26.07.2014 18:15 WITA - RENUNGAN
Profesor Renang Nyaris Tenggelam

Ye yatha mam prapadyante, tams tathai ‘va bhajamy aham, mama vartmanuvartante, manusyah partha sarvasah

SLOKA di atas diambil dari Bhagawad Gita percakapan 4 ayat 11 (BG IV.11)yang terjemahan bebasnya adalah: “Jalan manapun ditempuh manusia ke arah Ku, semuanya Kuterima. Dari mana-mana semua mereka, menuju jalanKu, oh Partha.”                                                                                                                                                                                            

Apakah yang dimaksud dengan “jalan”itu? Para penerjemah BGmengartikan “jalan”itu sebagai “jalan karma” atau Karma Yoga dan “jalan ilmu pengetahuan” atau Jnana Yoga. Apapun yang dipiliholeh seseorang, apakah memuja Tuhan lewat kerja atau memuja Tuhan lewat ilmu pengetahuan, semuanya diterima, karena semua jalan itu menuju ke arah Tuhan.

Penafsiran yang lebih luasadalah orang bisa memuja Tuhan dengan tekun melakukan pekerjaan tanpa pamrih, berprilaku baik sehari-hari, namun tidak menguasai ajaran agama secara “ilmu” atau tak menguasai tatwa. Di lain sisi orang memuja Tuhan dengan tekun melafalkan mantra-mantra dari kitab suci secara teratur. Namun, lebih penting mana yang dilakukan?

Sebelum sampai pada jawaban itu, ada anekdot yang bisa dijadikan cermin, “jalan” mana yang terbaik dilakukan. Adaseorang profesor yang ahli tentang teori renang. Profesor itu sudah melakukan penelitian untuk mendapatkan teori bagaimana berenangsehingga ia pun dijuluki “profesor renang”.

Nah, tibalah saatnya sang profesor mempublikasikan temuan teorinyadi suatu pantai.  Pengunjung terkagum dengan teori temuan sang profesor tersebut.Sedang asyik dia bercerita, datanglah gelombang besar sehingga panggung tempat profesor dudukditelan gelombang. Semua orang termasuk sang profesor hanyut ke tengah laut.Sang profesor yang hanya menguasai teori tentang renang ternyata tidak bisa berenang.Ia nyaris tenggelam kalau saja tidak diselamatkan oleh anak nelayan yang pinter berenang tetapi tak tahu teori berenang.

Sang anaktentu bangga. Namun alangkah idealnya jika anakkecil yang menolong sang profesor itu kemudian membaca teori renang di bukubuatan profesor  itu. Demikian pulaalangkah idealnya umat Hindu jika sudah melaksanakan praktek kehidupan dengan baik membekali diri pula dengan ajaran agama yang tertulis dalam kitab-kitab suci.

Sebaliknya ilmu pengetahuan yang tak pernah dipraktekkan akan menjadi sia-sia dan tak bisa menolong dalam keadaan bahaya di tengah kehidupan. Umat yang hafal dengan berjenis-jenis mantra tetapi tidak tahu maknanya, tak ada manfaatnya. Rajin bersembahyang ke berbagai pura, tetapi tidak tahu siapa yang dipuja di pura itu, juga tak bermakna. Setiap malam membaca kekawin yang penuh pesan moral, apakah itu Ramayana, Mahabharata, Sutasoma, dan lainnya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak menyimpang dari jalan dharma, tak ada manfaatnya pula. Ia hanya tahu sekedar “kulit”, tak bisa menerjemahkan ke dalam kehidupan nyatanya.

Marilah beragama tak sekedar “kulit” tetapi juga “isi”. Karma Yoga sama pentingnya dengan Jnana Yoga, tetapi memadukan keduanya sangatlah bagus. Kita tahu banyak mantra dan kita tahu bagaimana menggunakannya di tempat yang benar. Bila kita bersembahyang ke pura kita tahu pura itu statusnya apa, siapa yang dipuja di sana, apakah kita memuja leluhur, istadewata atau Tuhan Yang Maha Esa. Jika kita menghaturkan bhakti dengan sembah, siapa yang disembah, apa permohonan kita, apa arti simbol-simbol yang kita gunakan dalam sembah itu. Kalau terus-menerus hal ini tidak kita ketahui, maka kita hanya sebatas “tiru-meniru” saja, kita tidak tahu maknanya dan lama-lama akan menjadi pertanyaan yang mengusik ke dalam diri: “sebenarnya saya melakukan apa saja, ya?”

Nah, kembali kepada pertanyaan, apakah lebih diutamakan praktek atau teori, sudah tentu prakteklah yang paling penting. Banyak orangtua kita di pedesaan yang begitu polos, jujur, tak pernah menipu, tutur katanya bagus, namun dia tak hafal mantra Tri Sandhya.Ini lebih baik ketimbang setiap saat Tri Sandhya tetapi tetap suka berbohong dan menipu. Yang paling idealtentulah prakteknya bagus, teorinya pun diketahui.

 
Maintained by rumahmedia