang melindungi orang-orang yang kesusahan, menyelamatkan orang-orang yang sengsara, dan bersedekah kepada orang-orang miskin.

229.
Seorang putra sejati adalah orang yang menjadi pelindung dari sanak saudaranya, ia hendaknya seperti Indra dewa hujan yang melindungi dan memelihara kelangsungan hidup di bumi, bagaikan pohon-pohon yang menjadi habitat burung-burung; demikianlah ia hendaknya menjadi sumber kehidupan dari orang-orang seisi rumahnya.

230.
Jika ada orang kaya yang tidak suka membantu sanak saudaranya, bahkan mereka membiarkan keluarganya hidup terlantar dan miskin; orang kaya yang seperti ini sungguh-sungguh berkeadaan hina di hadapan Tuhan.

231.
Ada empat kriteria orang yang patut diajak tinggal di dalam rumah anda, yakni: 1) seorang kerabat yang menderita; 2) orang bajik yang jatuh sengsara; 3) sahabat yang miskin; 4) adik perempuan yang mandul atau disia-siakan suaminya.

232.
Sedangkan yang tidak patut diajak berdiam di dalam rumah adalah: 1) orang yang pemalas; 2) orang yang rakus; 3) orang yang berkepribadian tercela; 4) orang yang licik; 5) orang yang selalu menentang peraturan; 6) orang yang tidak perduli keselamatan orang lain; 7) orang yang tidak tahu kelayakan waktu dan tempat; dan 8) orang yang suka berpakaian tidak senonoh.

233.
Janganlah ragu-ragu untuk mengajak seorang rohaniawan yang suci untuk tinggal dalam rumah anda, seorang guru yang memahami ilmu pengetahuan, siswa yang berbudi luhur, saudara sedarah, kerabat dan sahabat yang berkelakuan baik.

234.
Jika ada orang yang dengan pikiran, perkataan, dan perbuatannya menghianati guru, menghianati ibu dan ayahnya, dosa mereka ini sangatlah besar, bahkan lebih besar dari dosa akibat menggugurkan kandungan.

Bersambung

 
Maintained by rumahmedia