21.01.2012 16:47 WITA - BELAJAR JURNALISTIK
Teknik Editing

Penyuntingan atau editing merupakan bagian penting dalam aktivitas tulis-menulis. Dalam kerja jurnalistik atau penerbitan buku, aktivitas penyuntingan tidak boleh diabaikan.

Pada umumnya proses editing dilakukan oleh editor. Dalam kerja jurnalistik, misalnya, seorang redaktur menyunting atau mengedit tulisan atau laporan reporter. Dalam penerbitan buku, seorang editor menyunting naskah penulis. Jika kita menulis makalah untuk seminar, misalnya, apakah kita bisa menjadi penulis sekaligus editor? Atau contoh lain, bila kita menulis laporan publik, apakah kita bisa sekaligus menjadi editor? Jawabnya: bisa. Inilah yang dinamakan self-editing.

Prinsip Editing

Editing berkaitan dengan “cara menyunting” dan “apa yang disunting”. Aktivitas yang pertama, yakni cara menyunting, berkaitan dengan menata kata dan mengemas makna. Menata kata merujuk ke aktivitas memperbaiki secara-total bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat). Ejaan berkaitan dengan seluk-beluk pungtuasi atau peletakan tanda baca secara cermat plus akurat (bagaimana meletakkan koma, titik koma, dan semacamnya, supaya tidak terjadi kesalahpahaman komunikasi) dan pemeriksaan penggunaan kata sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Diksi berkaitan dengan pemilihan kata. Adapun struktur kalimat berkaitan dengan kelogisan sekaligus efektivitas dan efisiensi penggunaan kata. Adapun yang dimaksud mengemas makna adalah aktivitas kreatif dalam menyajikan hasil aktivitas menata kata agar menarik.

Berkaitan dengan ”apa yang disunting”, ada dua jenis ”bahan abstrak” yang harus diperhatikan. Pertama, bahan abstrak yang diungkapkan oleh simbol-simbol bahasa dalam bentuk kata, kalimat, alinea atau paragraf, bab, bagian, dan seterusnya. Kedua, “bahan abstrak” yang mewujud dalam bentuk gagasan.

Dalam penyuntingan, editor harus memperhatikan tiga segi, yakni (1) sistematika penyajian, (2) isi, dan (3) bahasa. Soal pertama, sistematika penyajian, berkaitan dengan kelogisan. Seorang penyunting harus mampu menampilkan gagasan seorang pengarang menjadi frame-frame atau sequence-sequence yang mengalir lancar dan mudah diikuti oleh nalar.

Soal kedua, isi, seorang editor dituntut untuk memperhatikan akurasi (ketepatan), substansi tulisan, data dan fakta. Apakah data dan fakta yang diungkap dalam tulisan sudah benar, editor harus betul-betul memahami persoalan. Maka dari itu, di sebuah kantor media massa atau penerbitan, ada editor yang khusus pada bidang tertentu, yang menguasai bidangnya, misalnya editor politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain.

Soal ketiga, bahasa, seorang editor harus memiliki kemampuan, pertama, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Untuk mendukung kemampuan ini, editor harus menguasai tata bahasa, ejaan dan tanda baca. Dengan demikian, editor bisa memilih kata yang tepat sesuai dengan konteks wacana. Juga, ia bisa membuat struktur kalimat yang efisien dan efektif. Apabila ketika memeriksa naskah dan menemukan ketidaklogisan kalimat, editor bisa memperbaiki kalimat-kalimat yang tidak nalar tersebut. Kedua, editor harus mengikuti perkembangan bahasa. Karena, bahasa selalu berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat dan zaman. Ketiga, editor, terutama di media massa, harus mengikuti perkembangan informasi atau trend isu yang berkembang di masyarakat.  Keempat, editor disyaratkan memiliki keluasan wawasan. Ia perlu banyak membaca, baik membaca buku maupun membaca keadaan.

Menemukan dan Memperbaiki Kesalahan

Ketika kita menyunting berita, mungkin kita akan menemukan beberapa kesalahan yang terdapat dalam berita itu. Kesalahan yang bisa timbul, pertama, kesalahan yang bersifat teknis, “salah ketik”, misalnya. Kedua, kesalahan dalam hal isi atau substansi. Contohnya salah menuliskan data: angka tahun, umur seseorang, ejaan nama orang. Ketiga, kesalahan dalam penggunaan bahasa. Kesalahan bahasa tidak boleh dianggap sepele. Sebab, penggunaan bahasa yang salah bisa berakibat informasi yang disampaikan salah. Informasi tak akan sampai ke pembaca dengan efektif  jika sarana yang dipergunakan kacau. Dengan demikian, kesalahan bahasa bisa berakibat terjadinya kesalahan isi atau substansi.

Selain itu, mungkin tulisan tersebut belummenggunakan gaya bahasa yang baik. Gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur, yakni kejujuran, sopan-santun, dan menarik. Yang dimaksud dengan kejujuran dalam bahasa berarti: kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit, adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran.

Sopan-santun dalam berbahasa maksudnya adalah menghormati pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan. Menyampaikan sesuatu secara jelas berarti tidak membuat pembaca memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis. Selain itu, pembaca tidak perlu membaca sesuatu secara panjang-lebar kalau hal itu bisa diungkapkan dalam beberapa rangkaian kata. Kejelasan di sini menyangkut (1) kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat; (2) kejelasan dalam korespondensi dengan fakta yang diungkapkan melalui kata-kata atau kalimat; (3) kejelasan dalam pengurutan ide secara logis.

Yang dimaksud kesingkatan dapat dicapai melalui usaha untuk mempergunakan kata-kata secara efisien, meniadakan penggunaan dua kata atau lebih yang bersinonim secara longgar, meniadakan repetisi yang tidak perlu. Berikut beberapa kiat dalam melakukan editing.

 

Perbaiki Kesalahan Teknis dan Ejaan

Kesalahanyang sering terjadi adalah kesalahan yang bersifat teknis, misalnya salah ketik. Demikian juga dengan kesalahan ejaan. Untuk memperbaiki kesalahan ini, selain membetulkan kata yang “salah ketik”, juga membetulkan ejaan dan tanda baca (pungtuasi). Untuk itu, kita harus mengacu kepada Pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dengan demikian, kita bisa menentukan mana kata yang baku dan tidak baku. Dan, secara konsisten kita menggunakan kata baku tersebut, juga konsisten menggunakan istilah, penyebutan gelar, tanggal, umur.

Perhatikan contoh kata baku dan tidak baku di bawah ini.

Dianjurkan (Baku)         Tidak Dianjurkan (Tidak Baku)
peduli                               perduli

andalan                             handalan
diimbau                            dihimbau
imbauan                                   himbauan
anutan                               anutan
andal                                 andal

persentase                         prosentase
nakhoda                            nahkoda
takhta                               tahta
sopir                                 supir
lubang                              lobang
berpikir                             berfikir
paham                               paham
dimungkiri                       dipungkiri
sekadar                             sekedar
konkret                             kongkret
kongres                             konggres
zaman                               jaman
iktikad                              tikad
telanjur                             terlanjur

 

Perhatikan Pilihan Kata (Diksi)

Dalam menyunting sebuah berita, kita harus memperhatikan apakah pilihan kata (diksi) sudah tepat. Berkaitan dengan hal ini, pengetahuan tentang makna kata sangat diperlukan. Kata yang tidak tepat dalam konteks kalimat tertentu akan mempunyai makna yang berbeda, yang bisa menimbulkan salah penafsiran. Perhatikan contoh kalimat berikut.

1. Pekerja migran rentan terhadap perlindungan hukumnya.

Kata rentan memiliki makna mudah terkena penyakit, peka (mudah merasa), misalnya ‘rentan terhadap bahaya kebakaran’, ‘rentan terhadap penyakit’. Dengan demikian, penggunaan kata rentan dalam kalimat tersebut tidak tepat. Perbaikan atas kalimat tersebut adalah sebagai berikut.

1b. Perlindungan hukum bagi pekerja migran sangat minim.

Ketepatan pilihan katamempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca, seperti yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis. Untuk mencapai ketepatan pilihan kata, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi.Kata denotatif dan konotatif dibedakan berdasarkan maknanya. Kata konotatif memiliki makna tambahan atau nilai rasa. Jika kita dihadapkan pada dua kata yang mempunyai makna mirip, kita harus menetapkan salah satu yang paling tepat untuk mencapai suatu maksud. Kalau hanya pengertian dasar yang diinginkan, kita harus memilih kata denotatif; kalau kita menghendaki reaksi emosional tertentu, kita mempergunakan kata konotatif sesuai dengan sasaran yang akan dicapainya.

Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim. Penulis harus berhati-hati memilih kata dari sekian sinonim yang ada untuk menyampaikan apa yang diinginkannya sehingga tidak timbul salah interpretasi.

Bedakan kata umum dan kata khusus. Kata khusus lebih tepat menggambarkan sesuatu daripada kata umum.

Perhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.

Repetisi yang Tidak Perlu

Dalam naskah berita, mungkin kita temukan pengulangan (repetisi) yang tidak perlu. Pengulangan tersebut bisa berupa kata dalam kalimat, atau kalimat dalam sebuah paragraf.

Perhatikan kalimat berikut.

2. Akankahkasus ini akan diselesaikan secara tuntas?

Ada dua kata akan dalam kalimat tersebut yang sifatnya pengulangan yang tidak perlu. Bila salah satu dihapus, kalimat tersebut tidak akan berubah makna.


Jadi, perbaikan kalimat (2) adalah sebagai berikut.

2a.  Akankahkasus ini diselesaikan secara tuntas?

2b. Apakah kasus ini akan diselesaikan secara tuntas?

Berikut contoh pengulangan kalimat dalam satu paragraf.

3.  Dalam menangani kasus korupsi, pelanggaran hak cipta, ataupun pelanggaran etika profesi, peran pihak berwenang sangat diperlukan. Peran pihak yang berwenang memang diperlukan dalam menangani kasus-kasus tersebut.

 

Pada contoh kalimat (3) terdapat “pengulangan kalimat” yang tidak perlu. Untuk memperbaikinya, kalimat yang kedua bisa dihilangkan.

 

Hindari Pola Sirkumlokusi

Yang dimaksud dengan pola sirkumlokusi adalah definisi yang mengulang kata yang dibatasi atau mengulang gagasan yang sama, yaitu sinonimnya, dalam definiensnya. Contoh: Sebab-sebab peperangan adalah faktor-faktor yang menyebabkan konflik bersenjata. Kata sebab sama maknanya dengan faktor. Dengan demikian, kita tidak keluar dari persoalan yang seharusnya dijelaskan atau dibatasi pengertiannya. Dengan batasan itu kita sebenarnya sama sekali tidak memberikan jawaban.

Hindari Gejala Pleonasme

Yang dimaksud pleonasme adalah penggunaan kata-kata yang lebih dari yang diperlukan atau disebut juga bentuk yang mubazir. Bentuk yang mubazir itu, bila dihilangkan salah satu unsurnya, maknanya tetap utuh. Berikut sejumlah contoh pleonasme yang sebaiknya diperbaiki ketika kita melakukan penyuntingan.         

 

4. Lembaga ini didirikan hanyauntuk mengantisipasi kerusuhan Mei saja.

 Perbaikan:

4a. Lembaga ini didirikan hanya untuk mengantisipasi kerusuhan Mei.

4b. Lembaga ini didirikan untuk mengantisipasi kerusuhan Mei saja?


5. Banyak orang-orang menunggu bus di tepi jalan.

Perbaikan:
5a. Banyak orang menunggu bus di tepi jalan.

5b. Orang-orang menunggu bus di tepi jalan.

 

6. Pabrik-pabrik yang besar-besar telah dibangun di negara itu.

Perbaikan:
6a. Pabrik yang besar-besar telah dibangun di negara itu.


7. Tentara dan gerilyawan saling tembak-menembak di tepi hutan.

Perbaikan:
7a. Tentara dan gerilyawan saling menembak di tepi hutan.

7b. Tentara dan gerilyawan tembak-menembak di tepi hutan.


8. Bahasaadalah merupakan sarana komunikasi yang sangat penting.

Perbaikan:
8a
. Bahasaadalah sarana komunikasi yang sangat penting.

8b. Bahasamerupakan sarana komunikasi yang sangat penting.

 

Perhatikan Logika Kalimat

      

Contoh kalimat yang tidak nalar:

9. Iring-iringan jenazahitu berjalan menuju tempat pemakaman.

10.Minuman ini bisa menghilangkan sariawan, panas dalam, hidung tersumbat dan bibir pecah-pecah.

11.Dokter berusaha keras menyembuhkan penyakit pasiennya walaupun tampaknya usaha itu akan sia-sia.

12. Tersangka pelaku korupsi itu berhasil ditangkap polisi.

13. Ia juga memastikan, polisi telah menangkap orang yang salah.

 

Perbaikan:

 

Ketidaknalaran pada kalimat (9) terletak pada frasa iring-iringan jenazah. Jenazah tidak bisa berjalan beriring-iringan. Tentu yang dimaksud adalah pengantar jenazah atau pelayat. Perbaikannya adalah sebagai berikut.

 

9a.Iring-iringan pengantar jenazahitu berjalan menuju tempat pemakaman.


Pada kalimat (10) yang dihilangkan ialah sariawan dan panas dalam. Adapun hidung tersumbat dan bibir pecah-pecah bukan untuk dihilangkan, melainkan disembuhkan. Perbaikan kalimat (10) adalah sebagai berikut.

 

10a.Minuman ini bisa menghilangkan sariawan, panas dalam, dan mengobati hidung tersumbat dan bibir pecah-pecah.

 

Pada kalimat (11) tentu yang dimaksud oleh penulisnya adalah menyembuhkan pasien, bukan menyembuhkan penyakit, sehingga kalimat tersebut menjadi:

 

11a.Dokter berusaha keras menyembuhkan pasiennya walaupun tampaknya usaha itu akan sia-sia.

 

11b. Dokter berusaha keras membasmi penyakit pasiennya walaupun tampaknya usaha itu akan sia-sia.

      

Ketidaklogisan yang terdapat pada kalimat (12) terletak pada pertalian makna tersangka pelaku korupsi dengan makna berhasil ditangkap polisi. Betulkah tersangka pelaku korupsi merasa berhasil ditangkap polisi? Tentu tidak. Tertangkapnya tersangka pelaku korupsi tersebut bukanlah suatu keberhasilan bagi tersangka pelaku korupsi, melainkan suatu keberhasilan bagi polisi yang memang berusaha menangkapnya. Sehubungan dengan itu, maka bentuk kalimat logisnya adalah:

12a.Polisi berhasil menangkap tersangka pelaku korupsi.

12b.Tersangka pelaku korupsi telah ditangkap penduduk.

 

Pada kalimat (13), terdapat keterangan orang yang salah yang bisa menimbulkan salah penafsiran. Kalimat tersebut bisa bermakna polisi menangkap orang yang berbuat salah, atau polisi melakukan kesalahan dalam menangkap orang. Jika yang dimaksud adalah polisi yang melakukan kesalahan dalam menangkap orang, kalimat (13) diperbaiki sebagai berikut.

13a. Ia juga memastikan, polisi telah salah menangkap orang.

13b. Ia juga memastikan, polisi salah tangkap.

 

Bahasa Artifisial

Tulisan jurnalistik tentu berbeda dengan puisi atau prosa liris, misalnya. Dalam penulisan jurnalistik, yang ditekankan adalah apa yang ditulis, bukan bagaimana seseorang menuliskan sesuatu. Karena itu, ketika kita menyunting tulisan, perhatikan ragam bahasa yang dipergunakan. Jika masih kita temukan bahasa artifisial, maka kita harus memperbaikinya.

Yang dimaksud bahasa artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni. Bahasa yang artifisial tidak terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi dalam pemakaiannya untuk menyatakan sesuatu maksud.

 

Contoh bahasa artifisial:

 

14. Saat itu, malam bergerak menuju pagi. Langit baru saja berhenti melepaskan hujannya.

 

Kalimat tersebut bisa diubah seperti berikut.

 

14b. Saat itu menjelang pagi, hujan baru saja reda.

 

8. Akurasi

       Ketepatan atau akurasi sangat penting dalam jurnalistik. Karena itu, editor atau redaktur harus betul-betul memperhatikan akurasi yang menyangkut data, fakta, rujukan, ejaan nama orang, umur, waktu (tanggal, bulan, tahun), dan sebagainya.

 
Maintained by rumahmedia