30.08.2014 18:52 WITA - DHARMA WACANA
Meditasi Menurut Bhagawad Gita

MEDITASI sudah tidak asing lagi di kalangan umat Hindu. Bahkan di agama apapun meditasi itu ada dengan berbagai teknik dan juga berbagai nama. Sumber-sumber meditasi ada di berbagai kitab. Di kitab Bhagawad Gita ada terkumpul sejumlah sloka tentang meditasi melalui percakapan ke enam Sri Krishna kepada Arjuna. Di kitab-kitab purana pun ada. Bahkan Rsi Patanjali dalam uraiannya tentang Astangga Yoga menempatkan meditasi dalam suatu bahasan (tangga) khusus dari delapan bahasan itu.

Teknik meditasi pun sudah begitu beragam. Masing-masing keluar dengan nama kelompok atau nama aliran yang disesuaikan dengan tekniknya. Ada Meditasi Cahaya, Meditasi Angka, Meditasi Usada dan banyak lagi. Ada yang mengharuskan untuk duduk bersila, ada yang boleh duduk di kursi, ada yang terlentang tidur, ada yang membebaskan sikap duduk yang penting santai (rileks). Begitu pula alat konsentrasi, ada yang memakai cahaya misalnya menyalakan lilin atau dupa, ada yang cuma membayangkan angka, ada yang menatap gambar atau patung (pratima) dan sejenisnya.

Nah, bagaimana menurut kitab Bhagawad Gita? Karena kitab ini disebut sebagai Pancamo Weda (Weda yang ke lima) maka ada yang bersikukuh inilah sumber meditasi yang pokok. Terlepas dari keyakinan apakah itu sumber yang pokok atau bukan, mari kita lihat bagaimana meditasi menurut kitab itu.

Pada BG VI.11 ada sloka yang berbunyi: sucau dese pratisthapya, sthiram asanam atmanah, naty ucchitam nati nicam, cailajina kusottaram. Terjemahan bebasnya: Pilihlah tempat yang bersih dan suci lalu bentangkanlah asana yang terbuat dari rumput suci kusa dan kulit menjangan di atas tanah, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.

Tempat suci dan bersih dalam sloka ini awalnya banyak diartikan sebagai alam. Dengan demikian maka di pinggir sungai, di gunung, di dekat danau bahkan di dalam goa, adalah tempat yang baik. Di masa lalu inilah tempat yang dianggap suci. Dalam peradaban selanjutnya maka taman yang asri dan lingkungan tempat suci pura menjadi pilihan yang lain. Di era moderen maka “alam” itu dipindahkan atau dibuatkan duplikatnya di rumah-rumah keluarga maka dikenal misalnya  kamar suci yang khusus untuk meditasi. Persyaratan penting adalah tempat itu aman, baik dari gangguan binatang berbisa atau dari bahaya lain seperti longsor, kejatuhan ranting pohon dan sebagainya.

Harus ada alas untuk duduk (asana) dan itu sebaiknya dari kusa sejenis rumput yang di Bali mirip seperti alang-alang. Letak kusa paling bawah dan di atasnya ada kulit menjangan. Di atas itu baru kain. Atau kusa dan kulit menjangan ini dibungkus oleh kain seutuhnya. Dalam BG tidak disebutkan bagaimana cara mendapatkan kulit menjangan itu, namun dalam kitab lain dan juga setelah berbagai ajaran dipadukan ada semacam kesimpulan bahwa kulit menjangan itu didapat dari cara yang bukan membunuh menjangan itu. Jadi, dicari kulit menjangan yang binatangnya mati secara alami. Dalam praktek hal ini menjadi sulit ditemukan.

Tentu saja tempat duduk dari kusa dan kulit menjangan itu bukan suatu keharusan. Keutamaan dalam ajaran Hindu bukan berarti keharusan, karena ada tingkat-tingkat seperti utamaning utama, utamaning madya dan utamaning kanista. Dalam hal ini sekedar alas yang cukup tebal bisa dijadikan dasar untuk duduk bermeditasi. Sekarang ini kebanyakan dipakai matras dari busa atau dari kapuk seperti bahan kasur tempat tidur.

Lalu apa yang dilakukan setelah mempersiapkan tempat duduk? Pada sloka BG VI.12 disebutkan: “Di situlah duduk secara tegak di tempatnya, mengarahkan pikiran pada suatu titik dan mengekang pikiran dan indriya. Lakukan yoga demi kesucian dan pembersihan jiwa.”

Mengarahkan pikiran pada suatu titik ini bisa dilalui dengan proses konsentrasi dan di situlah diperlukan alat untuk konsentrasi. Jika di dalam kamar suci alat konsentrasi itu bisa gambar, bisa patung atau pratima, bisa nyala lilin atau dupa. Bisa juga cahaya lain. Di kalangan pengikut Meditasi Angka alat konsentrasi itu berupa angka yang sudah dipilih dan “disucikan” oleh sang guru. Tetapi semua ini adalah alat kalau seseorang sudah terlatih “mengarahkan pikiran pada suatu titik” tak membutuhkan alat untuk konsentrasi.

Pada kesempatan lain akan dilanjutkan dengan sikap dan apa yang perlu “dibangkitkan” dalam meditasi menurut Bhagawad Gita. (*)

 
Maintained by rumahmedia