13.09.2014 15:44 WITA - DHARMA WACANA
Sisi Lain dari Tumpek Wayang

Hari ini Sabtu Kliwon wuku Wayang lebih populer disebut Tumpek Wayang. Di banyak tempat dilakukan ruwatan, baik secara sendiri-sendiri maupun secara masal dengan menggelar wayang kulit Sapuh Leger. Anak-anak yang lahir di wuku Wayang haruslah diruwat dan Sabtu ini adalah puncaknya.

Hal seperti ini sudah banyak diketahui masyarakat. Dasar sastra yang dipakai adalah lontar Sapuh Leger. Menurut lontar itu, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak yang dilahirkan pada wuku wayang. Dan masyarakat Bali yang beragama Hindu percaya bahwa setiap anak yang lahir pada wuku Wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan upacara sapuh leger serta menggelar wayang. Memang jika ruwatan (melukat) di lakukan secara sederhana boleh saja tak sampai mementaskan wayang kulit, tetapi tetap dibutuhkan tirtha dari seorang dalang.

Tentang ruwatan dan kisah Bethara Kala mengejar anak yang mau dimangsanya tak perlu lagi diuraikan. Lebih baik saat ini kita melihat sisi-sisi lain dari ritual Tumpek Wayang. Apa misalnya? Tumpek Wayang juga bermakna juga sebagai ''hari kesenian''. Pada hari ini juga ada ritual semacam “otonan” untuk berbagai jenis kesenian selain wayang, seperti  barong, rangda, topeng. Juga ada ritual untuk berbagai jenis gamelan, tak hanya gender yang dipakai dalam pementasan wayang. Dalam hal ini yang dipuja adalah Dewa Iswara.. 

Sisi lain berikutnya mari kita melihat bagaimana Tumpek Wayang dimaknai di masyarakat Jawa yang tidak peduli apakah mereka penganut Hindu atau penganut agama lain tetapi masih dalam tradisi yang disebut Kejawen. Seperti diketahui wayang kulit Jawa tetap berkembang dengan baik, pementasannya bahkan masih bersifat tradisional dengan pergelaran semalam suntuk. Beda dengan di Bali yang pementasan wayang paling lama tiga jam atau kurang.

Ruwatan anak di Jawa juga berlangsung. Tetapi waktu ruwatan ini tak selalu pada wuku Wayang, bisa di wuku yang lainnya. Tentu saja wuku-wuku itu sama dengan wuku Bali karena sumbernya memang satu.

Cerita dalam adegan wayang pun hampir mirip dengan cerita Bethara Kala di Bali yang memangsa anak yang lahir pada wuku tertentu. Perbedaan yang terjadi tak mengurangi arti dari makna ruwatan itu.

Dikisahkan bahwa Bethara Guru dan istrinya, Dewi Uma, terbang menjelajah dunia mengendarai Lembu Andini. Dalam perjalanannya itu Bethara Guru bersenggama dengan istrinya di atas kendaraan suci Lembu Andini, sehingga Dewi Uma hamil. Ketika pulang ke kahyangan Batara Guru kaget karena istinya hamil. Bethara Guru justru memarahi Dewi Uma. Bethara Guru memaki dan menyumpah istrinya sebagai bersifat Butha (Butho di Jawa). Selesai menyumpah itu ternyata Dewi Uma berubah menjadi raksasa.

Bethara Guru kemudian mengusir Dewi Uma yang sudah berubah wujud menjadi raksasa. Tadinya mereka berada di kahyangan Jongring Salaka kini Dewi Uma diusir untuk tinggal di kahyangan Gondomayit. Nah, dalam wujud raksasa di kahyangan Gondomayit, Dewi Uma berubah sebutan menjadi Bethari Durga. Di sana anaknya lahir dan diberi nama Bethara Kala.

Bethara Guru kemudian mengakui anaknya ini supaya ada ketenangan di dalam kahyangan. Cuma saja ketika Bethara Kala memohon pada ayahnya apa saja yang boleh dia makan, Bethara Guru menentukan makanan itu. Yakni: 1. Keluarga yang mempunyai anak tunggal yang disebut anak ontang-anting. 2. Keluarga yang mempunyai anak lima tetapi semuanya lelaki atau semuanya perempuan. 3. Keluarga punya anak dua, laki dan perempuan yang disebut kedono kedini.

Nah, dalam masyarakat Jawa yang masih percaya pada warisan leluhur itu setiap keluarga yang punya anak dengan ciri-ciri seperti diatas akan jadi mangsa Bethara Kala. Karena itulah diadakan ruwatan dengan pergelaran wayang kulit. Lakon ruwatan ini disebut lakon Murwakala. Tokoh wayang yang sering digunakan sebagai simbol adalah Panca Pandawa yang ternyata kemudian tak bisa dimakan oleh Bethara Kala karena dilindungi oleh Bethara Wisnu yang diambil dari tokoh wayang Krishna.

Cerita boleh beda tetapi inti ruwatan itu sejatinya sama saja, pembersihan rohani seorang anak yang menggunakan unsur budaya luhur bangsa yakni wayang kulit. (*)

 
Maintained by rumahmedia