16.01.2014 07:19 WITA - SARASAMUCCAYA
Sarasamusccaya Oleh Bhagawan Wararuci (Sambungan 2)

(Postingan Kitab Sarasamuccaya terdahulu ternyata sampai sloka 234, mungkin kepanjangan. Berikut ini sambungan sampai sloka 460).

235.
Ibu dan ayah adalah sumber dari kehidupan, sedangkan guru adalah sumber pengetahuan rohani yang mengajarkan hakekat hidup.

236.
Guru terlebih dahulu dihormati sebagai penuntun hidup dan kehidupan, sebagai pemberi pengetahuan dan kerohanian, berikutnya hormatilah ibu dan ayah sebagai orang yang melahirkan dan menghidupi secara material.

237.
Janganlah menjawab pertanyaan guru dengan cara bercanda, apabila beliau bersedih, gusar, dan marah, hiburlah dengan kata-kata yang manis menyegarkan.

238.
Janganlah menghina guru jika beliau ada kesalahan, sebab orang yang menghina gurunya akan dijauhkan dari hakekat hidup, berumur pendek dan masuk neraka.

239.
Mereka yang hormat kepada ayah dan ibunya, berkeadaan sama dengan seorang brahmana/spiritualis yang teguh dengan tapanya, kuat menjaga kesucian dan berada pada jalan kebajikan dan kebenaran.

240.
Sebab seorang ibu menanggung kewajiban yang lebih berat dari pada bumi, sedangkan seorang ayah berfikir lebih tinggi dari langit, lebih cepat dari angin, dan lebih banyak dari rumput demi kesejahteraan dan keselamatan anak, istri, dan keluarganya. Menyadari itu, seorang anak hendaknya menghormati dan bakti secara bersungguh-sungguh kepada orang tuanya.

241.
Barang siapa bakti tulus kepada orang tuanya dan selalu berusaha untuk menyenangkan serta memuaskan hati mereka, orang tersebut akan terpuji dan menjadi bajik.

242.
Yang tergolong ayah adalah: orang yang memberikan tubuh, yang memberikan hidup (ayah biologis), yang memberi makan, dan yang mengasuh.

243.
Seorang anak hendaknya membuat ayahnya puas, sedangkan kewajiban ayah adalah selalu berusaha untuk mensejahterakan anaknya.

244.
Baik pintar atau bodoh, berprilaku bajik atau jahat, kaya atau miskin; cinta seorang ibu sama dan tidak pernah berkurang.

245.
Seorang ayah, seberapa miskinpun keberadaannya, ia akan selalu berusaha untuk mencari penghidupan untuk anak-anaknya dan berusaha untuk menyenangkan mereka dengan pemberian dan hadiah.

246.
Seorang anak yang tidak menyia-nyiakan hidup ibunya setelah tua, tidak meninggalkan ibunya, setia dan bakti dengan hati yang tulus, anak yang memperlakukan ibu layaknya Dewa, pasti akan berumurpanjang dan memperoleh ganjaran surga di alam akherat.

247.
Anak yang ditinggal ibunya atau yang mengusir ibunya, anak yang seperti ini seberapapun kayanya adalah orang yang miskin, seberapapun bahagianya adalah orang sengsara, bagi mereka dunia akan menjadi sangat sepi walau berada dalam hiruk-pikuk keramaian.

248.
Oleh karenanya, baktilah pada orang tua bahkan sembahlah mereka dengan ketulusan hati. Jika diminta atau jika tidak diminta sekalipun, tawarkan terlebih dahulu keinginan untuk mengantar kemana pun beliau hendak pergi, jika berkenan antarlah beliau dengan hati yang tulus.

249.
Jika berhadapan dengan orang tua (ayah/ibu), si anak akan kehilangan jiwanya, tapi jika si anak sujud dengan hormat kepada orang tuannya, kembalilah jiwa si anak ke tubuhnya.


250.

Jika seorang anak bakti tulus kepada orang tuanya, mereka akan memperoleh empat macam pahala berupa: 1) pujian; 2) hidup bahagia dan panjang umur; 3) teman yang setia dan kekuasaan; 4) jasa dan pertolongan

Perbuatan Terpuji

251.
Orang yang santun adalah orang yang menyesuaikan diri dengan aturan norma dan etika yang berlaku di masyarakatnya; demikian juga hendaknya prilaku disesuaikan dengan umur; perilaku dan umur disesuaikan dengan harta kepunyaan; umur, prilaku dan harta, disesuaikan dengan pakaian dan perhiasan yang dipergunakan. Orang yang mampu menyesuaikan semuanya adalah orang yang berkeadaan sadar.

252.
Hendaknya manusia senantiasa berusaha untuk menyenangkan hati dari semua orang, terutama orang-orang yang sedang kelelahan, orang yang sedang sakit, orang yang terhina dan dikucilkan, orang yang hidup miskin, orang yang sedang ketakutan, orang yang kelaparan, serta orang yang sedang menderita bencana, musibah atau nasib malang.

253. Hilangkanlah kemalasan dan keengganan hati, berusahalah untuk belajar prihal kebajikan dan kebenaran dari kitab suci, kitab hukum, norma dan kesusilaan. Berlatihlah kebijaksanaan untuk menjadi manusia bajik dan benar.

254.
Sebab jika tersesat dari kebijaksanaan, sia-sialah kebajikan dan kebenaran yang telah dilakukan, kelak pahala dari perbuatan yang positif tidak akan mungkin diperoleh. Akan halnya orang yang teguh dalam kebijaksanaan, sempurnalah segala perbuatan bajiknya.

255.
Hendaknya seorang suami dan istri yang menghendaki hidup langgeng dalam berumah tangga, menghindari untuk melakukan senggama pada bulan mati (tilem), paruh terang dan paruh gelap ke delapan (8), paruh terang dan paruh gelap ke empat belas/14 (prewani) serta pada bulan purnama.

256.

Jika ingin memperoleh surga hendaknya jangan minum-minuman keras (termasuk narkoba & obat-obatan terlarang), jangan berbohong, jangan menginginkan pasangan orang (selingkuh), jangan mencuri, jangan menyiksa dan membunuh.

257.
Hendaknya makanlah makanan yang menyehatkan, pakailah pakaian dan perhiasan yang pantas, jangan berfoya-foya dan mabuk-mabukkan, jangan malas dan terlalu banyak tidur, jika masih menginginkan surga.

Pengendalian Diri

258.
Selalu berlatih mengendalikan nafsu (yama) dan teguhkan mental (niyama). Mereka yang berlatih mengendalikan nafsu indrawinya namun tidak memiliki keteguhan mental/hati niscaya akan gagal dalam usahanya.

259.
Ada sepuluh brata yang hendaknya dilakukan (yama): 1) jangan mementingkan diri sendiri; 2) tahan menghadapi cobaan hidup; 3) tidak berdusta; 4) tidak menyiksa dan membunuh makhluk hidup; 5) mampu menasehati diri sendiri (belajar dari pengalaman); 6) jujur dan selalu berterus terang; 7) berbelaskasih melihat penderitaan manusia dan makhluk hidup lainnya; 8) berhati bersih dan berpikir jernih; 9) berekspresi dan bertutur kata manis; dan 10) berbudi halus.

260.
Sepuluh brata yang hendaknya di kerjakan (niyama): 1) sedekah; 2) sembahyang; 3) pengekangan nafsu; 4) perenungan; 5) mempelajari kitab suci; 6) pengendalian birahi; 7) keteguhan hati; 8) puasa; 9) pengendalian kata-kata; 10) penyucian diri lahir batin.

Harta Benda dan Kekayaan

261.
Harta yang diperoleh haruslah berlandaskan pada kebajikan dan kebenaran. Setelah keuntungan/hasil usaha diperoleh, hendaknya penggunaannya dibagi dalam tiga kategori.

262.
Bagian pertama untuk mengamalkan kebajikan dan kebenaran; bagian kedua untuk memenuhi hidup, kesenangan dan rekreasi; sedangkan bagian ke tiga untuk menjaga kelangsungan usaha.

263.
Keuntungan usaha yang berlandaskan pada kebajikan dan kebenaran akan melahirkan kebahagiaan surgawi; sedangkan keuntungan yang diperoleh dari cara-cara licik dan jahat akan melahirkaan kesengsaraan dan neraka.

264.
Jika ada orang mencari untung dari tindakan-tindakan licik dan jahat, lalu ia mendermakannya untuk tujuan-tujuan baik; lebih baik jangan melakukan usaha itu walau dengan tujuan-tujuan mulia; sebab keberadaannya sama saja dengan mencemari sesuatu yang bersih dengan sesuatu yang kotor.

265.
Karena harta kekayaan yang suci adalah harta kekayaan yang diperoleh dari cara-cara bajik dan benar; harta kekayaan kotor adalah harta kekayaan yang diperoleh dengan cara-cara keji dan jahat.

266.
Hendaknya jangan pernah menginginkan harta kekayaan yang diperoleh dengan cara licik dan jahat, seperti uang hasil penyimpangan hukum dan uang pemberian musuh.

267.
Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam.

Orang mulia sekalipun, jika berkeinginan untuk merampas harta orang lain, niscaya akan hilanglah kearifannya. Apabila kearifan itu telah hilang, maka lenyap jugalah kemuliaan dan keagungannya.

268.
Tiga merupakan tujuan hidup ini, yakni kebajikan/kebenaran, harta/kekayaan, dan kesenangan/keamanan; janganlah hendaknya ketiga dari tujuan hidup itu dikotori oleh kejahatan.

269.
Jangan biarkan waktu itu berlalu tanpa guna, manfaatkanlah waktu itu agar berdayaguna dan bermanfaat; akan sangat tepat jika waktu itu dipakai dalam pelaksanaan kebajikan sekaligus pencarian harta dan perolehan kesenangan. Siapa yang tahu batas hidup dan mati? Oleh karenanya maanfaatkanlah dengan sebaik-baiknya waktu itu, jangan menunda-nunda dan membuang-buang waktu, mumpung masih hidup.

270.
Orang yang gagal dalam pelaksanaan kebajikan/kebenaran, gagal dalam menyedekahkan harta/kekayaan, gagal dalam memberi kesenangan/keamanan bagi makhluk hidup lainnya, dan juga gagal menuju kemerdekaan batin; tanpa guna keberadaannya di bumi ini, mereka hidup lalu mati dimakan waktu.

271.
Oleh sebab itu, bersedekahlah kepada orang-orang yang patut diberikan sedekah, berikanlah kesenangan kepada orang-orang yang patut memperoleh kesenangan, ingat kematian datang tanpa disangka-sangka.

Kesenangan

272.
Ada orang yang senang saat ini, saat yang lain tidak senang; ada yang saat lain senang, saat ini tidak senang; ada senang saat ini dan saat yang lain pun senang; ada juga yang tidak senang saat ini pun tidak senang pada saat yang lainnya.

273.
Yang disebut dengan senang saat ini, hidup kaya raya dengan hartanya yang berlimpah ruah, namun hanya dinikmati untuk dirinya sendiri dan tidak pernah berkorban untuk kepentingan bajik dan benar. Orang seperti ini disebut dengan senang saat ini saja.

274.
Sedangkan orang yang kontemplatif, berpantang berbuat jahat, tekun dalam ilmu pengetahuan, menguasai hawa nafsu, kasih terhadap semua makhluk. Orang seperti ini akan memperoleh kesenangan di saat yang lain.

275.
Berikut adalah orang yang dinyatakan akan memperoleh kesenangan sekarang dan dikemudian hari: selalu berusaha giat melakukan kebajikan dan kebenaran, dengan kebenaran pula harta kekayaan dicarinya, lalu kenikmatan dinikmatinya dengan cara yang benar, tekun bersembahyang kehadapan Tuhan dan leluhur, bakti kepada orang tua serta orang suci.

276.
Mereka yang tidak mempelajari ilmu pengetahuan, tidak berpantang/puasa, tidak melakukan sedekah, tidak sembahyang, tidak bersyukur, selalu berbuat jahat; mereka yang hidup seperti ini tidak akan memperoleh kesenangan saat ini pun saat yang lainnya.

277.
Mereka yang tidak dirasuki oleh amarah dan kebencian, mereka yang mencintai kebenaran, tetap teguh dalam pengendalian indrawi, mengasihi segala makhluk seperti mengasihi diri sendiri; orang yang melakukan hal tersebut akan memperoleh pahala yang sama dengan orang yang tekun mengunjungi dan bersembahyang ke tempat-tempat suci.

278.
Berikut adalah orang yang akan memperoleh azab yang sama seperti keadaan orang yang tidak bersembahyang dan mengunjungi tempat-tempat suci: tidak penah berpuasa, tidak menyucikan rohani dan jasmani, tidak bersedekah, dan sering berbuat jahat.

279.
Keutamaan berkeliling untuk berkunjung dan sembahyang ke tempat-tempat suci keyataannya lebih utama dari kurban, sebab ia bisa dilakukan oleh mereka yang miskin sekalipun; sedangkan kurban hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berharta.

Kemiskinan

280.
Miskin kebajikan sama dengan kematian; keadaannya bagaikan wilayah luas dengan penduduk yang banyak namun tanpa pemimpin, bagaikan upacara kematian tanpa doa-doa, bagaikan upacara besar tanpa sedekah.

281.
Jika ada orang yang miskin harta dan ia juga suka melakukan tindakan kejam dan jahat, orang seperti ini sesungguhnya telah mati dalam hidupnya.

282.
Orang yang miskin jiwanya (berkepribadian buruk), biarpun ia pandai tidak akan ada yang mengindahkan, walaupun ia berkata benar dan penuh manfaat tidak akan ada yang perduli; apalagi jika si miskin jiwa itu orang bodoh, tentunya tidak akan ada orang yang senang dengannya.

283.
Jika miskin harta, walaupun pintar dan baik hati, sungguh sulit untuk dikenal orang. Jika kaya harta, kebajikan yang dilakukan menjadi sempurna. Inilah alasan kenapa harta itu harus dicari dengan sekuat tenaga.

284.
Orang yang miskin harta demikian juga orang yang cendala sama sama tidak bisa melaksanakan sedekah. Orang cendala sedekahnya tidak diterima sedangkan orang miskin tidak ada kemungkinan untuk bersedekah karena tidak ada yang bisa disedekahkan.

285.
Demikianlah orang miskin harta dan miskin jiwa, rumahnya bagaikan neraka saja keadaannya, sandang, pangan dan papan sulit diperoleh. Inilah alasan kenapa harta dan kebajikan itu sangat penting keberadaannya.

286.
Meskipun si miskin gemuk, tetap tidak ada yang dapat disedekahkan kepada orang-orang yang berkunjung ke rumahnya, inilah alasan lain kenapa harta itu penting untuk dimiliki.

287.
Mereka yang miskin hanya makan jika ada bantuan dari sahabatnya dan sahabatnya itu memenuhi segala keperluan dari si misknin; tapi si miskin tidak mampu membalas kebaikan budi sahabatnya dikarenakan oleh kemiskinannya itu. Orang miskin yang berhati keji, rakus, berbudi pekerti tamak, dan kikir; sesungguhnya telah mati dalam hidupnya.

288.
Mereka yang miskin dari masa kecilnya berkeadaan lebih baik dari orang kaya yang kemudian menjadi miskin, penderitaan teramat berat akan dirasakan oleh orang yang dulunya kaya lalu jatuh miskin; sedangkan mereka yang miskin dari kecil telah terbiasa dengan keadaannya itu.

289.
Biasanya orang kaya saat makannya menyisakan banyak dari makanan yang dimakan lalu dibuang sia-sia, sedangkan simiskin akan makan apapun yang tersedia dan tanpa sisa.

290.
Mereka yang miskin dapat makan enak karena laparnya, sedangkan orang kaya sulit menikmati makanannya karena tidak pernah merasakan lapar.

291.
Kelaparan dapat menutupi kebajikan dan kebenaran, ia juga dapat melenyapkan keteguhan hati, dan lidah selalu ‘ingat’ dengan rasa yang enak inilah yang menyebabkan lapar.

292.
Mereka yang bodoh akan selalu menyesali perbuatan buruknya di waktu lampau apabila mengalami kesengsaraan saat ini, mereka hanya menyesali saja tanpa pernah berusaha untuk menanam kebajikan dihidupnya kali ini.

293.
Apa sebab orang tidak berhasil dalam pencarian harta dan perolehan kesenangan meskipun telah diusahakan dengan giat; sebab kegagalan usaha dikarenakan dulu ia tidak pernah ‘menanam’ kebajikan dan kebenaran, lalu apa yang dapat dipetiknya sekarang? Walaupun kali ini gagal, sekaranlah kesempatan baik untuk menanam kebajikan dan kebenaran dan pasti akan berbuah kelak dan kita dapat memanennya.

294.
Mereka yang sangat cerdas namun miskin, selalu gagal dalam usahanya dikarenakan oleh kemiskinannya; sebaiknya sumbangkan kecerdasan itu tanpa mengharapkan imbalan apapun, niscaya setelah menabur benih kebajikan dan kebenaran melalui kecerdasannya, lambat laun akan diperoleh juga ‘buah’ dari kebajikan dan kebenaran itu.

295.
Mereka yang tidak memperoleh kesenangan hingga hari tuanya, seolah-olah hidupnya selalu dipenuhi oleh kemelaratan dan kesengsaraan, jangan pernah putus asa dalam pelaksanaan kebajikan dan kebenaran, kelak pastilah memperoleh kesenangan disurga dan kemuliaan dikehidupan berikutnya.

296.
Sebuah pohon kayu yang tumbuhnya condong dan beranting bengkok-bengkok dan tidak subur, lagi pula dimakan rayap, dan menjadi sarang semut batang pohonnya. Kulitnya tergores dan hangus terbakar oleh api kebakaran hutan, tumbuhnya diatas batu dan batangnya tanpa getah lagi karena ia tumbuh ditanah yang gersang, keadaannya sunguh sangat merana. Namun masih lebih merana keadaan orang miskin yang selalu berhara-harap akan sesuatu yang tidak bisa diperolehnya karena miskin, apalagi jika sampai diperbudak oleh harapan-harapannya lalu berbuat jahat.

297.
Mereka yang diperbudak oleh harapan-harapan akan pemberian, akan dipermainkan oleh orang yang diharapkan memberi, disuruh kesana-kemari, jalan, berdiri, duduk, berkata-kata, diam dll. Meskipun begitu mereka yang berharap tetap patuh karena besarnya harapan akan pemberian.

298. Tuhan menciptakan berbagai makhluk dengan bentuk, sifat dan keistimewaannya masing-masing, namun satu yang tidak pernah diciptakan oleh Tuhan bahkan hingga hari ini, yakni manusia yang tidak membenci orang yang datang menghamba dengan harapan akan sesuatu secara berlebih-lebihan.

299.
Pengemis yang sangat berharap akan perolehan sesuatu, keadaannya tiada beda dengan orang yang hampir mati, nafasnya tersumbat dikerongkongan, terputus-putus dalam berkata-kata, keringatnya mengucur, gerakannya resah, mukanya pucat; demikianlah keadaan pengemis yang sangat berharap akan sedekah, terlihat persis seperti orang yang hampir mati.

Pergaulan (Prihal Orang Berilmu dan Berbudi)

300.
Pergaulan dengan cepat dapat menularkan hal-hal yang baik apabila bergaul dengan orang-orang utama; seperti bau bunga (parfum) yang dapat beralih kepada kain, air, minyak dan tanah apabila bersentuhan dengan bunga (parfum) itu.

301.
Oleh karenanya, bisa-bisa merosot budi seseorang jika ia bergaul dengan orang yang hina budi (jahat). Jika mereka bergaul dengan yang madya budi (sedang-sedang) madyalah yang ditularkan. Jika ia bergaul dengan orang yang utama budi, maka utama budilah yang akan diperolehnya.

302.
Mesikipun sedikit kepandaian/kebijaksanaan seseorang, apabila bertempat tinggal dengan orang yang pandai/bijaksana dan selalu bertanya ilmu pengetahuan dengannya, maka akan semakin bertambah pandai/bijaksanalah hasilnya, bagaikan zat warna yang jatuh pada air, akan menyebar dan akhirnya mewarnai air itu.

303.
Biarpun pandai/bijaksana, jika bertempat tinggal dan bergaul dengan orang-orang bodoh/tidak bijaksana, maka kepandaian/kebijaksanaan itu akan menjadi kehilangan hakekatnya; bagaikan gajah yang dilihat melalui cermin kecil, akan kecil pulalah terlihat bayangan si gajah.

304.
Apapun alasannya janganlah membenci ilmu pengetahuan, tuntut dan kejarlah ilmu itu, pengetahuan akan membuka wawasan dan menjauhkan kita dari dosa-dosa; sebab orang yang bodoh tidak akan pernah sadar, bahwa yang terlebih dahulu harus diperangi dan ditundukkan adalah sisi pribadi yang bodoh dan jahat.

305.
Jika berteman, hendaknya orang yang berbudi luhur saja yang menjadi teman anda. Jika hendak mencari saudara, hendaknya orang yang berbudi luhur saja menjadi saudara anda. Andai berdebat dan berbantahan sekalipun, hendaknya orang yang berbudi luhur saja yang menjadi lawan anda. Apalagi jika anda mencari sahabat, orang yang berbudi luhur saja hendaknya menjadi sahabat anda, sebab mustahil anda tidak akan kelimpahan budi luhur itu jika selalu berinteraksi dengan orang-orang yang berbudi luhur.

306.
Adapun orang yang berbudi utama, mereka tidak gembira jika dipuji, tidak sedih jika dicela/dihina, tidak gusar dan pemarah, tidak mengucapkan kata-kata kasar; sebaliknya tetap teguh dalam kebenaran, berhati bersih, dan berpikiran suci.

307.
Mereka yang utama budi tidak memikirkan cacat dan dosa orang lain, pun tidak akan mengeluarkan kata-kata kasar dalam menanggapi celaan dan hinaan orang. Dalam hatinya yang dilihat hanyalah kebajikan dan perbuatan baik orang dan selalu berpikiran positif. Tidak ada kemungkinan apapun yang dapat membuatnya menyimpang dari kebajikan dan kebijaksanaan, ia selalu berkeadaan teguh pada susila, etika, dan sopan santun. Orang bajik dan bijaksana disebut juga sebagai manusia utama.

308.
Demikianlah disimpulkan, orang yang bajik, penuh pengetahuan, dan bijaksana, dapat dilihat dari kesabaran dan kerendahhatiannya; bagaikan keadaan padi yang merunduk lantaran berat buahnya, pun pohon yang dilebati buah merunduk lantaran menopang berat buah-buahnya.

309.
Orang bijaksana tidak akan menceritakan keburukan orang lain apalagi dibelakang orang tersebut, selalu berusaha untuk menolong orang-orang yang kesusahan, tidak diliputi kemarahan dan kebencian. Sangatpantaslah orang bijaksana untuk di hormati.

310.
Manusia suci adalah mereka yang dipenuhi kebijaksanaan, terpelajar dan berpengetahuan, tidak sombong, berbudi lembut, tidak berangasan dan tidak diliputi amarah, ia dihormati dan dituruti perintahnya.

311.
Meskipun hanya setengah dari seluruh kebajikan orang suci dapat dituruti, niscaya dapat menolong anda dari kesusahan dan neraka.

312.
Tidak hanya manusia hidup yang menyayangi orang- orang suci, bahkan roh pun menyayanginya. Mereka yang meniru dan menuruti bimbingan orang-orang suci adalah orang yang sesungguhnya menyayangi dirinya sendiri.

313.
Jika ada orang yang berbuat bajik bukan karena hasrat akan pahala namun lebih dipandang sebagai kewajiban diri; Prilaku bajik yang jauh dari motif-motif pahala seperti ini merupakan tindakan cerdas, terpelajar dan bijaksana. Jangan pernah memandang dan menghitung pahala dari kebajikan yang dilakukan.

314.
Tirulah perbuatan orang bajik dengan tekun dan teguh. Harta kekayaan tidak selayaknya dipegang teguh jika bertentangan dengan kebajikan, sebab ia dapat datang atau pergi dan sulit untuk dijaga; lagi pula bukannya orang yang tidak berharta dinamakan miskin. Walau tanpa harta, jika kaya moralitas, bajik dan susila, inilah sesungguhnya yang dinamakan kaya; meskipun ada orang yang kaya harta namun jahat, amoral dan asusila, mereka inilah yang disebut miskin.

Prihal Orang Durjana/Jahat

315.
Oleh karena itu timbang dan pikirkanlah perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan sehari-hari. “Salah atau bernarkah perbuatan itu”? “Sama dengan hewankah atau dengan orang bajik tingkah lakuku”? Demikianlah hendaknya pertimbangan kita dari hari ke hari dan senantiasalah menasehati diri sendiri.

316.
Mereka yang akan menerima pahala dari perbuatan itu adalah mereka yang berbuat, yang menyuruh berbuat, serta mereka yang membenarkan perbuatan itu. Ketiganya sama-sama akan memperoleh pahala dari perbuatan itu, apapun macamnya, apakah buruk ataukah baik.

317.
Oleh karenanya perbuatan baiklah yang harus dilakukan dan terus diusahakan. Meskipun orang berbuat jahat kepada kita, hendaklah dibalas dengan perbuatan bajik. Kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan, sebab kita akan terjebak dalam kejahatan dan menjadi sama saja dengan mereka yang jahat. Siapa yang berbuat akan memperoleh karmanya.

318.
Bagaikan bongkahan-bongkahan batu besar yang dinaikkan ke gunung dengan sangat sulitnya, namun ketika diturunkan dapat dilakukan dengan cara yang sangat mudah. Demikianlah kelahiran menjadi manusia ditingkatkan dengan cara yang teramat sulit, namun dapat diturunkan dengan sangat mudahnya. Maka dari itu berusahalah dengan tekun untuk meningkatkan kebajikan dalam diri, niscaya kualitas penjelmaan dapat terus ditingkatkan.

319.
Perbuatan bajik/baik membawa ke alam surga; dimuka bumi menjadi kenangan dan pembicararaan. Oleh karenanya selalulah berbuat kebajikan, inilah hakekat dan tujuan dari penjelmaan.

320.
Perbuatan bajik yang membawa kemasyuran bagaikan seorang ibu keberadaannya, karena sama-sama diingat berkat jasa-jasanya. Sekalipun telah mati, mereka yang termasyur dengan kebajikan akan tetap dikenang dan hidup dalam hati masyarakat, sebab kebajikan itu abadi. Tapi mereka yang tanpa kebajikan akan musnah seiring waktu, pun apabila kejahatan yang dilakukannya, orang-orang akan mengingatnya sebagai manusia hina, ini berkeadaan lebih buruk dari mati.

321.
Jika ingin menjaga nama baik inilah yang hendaknya dilakukan: jangan menghianati sahabat, jangan menghianati kepercayaan yang diberikan, jangan menghianati orang yang membiayai anda, yang menghidupi anda, dan jangan menghianati orang yang memberi perlindungan kepada anda. Mereka yang berbuat nista adalah orang yang tidak berterima kasih dan membalas kebajikan-kebajikan orang dengan kejahatan.

322.
Sansekerta: Brahmaghna ca sarape ca core bhagnavrate sate, niskrtivihita sabdih jrtahgne nasty niskrtih.

Menghina orang suci, mabuk-mabukan, dan mencuri adalah perbuatan dosa, namun bagaimanapun juga ia masih dapat ditebus. Akan tetapi dosa yang diakibatkan oleh perbuatan tidak tahu berterimakasih akan kebajikan orang, ia tidak akan dapat ditebus dengan apapun juga.

323.
Mereka yang menjahati orang yang tidak berniat jahat terhadapnya, dengan pasti dan tanpa ampun akan masuk ke jurang neraka.

324. Mereka yang jahat sesungguhnya tidak pernah sayang kepada dirinya sendiri, sebab membiarkan dirinya berbuat jahat, dan kemudian dirinya sendirilah yang akan mengalami siksa dari kejahatan yang diperbuatnya, tidak sayanglah orang yang menyebabkan dirinya sendiri sengsara.

325.
Sansekerta: Samklistakarmanamatipramadam bhuyo nrtam cadr dabhaktikam ca, vicitaragam bahumayinam na ca naitan niseveta naradhaman sat.

Orang seperti inilah yang tidak pantas untuk diajak bergaul dan dijadikan kawan: 1) mereka yang selalu berusaha untuk menyakiti orang lain: 2) mereka yang suka membuat orang lain bersedih hati; 3) mereka yang tidak memiliki kesopanan, etika dan susila; 4) mereka yang tidak suka menepati janjinya; 5) mereka yang suka berkata bohong dan dusta; 6) mereka yang suka mabuk-mabukan. Keenam tipe orang inilah yang hendaknya dijauhi.

326.
Jika bergaul dengan orang yang jahat, niscaya dan tidak mungkin dihindari akan menular juga noda kejahatan mereka itu. Bagaikan pohon kayu yang subur, ia akan ikut terbakar juga jika bercampur dengan kayu-kayuan kering, oleh karenanya jangan berkawan dan bersahabat dengan orang yang jahat perbuatannya.

327.
Sebaiknya hindari saja untuk bersahabat atau bermusuhan dengan orang jahat. Jangan suka dijilati anjing, apalagi bila sampai digigitnya.

328.
Mereka yang jahat tiada bedanya dengan duri, agar tidak tertusuk duri pakailah terompah, atau hindari duri tersebut. Dengan orang jahat usahakan agar mereka tunduk meskipun dengan cara yang keras (hukuman), atau jauhi saja mereka. Inilah dua macam cara untuk menghindari duri dan orang jahat.

329.
Waspadalah selalu kepada orang jahat, meskipun seolah-olah mereka terlihat tunduk dan menurut; bagaikan ular, meskipun telah lama dilatih tidak urung sekali waktu ia akan memagut juga.

330.
Dan juga mereka yang berbudi rendah, menjadi semakin sombong saja tingkah lakunya jika melihat orang yang berbudi luhur lantaran kesusilaan, etika dan norma terlihat mengalah padanya. Tidak mempunyai malu si durjana itu dengan angkuhnya menatap sang sujana ketika berpapasan, dan ia berpikir bahwa sang sujana telah tunduk padanya, bagaikan keadaan gajah tunggangan yang merunduk ketika melihat tuannya.

331.
Hendaknya orang berbudi utama, jangalah mudah percaya kepada orang jahat, walaupun si jahat terlihat tunduk dengan menundukkan wajah dan sujud menyatakan hormat. Sebab mereka yang dilekati kejahatan dapat melakukan segala cara untuk meraih tujuannya. Apabila timba itu jatuh telungkup disumur, niscaya ia hendak mengambil airnya.

332.
Jangan bergembira dulu jika tidak diganggu oleh si durjana kawan anda, sebab banyak orang merasa beruntung tidak digigit ular, walaupun tubuhnya nyata-nyata telah kena belitan.

333.
Biarpun manis dan lemah lembut tutur kata si durjana, tidak ada salahnya untuk waspada saja; sebab bunga yang bermekaran tidak pada musimnya, adalah sebuah pertanda bencana.

334.
Tidak akan dijumpai kewelas asihan pada tindakan yang kejam, demikian juga tidak akan dijumpai kekejaman pada tindakan welas asih. Demikian kebajikan tidak akan dijumpai pada kejahatan, demikian juga pada kejahatan tidak akan dijumpai adanya kebajikan.

335.
Inilah keadaan dari pucuk tunas pohon intaran, rasanya tetap akan pahit walaupun berkali-kali pohonnya telah ditebang. Meskipun orang telah berkali-kali mencucinya, atau bahkan melumurinya dengan madu, rasanya tetap akan pahit. Walaupun diluluri dengan bumbu-bumbuan, rasanya tetap akan pahit. Demikianlah keadaan dari manusia durjana, tidak dapat diubah menjadi bajik walaupun telah dihukum dengan keras, pun juga tidak dapat diperbaiki prilakunya dengan cara disanjung-sanjung.

336.
Bagi orang yang berbudi, pengetahuan itu gunanya untuk menghilangkan keangkuhan, namun bagi mereka yang tidak berbudi, pengetahuan itu justru semakin membangkitkan keangkuhannya. Bagaikan sinar matahari bertujuan untuk menghilangkan kegelapan, namun bagi mereka yang sedang sakit mata dan rabun (pada burung hantu), sinar matahari justru membuat pengelihatannya semakin kabur karena silaunya.

337.
Sansekerta: Vidyamado dhanamadasttrtiyo’ bhijanairmadah, mada hyete valiptanameta eva satam damah.

Inilah yang menyebabkan munculnya kesombongan bagi si papa budi, di antaranya: widyamada, dhanamada, dan abhijanamada. Widyamada adalah mabuk/angkuh karena merasa diri berpengetahuan; dhanamada mabuk/angkuh karena merasa diri kaya; abhijanamada mabuk/angkuh karena merasa diri bangsawan.

338.
Adalah lebih baik besi keadaannya dibanding orang sombong dan angkuh, sebab besi itu dapat dibengkokkan, dapat disambung, dapat dicairkan dengan cara dipanaskan; sedangkan mereka yang sombong dan angkuh tetap teguh dengan kesombongan dan keangkuhannya.

339.
Mereka yang durjana akan sangat pandai menyembunyikan maksud jahatnya, bagaikan keberadaan api dalam sekam, apinya tidak tampak namun dengan tiba-tiba menghanguskan apapun yang tersedia.

340.
Bahkan karena kehebatan politiknya, banyak orang-orang berbudi pekerti baik menjadi jatuh dalam cengkraman si durjana.

341.
Mereka yang durjana, sombong, dan angkuh, dapat melihat dosa kecil orang lain dengan sangat jelasnya, anehnya mereka tidak dapat melihat dosanya sendiri walaupun sebesar gunung.

342.
Mereka yang berbudi baik akan sangat senang hatinya dapat menghormati orang-orang bajik, sedangkan manusia durjana, sombong dan angkuh, menjadi sangat bangga hatinya apabila dapat menistakan, mengejek, dan berlaku kurang ajar kepada orang yang berbudi baik dan berlaku bajik.

343.
Orang kaya yang kikir, orang miskin yang angkuh, orang bodoh yang benci ilmu; inilah kriteria orang bodoh.

344.
Orang yang dengan keras menghukum mereka yang berbuat salah, sedangkan ia sendiri dengan sengaja melakukan juga kesalahan itu, ada juga orang yang marah-marah terhadap mereka yang tidak pantas untuk dimarahi; kedua orang ini disebut tolol.

345.
Orang kasar dan tidak menyukai perkataan lemah lembut, disebabkan oleh tingkah lakunya yang kesasar. Ia lupa bahwa untuk membuktikan kemurnian emas adakalanya emas tersebut harus digosokkan terlebih dahulu. Orang yang berhati halus, walaupun dikasari tetap akan menunjukkan kelembutannya.

346.
Apabila seseorang yang utama budi dikarenakan oleh sesuatu berinteraksi dengan si hina budi, seketika si hina budi akan merasa dirinya orang besar, walaupun orang-orang telah mencapnya sebagai manusia hina budi. Mestinya si hina budi segera meniru prilaku si utama budi agar ia bisa menjadi besar.

347.
Adapun orang yang suci hati, biarpun ia dikasari dan di puji, namun yang bermanfaat saja akan di pilihnya; seperti keadaan angsa, walapun mencari makanan di lumpur, tidak akan ikut lumpur itu dimakannya.

348.
Orang yang utama budi walaupun diupahi berlimpah harta untuk berbuat jahat, ia akan tetap menolaknya; akan tetapi mereka yang hina budi/jahat, walaupun diupahi agar tidak berbuat jahat, ia akan tetap melakukan kejahatan.

349.
Walaupun sempurna ilmu pengetahuan seseorang, jika ia hina budi, tiada gunanya semua itu; kitab suci yang semestinya mengarahkan manusia menuju kebajikan menjadi tanpa guna, bahkan si papa budi dengan pengetahuannya akan menjadi racun bagi yang lainnya. Demikian juga orang kaya namun kikir serta orang yang berkuasa namun tidak melindungi orang yang pantas.

350.
Singkatnya, ilmu pengetahuan jika dikuasai oleh orang yang hina budi/jahat, sia-sialah keutamaannya; bagaikan hilangnya kesucian air jika ditempatkan pada tengkorak, pun hilangnya kejernihan air jika ditempatkan pada bejana yang penuh debu dan kotoran, sia-sialah semuanya itu.

351.
Jika ilmu pengetahuan utama dipelajari oleh orang yang hina budi/jahat, ilmu itu tidak akan pernah sempurna, sebab dapat dipastikan tidak didasari oleh prilaku yang utama; bagaikan ekor srigala tidak akan mampu dengan sempurna mengusir lalat yang mengerubungi sekujur tubuhnya.

Hukum Sebab Akibat (Hukum Karma)

352.
Segala sesuatu yang kita alami di dunia ini, baik ataukah buruk keadaannya, semua terangkai dan muncul dari perbuatan masa lalu.

353.
Mau tidak mau, segala perbuatan masa lalu itu pasti akan dinikmati oleh yang berbuat. Baik ataukah buruk yang kita lakukan di waktu lalu, karmanya tidak akan pernah kesasar dalam mencari si pelaku. Keadaannya bagaikan si anak lembu yang tidak akan pernah kesasar dalam mengenali induknya, walau dalam kawanan yang berjumlah ribuan sekalipun.

354.
Karma itu tidak akan pernah bisa ditolak, ia akan datang apabila sudah waktunya untuk berbuah/diterima, ia tidak bisa dijauhkan, pun juga tidak dapat di percepat. Bagaikan mekarnya bunga hanya pada musimnya, tidak bisa dihindari apabila sudah waktunya untuk mekar.

355.
Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini, terangkai erat pada perbuatan masa lalu. Bajik ataukah jahat perbuatan masa lalu itu, karmanya pasti akan diperoleh secara adil, tidak ditambahi pun tidak dikurangi.

356.
Ada orang yang telah berusaha giat, penuh pertimbangan, bijaksana, suka membantu dan menyenangkan orang lain, berjiwa heroik, telah menaklukkan hawa nafsu, dan berwajah rupawan; namun ternyata dalam hidupnya ia menjadi budak dari orang yang berjiwa rendah, semua itu adalah buah dari karma masa lalunya.

357.
Sungguh berbeda pahala karma dari masing-masing orang, perhatikanlah! Ada orang yang memikul usungan dan ada yang dipikul oleh usungan.

358.
Pada hakekatnya semua makhluk berharap memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya, namun karena semua terangkai dari karma masa lalu, tidak semuanya akan dapat meraih harapan dan cita-cita hidupnya.

359.
Ada orang yang rendah hati dan ada orang yang tinggi hati; ada yang bahagia ada juga yang bersedih; ada yang kaya dan ada yang miskin; semuanya dapat datang dan pergi serta berkeadaan tidak tetap, karma itulah penyebabnya.

360.
Musnam daridratyabhihanyate ghnan pujyunamasampujya bhavatyapujyah, yat karmavijam vapate manusyah tasyanurupani phalani bhumkte.

Mereka yang mengambil hak-hak orang lain di waktu lalu akan menjadi miskin di kemudian hari; mereka yang menjahati orang di waktu lalu akan dijahati di kemudian hari; apapun yang diperbuat di waktu lalu akan diterima di kemudian hari.

361.
Apapun yang ditabur dan dibiakkan di waktu lalu, di kemuian hari akan dipanen sesuai bibitnya, demikian juga karma apapun yan ditabur, maka karma seperti itulah yang akan dihasilkannya.

362.
Di alam moksa kebahagaiaan tertinggi dirasakan oleh roh penghuninya; di alam surga roh memperoleh pahala berupa kesenangan; di dunia makhluk-makhluk memperoleh suka dan duka, sedangkan di alam neraka roh hanya memperoleh penderitaan saja.

363.
Ada beberapa perbuatan baik yang dipastikan akan mengantar manusia kelak memasuki alam surga, diantaranya dengan tulus menyumbangkan sarana dan prasarana yang mendukung ketersediaan: 1) pangan, 2) kemasyarakatan, 3) sistem transportasi, 4) pengairan dan irigasi, 5) kepemerintahan dan kepemimpinan yang adil.

364.
Janganlah bermalas-malasan; pekerjaan esok hari yang bisa dikerjakan sekarang sebaiknya dikerjakan saja, sebab maut tidak pernah pandang bulu dan tidak pernah perduli, apakah pekerjaan (kebajikan) anda sudah selesai atau belum.

Kematian (Kekuasaan Maut)

365.
Jika ada seseorang dapat terbebas dari kematian dan dapat hidup abadi, ia boleh bermalas-malasan; sedangkan bagi mereka yang pasti akan mati dan tidak bisa hidup abadi apa gunanya bermalas-malasan.

366.
Waktu itu tiada batasnya, ia terus bergerak meski telah melewati ribuan putaran tahun; sedangkan hidup itu ada batasnya, bahkan seringkali dijalani dengan sangat cepat dan hanya dalam sekejap saja; sadar akan hal tersebut, apakah yang menyebabkan orang masih menyianyiakan waktu, mari manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk berbuat kebajikan.

367.
Sesungguhnya umur sekalian makhluk hidup itu teramat pendeknya, bahkan sebagian dari umurnya itu pada waktu malam dipakainya untuk tidur akibat kantuk; yang lain dilalui dengan penyakit, kesedihan, umur tua dan masalah-masalah hidup lainnya, akhirnya sangat sedikitlah masa hidup itu sesungguhnya.

368.
Semua makhluk terperangkap dalam siklus hidup dan mati, masa hidup mereka lewati dengan penyakit, usia tua, dan kesedihan; namun umumnya tidak banyak orang yang sadar akan singkatnya masa hidup itu.

369.

Bukan karena obat, bukan karena doa, bukan karena kurban, dan juga bukan karena pengulangan-pengulangan mantra mampu membebaskan orang dari kematian; sesungguhnya tidak ada orang yang dapat terbebas dari kematian.

370.
Jika tidak ada instrospeksi diri setelah melihat orang tua renta, orang sakit, dan orang mati, di mana seolah-olah ia tidak akan berkeadaan seperti itu kelak; orang yang seperti ini tidak ubahnya dengan pecahan periuk atau batu bata.

371.
Walaupun lantaran saktinya seseorang dapat menguasai empat benua hanya dalam sekejap, namun ia tidak akan dapat menghindarkan dirinya dari penyakit, usia tua dan kematian.

372.
Waktu adalah tubuh dari sang maut kematian, detik, menit, jam, siang, malam dan pembagian waktu lainnya adalah organ-organ tubuhnya; wujudnya adalah penyakit dan usia tua, inilah penampakkan dari kematian. bagaikan ular menelan mangsanya, demikianlah kematian pasti akan menelan makhluk hidup jika sudah waktunya.

373.
Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya saat hidup ini untuk melaksanakan kebajikan dan kebenaran, sebab diusia tua demikian banyaknya hambatan (kelemahan fisik & penyakit) untuk melakukan kebajikan dan kebenaran dengan sepurna. Seperti keadaan orang tua renta yang masih bernafsu untuk berkelahi, lantaran kelemahan fisiknya ia akan jatuh bangun melakukannya; bagaikan srigala tua yang telah ompong ingin mengunyah tulang, sia-sialah usahanya itu dan ia hanya dapat menjilatinya saja.

374.
Kenapa orang selalu lupa bahwa ia akan mati pada akhirnya, bagaikan orang terhukum mati, hari-hari berlalu, semua akan membawanya semakin dekat dengan masa eksekusi; demikianlah keadaan makhluk hidup, saban hari waktu hidupnya semakin berkurang.

375.
Kematian tidak dapat ditolak dan waktunyapun tidak dapat diramalkan, oleh karenanya sangat kelirulah orang yang selalu mengulur-ngulur waktu untuk melakukan kebajikan dan kebenaran; kelirulah orang yang berpikir bahwa kebajikan yang seharusnya dilakukan hari ini akan dilakukannya esok hari.

376.
Sebab tidak ada yang dapat memutus hidup selain dari pada kematian, maka dari pada itu lakukanlah seolah dengan tergesa-gesa kebajikan dan kebenaran itu; bagaikan keadaan buah-buahan akhirnya ia akan jatuh juga ke tanah, demikianlah yang hidup pasti akan mati cepat atau lambat, maka percepatlah untuk melakukan hal-hal yang bajik dan benar dalam hidup ini.

377.
Kematian sudah ditetapkan waktunya oleh takdir Tuhan, walaupun terluka parah ia tidak akan mati jika belum takdirnya, sebaliknya jika sudah takdir, seseorang bisa mati walaupun hanya tertancap duri.

378.
Kesimpulannya, sekalian makhluk hidup diombang-ambingkan oleh kesengsaraan dan kematian; menyadari kenyataan ini, kenapa manusia masih saja melakukan kesenangan-kesenangan egoistiknya dengan menyengsarakan makhluk hidup lainnya.

379.
Sebab kematian itu senantiasa akan mengintai hidup kita, tidak perduli sedang duduk, tidur, berjalan, sedang makan dll. Menyadari kondisi ini kenapa kita masih enak-enakan tidur dalam kemalasan, bagaikan ikan dalam tempayan, hidupnya hanya menunggu mati.

380.
Bagaimanapun ‘pahit’ dan sulitnya hidup, mau tidak mau kita harus menjalaninya juga. Segala sesuatu yang merupakan karma haruslah dinikmati, hidup miskin kekurangan pangan, tuna wisma, tanpa pertolongan, bantuan dll, semua itu harus dijalani juga. Jika ingin merubah karma, lakukanlah kebajikan dan kebenaran mulai hari ini; sebab kelak ialah yang akan menemani hidup, sebagai kawan yang akan memberikan pertolongan setiap saat.

381.
Saat ajal tiba, isakan tangis sanak saudara dan kawan mengiringi; selanjutnya tiada siapapun yang menemani, bahkan pasangan hidup kitapun akan beranjak pergi dari kuburan, tiba saatnya kita berjalan sendiri saja dan hanya ditemani oleh karma bajik dan buruk saat hidup.

382.
Masa anak-anak hilang oleh masa remaja, keremajaan hilang oleh kedewasaan, kedewasaan itu hilang oleh masa tua, dan semuanya hilang ditelan kematian. menyadari ini, mulai sekarang bergiatlah untuk mulai menabung kebajikan dan kebenaran, sebab ialah yang merupakan harta diakherat.

383.
Kekayaan-kekayaan duniawi tidak akan dapat dipergunakan untuk menghindar dari penyakit, usia tua, dan kematian.

384.
Tidak kekallah keremajaan, kecantikkan, pun juga hidup ini; apalagi kepemilikan harta kekayaan, misalnya uang, emas, perak, pakaiaan dll, inilah yang harus diperhatikan oleh mereka yang bijaksana dan bebaskanlah diri dari ikatan-ikatan itu.

385.
Janganlah takabur akan usia muda yang sehat, jangan sombong atas berlimpahnya kekayaan yang dimiliki; hendaknya selalu waspada akan penyakit sosial dan kemiskinan moral, seperti kewaspadaan kita pada api, racun dan musuh.

386. Hendaknya inilah yang diwaspadai oleh para arif bijaksana: wanita jalang, lelaki hidung belang, para penjilat, manusia licik, kepikunan, tawaran kenikmatan, dan pada mereka yang hanya menghafal ilmu pengetahuan (doktrin agama) tanpa berusaha memahaminya dengan benar.

387.
Kodrat manusia tidak bisa lepas dari kesedihan, penyakit, usia tua, dan kematian; mereka yang cerdas menyadari dengan baik kenyataan tersebut dan tidak akan membiarkan dirinya diperbudak oleh kenikmatan-kenikmatan sesat, dan mereka yang bijaksana akan berusaha lepas dari kenikmatan-kenikmatan duniawi yang mengikat.

388.
Hidup bergantung pada badan, badan adalah tempat hidup; hidup menyebabkan badan ada; lenyapnya badan melenyapkan hidup, lenyapnya hidup berarti musnahnya badan; pendek kata antara hidup dan badan muncul bersamaan dan musnahnya pun bersamaan juga.

389.
Karena perbuatan baik ataupun buruk dilakukan dengan perantaraan badan, maka badan itulah yang menerima akibat dari perbuatan baik ataupun buruk. Pada hakekatnya badan adalah pelaku dari perbuatan dan juga sebagai penerima akibat perbuatan tersebut.

390.
Sekalian makhluk dikuasai oleh waktu dan menderita dalam waktu, menyadari semuanya, jangan pernah sia-siakan waktu, dengan segera berbuatlah kebajikan dan kebenaran.

Roh Leluhur (Pitrayana dan Dewayana)

391.
Adalah dua jalan,  Pitrayana dan Dewayana. Jalan pertama dianjurkan untuk mereka yang hidup berumah tangga/Grehasta melalui pelaksanaan-pelaksanaan lima macam pengorbanan tulus (kehadapan Tuhan, roh leluhur, guru, manusia, alam lingkungan beserta isinya); sedangkan jalan kedua adalah jalan lepas dari ikatan nafsu duniawi dan ego.

392.
Mereka yang mengikuti jalan Pitrayana dapat mencapai Surga/kebahagiaan melalui pelaksanaan kurban, teguh pada kebenaran, ketaatan pada etika dan moral, namun karena mereka masih terikat oleh motif-motif akan hasil, pada akhirnya duka pasti menyertai kebahagiaannya; maka dari itu jalan kebebasanlah yang menjadi lebih tinggi, bebas dari harapan-harapan akan hasil dari segala aktivitasnya dan tetap berbahagia dalam situasi apapun.

393.
Setelah segala pahala baik dari perbuatan bermotif dinikmati, maka kembalilah orang tersebut mengalami duka nestapa; bagaikan keadaan seekor tupai dalam menikmai makanan yang disimpannya untuk musim dingin, setelah makanan itu habis, diawal musim panas tersiksalah ia oleh perut laparnya dan kemudian ia harus kembali giat menimbun makanan untuk musim dingin berikutnya, begitulah keadaannya berulang-ulang.

394.
Kedukaan hidup akibat terbelenggu motif-motif kerja dan prilaku, pada akhirnya selalu saja bermuara pada kesedihan, maka dari itu hindarkanlah diri dari keterikatan akan hasil dari segala kegiatan pun usaha.

395.
Akibat terbelenggu oleh harapan akan hasil dari berbagai jenis pekerjaan, manusia diombang-ambing oleh perasaan suka dan duka. Apabila harapan itu tidak sesuai dengan keinginan, dukalah yang datang pada sang diri; walaupun seandainya hasil telah sesuai dengan harapan, tetap saja akan terlihat cacat dan kurangnya, inilah bukti bahwa sesungguhnya prosentase duka dalam kehidupan lebih besar dari sukanya.

396.
Sejak dilahirkan menjadi seorang bayi pun hingga hari tua tiba, manusia tersiksa oleh berbagai macam keinginan, dari hasrat buang hajat, perut lapar, kantuknya mata, dan oleh hasrat birahi.

397.
Sebenarnya musuh ataukah sahabat dari manusia adalah dirinya sendiri; apabila ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kubangan ego dan nafsu-nafsu indrawi lalu diperbudak olehnya, sang diri menjadi musuh baginya; demikian juga apabila manusia mampu melepaskan dirinya dari ego dan bijaksana terhadap nafsu-nafsu indrawinya, sang diri menjadi sahabat sejatinya. Maka dari itu selalulah berusaha untuk dapat terbebas dari ego dan dapat lepas dari cengkraman nafsu.

398.
Karena sesungguhnya pikiranlah yang menyebabkan kesengsaraan, pikiran itu selalu mengarahkan sang diri untuk tidak pernah merasa puas akan apapun, pikiran juga yang mengarahkan ucapan dan prilaku manusia untuk tenggelam dalam lingkaran nafsu dan kesesatan; maka dari itu hendaklah pikiran itu didamaikan, dan diarahkan menuju kesucian dan kebebasan dari ego dan nafsu-nafsu sesat.

Prihal Kebodohan

399.
Sesungguhnya musuh yang paling berbahaya bagi umat manusia adalah kebodohan, sebab kebodohan itu akan menyeret orang menuju perbuatan buruk dan kejahatan.

400.
Ajnaphrabhavarin hidam yadduhkhamupalabhyate lobhadeva tadajnanamajnanallobha eva ca.

Duka muncul dari kebodohan, kebodohan muncul dari ego, dan ego itu bersumber dari kebodohan; maka kebodohan itulah penyebab dari kesengsaraan.

401.
Oleh sebab itu waspadalah, lawanlah dengan sekuat tenaga kerakusan, demikian juga berantaslah pikiran egois dan keangkuhan, sebab rakus, egois dan angkuh adalah belenggu jiwa yang sangat kuat dan semu itu muncul dari kebodohan.

402.
Hendaknya lenyapkanlah kebodohan dengan ilmu pengetahuan, sebab ilmu pegetahuan akan mengantar manusia menuju kesadaran dan pemahaman mutlak akan hakekat segala sesuatu; mereka yang tercerahi akan mampu mengantar dirinya menuju kebahagiaan sejati. Sedangkan si bodoh akan tetap berada dalam lingkaran kesengsaraan.

403.
Bagaikan keberadaan orang buta yang hendak mencari jalan pulang, amat besarlah kesusahan yang dialaminya, demikianlah mereka yang bodoh, dunia ini menjadi tempat kesengsaraan belaka.

404.
Tiada disangsikan lagi, orang bodoh selalu merasakan kepedihan hati. ia menjadi kesal bertemu dengan orang-orang yang dibencinya, ia birahi jika bertemu dengan orang-orang yang disukainya; demikianlah dikarenakan oleh kebodohan, mereka diombang-ambing oleh suasana hatinya.

Keseimbangan Rohani Jasmani

405.
Seperti keberadaan seorang pande emas yang sedang melebur emas, jika kurang cakap dan giat proses peleburan berlangsung lama; sebaliknya jika cakap dan giat, emas itu dapat dengan cepat dilebur.

406.
Demikianlah keberadaan sang jiwa dalam usaha pembersihannya agar menjadi suci dan bebas dari ego angkara, jika cerdas dan berusaha dengan giat niscaya jiwa dengan cepat dapat disucikan; sebaliknya jika bodoh dan malas, meskipun dalam beratus-ratus inkarnasi jiwa belum juga bisa disucikan.

407.
Bagaikan orang yang secara rutin membersihkan badannya, ia tidak memerlukan waktu lama untuk mandi; tidak demikian halnya dengan orang yang jarang mandi, diperlukan waktu lama dan usaha yang keras agar dapat terbebas dari kotoran. Demikianlah kemarahan, kerakusan, dan segala bentuk pencemaran indra-indra harus dibersihkan dengan giat dari badan.

408.
Cara menghilangkan kemarahan janganlah ambil hati hinaan. Cara menghilangkan birahi sesat jangan sampai dirasuki asmara buta. Cara menghilangkan kebodohan tinggalkanlah kebingungan. Cara menghilangkan keserakahan/kerakusan, sadarlah terhadap kemampuan diri dan puaskan hati. cara menghilangkan ikatan duniawi, sadarlah akan hakekat segala sesuatu yang tidak pernah abadi.

409.
Adapun harapan/khayalan akan tercapainya sesuatu dilenyapkan oleh kesadaran akan kuasa takdir. Kelekatan pada kemewahan dan kesenangan dilenyapkan oleh ketidakterlekatan diri padanya. belenggu cinta dan kasih sayang dapat dikendorkan oleh keyakinan akan ketidakkekalan hidup. Kesusahan dan kedukaan hati dilenyapkan oleh pengendalian indra-indra dalam yoga.

410.
Kesombongan diberantas oleh kasih sayang, nafsu dilenyapkan oleh perasaan puas dan gembira; kemalasan dihilangkan oleh usaha, kebimbangan pun keragu-raguan dihilangkan oleh kemantapan dan keyakinan pada kesejatian.

411.
Jika keangkuhan dan keakuan dapat dimusnahkan, cinta kasih masyarakat akan datang; jika nafsu birahi dapat dikendalikan dengan baik, kenikmatan sejati akan diperoleh; jika kemarahan dapat dihilangkan, lenyaplah musuh-musuh dan perasaan curiga; jika mampu lepas dari nafsu indrawi, tidak akan ada lagi kesedihan.

Wanita Nakal/Jalang

412.
Masing-masing Indria selalu menuntut kepuasannya, orang yang bijaksana akan mengendalikan indria-indrianya dengan baik, sebab jika indria tanpa kendali, ia akan menjauhkan orang dari perbuatan-perbuatan bajik dan benar.

413.
Untuk menangkis datangnya nafsu birahi sesat, hendaknya orang jangan merindukan hubungan terlarang, jangan memikirkannya, jangan menyentuhnya, jangan melihat apapun yang menyebabkan munculnya nafsu sesat itu. Jika birahi dapat di kendalikan, pastilah akan jauh dari kejahatan.

414.
Sebab munculnya birahi sesat bersumber dari kegairahan pada sesuatu yang tidak pantas, jika hasrat hati itu tidak dapat dikekang dan bertambah kuat pastilah orang akan tenggelam dalam kesesatan. Maka dari itu orang yang bijaksana tidak akan membiarkan dirinya diperbudak oleh nafsu birahi.

415.
Orang bijaksana paham betul baik-buruk segala sesuatu, ia memiliki pemahaman sempurna akan hakekat apapun; ia yang tercerahi dapat melihat dunia yang tadinya kejam menjadi ramah, yang tadinya buruk menjadi indah, yang tadinya kurang kini berlimpah.

416.
Segala yang ada dan tersedia di semesta ini adalah milik bersama sekalian makhluk, hanya orang-orang serakahlah yang beranggapan bahwa ia adalah pemiliknya, lalu mereka terjebak dan diperbudak oleh kebencian dan kelobaan hati; sedangkan bagi orang bijaksana hanya kepuasan hati itulah yang dijadikannya harta pribadi.

417.
Bagi orang bijaksana kelekatan pada objek-objek indria itulah yang justru di tinggalkannya.

418.
Orang-orang sengsara dan merana kerena ditinggal kekasihnya, sedangkan bagi mereka yang bijaksana tidak akan ada kesedihan yang melemahkan hati, sebab paham betul akan hukum ketidak kekalan.

419.
Usahakanlah segala sesuatu untuk tujuan kebajikan, hendaknya dipertimbangkan betul kemalasan diri, sebab inilah sumber dari kebodohan.

420.
Maka bagi mereka yang hendak memperoleh kebahagiaan sejati, istirahatlah pada jam istirahat, bekerjalah pada jam kerja, jangan melamun, jangan diperbudak birahi, jangan mabok, jangan malas, jangan berbuat jahat, dan kendalikanlah nafsu-nafsu indriawi.

421.
Pengendalian pikiran harus terus di usahakan, jangan biarkan hawa nafsu bebas bergerak semaunya, sebab kejahatan pasti muncul dari liarnya nafsu yang akhirnya akan menenggelamkan orang pada duka nestapa.

422.
Orang yang diperbudak nafsu dan mereka yang selalu memenuhi kenikmatan indriawinya sungguh tidak akan pernah merasa puas walau segala upaya telah dilakukan untuk memanjakan nafsu indriawinya itu, bagaikan usaha ayam hutan yang hendak berteduh pada bayangan burung elang, kapankah ia akan terhindar dari panas terik.

423.
Birahi sesat itu jika dituruti tidak akan pernah terpuaskan, meskipun orang telah memberikan apa yang diidam-idamkannya; makin dituruti makin hebat keadaannya. Bagaikan api yang menyala karena minyak, semakin banyak dituangi semakin bertambah besar saja nyalanya.

Sex, Birahi, Porno dan Nafsu Seksual

424.
Tidak ada yang menyamai kehebatan birahi sesat dalam membuat kesengsaraan, maka dari itu jauhi wanita jalang/lelaki hidung belang itu, jangan pernah diangan-angankan, sebaiknya ditinggalkan saja.

425.
Adapun mereka yang kehilangan akal, wanita jalang/lelaki hidung belang inilah salah satu penyebabnya; mereka menjual harta benda dan bahkan harga diri sekalipun demi wanita jalang/lelaki hidung; inilah awal dari segala kesengsaraan, oleh karena itu jangan sampai hati tertambat olehnya.

426.
Wanita jalang/lelaki hidung belang sesungguhnya lebih berbahaya dari badai, banjir bandang, api yang berkobar-kobar, ataupun bisa yang mematikan.

427.
Sebab wanita jalang/lelaki hidung belang senantiasa akan memancing nafsu birahi lalu mengikat si bodoh dalam tali temali asmaranya yang kuat.

428.
Tidak ada yang menjadi pantangan bagi wanita jalang/lelaki hidung belang, ia tidak membedakan apakah orang tua ataukah bocah, jika nafsu birahinya datang semua orang digoda dan diajak melakukan senggama.

429.
Umumnya wanita jalang/lelaki hidung belang itu berprilaku buruk, tidak dapat diatur walau telah dibatasi. Meskipun mereka berpendidikan agama, moral dan budi pekerti; jika ada kesempatan lupalah ia akan agama, moral, pun budi pekerti.

430.
Bagaimana pun sulitnya ilmu pengetahuan ia dapat dipahami jika tekun mempelajarinya; namun sebaliknya, pikiran wanita jalang/lelaki hidung belang sangat sulit untuk diketahui dan tidak ada kepastian jika ia akan dapat dikuasai.

431.
Tidak ada puas-puasnya api itu, meskipun semua bahan bakar di bumi ini dituangkan padanya tidak akan membuat nyalanya mengecil, bahkan akan semakin besar dan berkobar-kobar saja keadaannya; demikian juga laut tiada pernah penuh mesiku pun dialiri oleh jutaan sungai-sungai besar; demikian juga sang maut tidak pernah berhenti mengambil jiwa-jiwa makhluk hidup. Demikianlah keadaan wanita jalang/lelaki hidung belang yang tiada pernah puas akan birahi dan persetubuhan.

432.
Tidak akan ada akhirnya, jika perbuatan-perbuatan tercela wanita jalang/lelaki hidung belang itu diceritakan. Bilamana ada orang yang berlidah seribu menceritakan kejelekannya dalam seratus tahun dan ia tidak mengerjakan pekerjaan lain selain bercerita, pasti tidak akan berakhir juga ceritanya itu.

433.
Wanita jalang/lelaki hidung belang itu adalah bara dari lawan jenisnya, apabila wanita/lelaki birahi datang padanya, pasti akan hancur lebur dan kehilangan dayanya; sebaliknya jika orang berlaku bijaksana dan hatinya tidak dkuasai oleh wanita jalang/lelaki hidung belang, niscaya ia akan selalu berkeadaan selamat.

434.
Sesungguhnya wanita jalang/lelaki hidung belang itu tidak ubahnya seperti sulap yang berbahaya, maka dari itu ia dijauhi oleh wanita/lelaki yang bijaksana, apalagi oleh orang yang telah bersuami istri.

435.
Kebiasaan wanita jalang dan lelaki hidung belang senantiasa menimbulkan kesengsaraan bagi yang lainnya, ia jugalah yang menjauhkan orang dari kewajiban dan rutinitas kerja; mereka yang bijaksana menyadari akan hal ini dan tidak akan tergoda oleh kenikmatan birahi sesat.

436.
Adalah kepunyaan paling pribadi dari lelaki hidung belang dan wanita jalang yang sesungguhnya sangat menjijikkan lagi pula sangat kotor dan berpenyakitan; mestinya benda itu dijauhi saja, beruntunglah orang jika tidak sampai lekat dan rindu birahi padanya.

437.
Sebab di dunia ini, sungguhpun orang cukup bijaksana, tiada luput ia dari nafsu birahi pada organ-organ seksual lawan jenisnya.

438. Organ-organ seksual itu membuat banyak manusia bingung dan tergila-gila padanya, mereka seolah menjadi buta dan tuli karenanya.

439.
Tiada berdaya sesungguhnya orang jika selalu mengikuti nafsu birahinya yang sesat, semakin diikuti semakin bertambah kuat saja, tidak akan pernah menjadi puas ia akan persetubuhan.

440.
Terlalu menjijikkan organ-organ seks lelaki hidung belang dan wanita jalang itu jika dibicarakan, ia dipenuhi oleh bakteri-bakteri dan penyakit yang mematikan.

441.
Oleh karena itu hendaknya dijauhi saja lelaki hidung belang dan para wanita jalang, jangan didengarkan rayuannya, jangan dipandang wajahnya yang penuh birahi dan ajakan-ajakan sesat, jangan sampai tergoda padanya.

442.
Jangan tidak waspada akan datangnya nafsu birahi, jangan berfikir, jangan berbicara, jangan sampai melakukan birahi sesat.

443.
Bagaikan api dalam rongga kayu, ia akan membakar kayu itu tanpa sisa, mati seluruhnya hingga ke akar, dahan, ranting dan daun-daunya. Demikianlah nafsu birahi sesat itu dalam hati, ia pasti akan melenyapkan kebajikan, kekayaan, dan kebebasan. Nafsu birahi sesat itu senantiasa terkait dengan kebencian, selama nafsu birahi sesat itu ada dalam diri, kebencian pasti mendampinginya.

444.
Nafsu birahi sesat itu adalah belenggu utama umat manusia, jika ada orang yang mampu terbebas darinya, niscaya ia akan memperoleh alam sugawi, di mana tiada lagi kematian, kesengsaraan dan ketakutan.

445.
Mereka yang mampu mengendalikan birahinya, mampu mengendalikan amarahnya, tahan terhadap kecaman dan pujian, niscaya akan menjadi bijaksana.

446.
Orang janganlah terbakar oleh kemarahan, biarpun didera fitnah, ejekan, kata-kata kasar dll; jangan pula melakukan fitnah, ejekan, dan berkata-kata kasar pada orang yang dianggap sesat sekalipun; sebab Tuhanlah yang maha tahu akan salah dan benar perbuatan manusia.

447.
Mereka yang dipengaruhi oleh pikiran sesat, kemudian akan berkeinginan sesat, berikutnya akan berusaha sesat, lalu mencintai kesesatan.

Cinta Buta (Kehausan Cinta)

448.
Yang disebut cinta buta itu, adalah sumber dari segala sumber bencana, yang menimbulkan kebencian dan ketakutan. Cinta buta diakui sebagai yang terjahat dari kejahatan, sungguh amat mengerikanlah akibat dari cinta buta itu.

449.
Mereka yang diperbudak cinta buta akan melakukan segalanya demi cintanya yang sesat, ia menjadi bodoh dan kehilangan kecerdasan, ia kehilangan jatidiri dan sesungguhnyalah ia telah binasa dalam hidupnya.

450.
Masa kecil berganti dewasa, masa dewasa berganti masa tua; demikian juga kesehatan akan berganti kesakitan; pun juga hidup akhirnya akan mati. Sebaliknya cinta sesat itu tidak pernah mati walaupun badan mati; ia tetap melekat kuat pada roh jika anda belum menemukan cara untuk melenyapkannya.

Harta, Kekayaan dan Keinginan

451.
Perhatikanlah orang tua itu, rambutnya telah rontok, badanya kurus kering dan bungkuk; demikian juga giginya telah tanggal semua, berjalan terhuyung-huyung karena kaki sudah tidak kuat lagi menyangga tubuhnya; akan tetapi keinginannya akan hidup yang berlimpah kekayaan sedikitpun tidak berkurang, sangat kukuh dan tidak tergoyahkan.

452.
Tidak ada apapun di dunia ini yang dapat memenuhi keinginan, sebab orang yang diperbudak keinginan tiada bedanya dengan usaha si bodoh yang hendak memenuhi samudra dengan air sumurnya.

453.
Jika kekayaan dan harta bertambah, bertambah jugalah keinginan itu, bagaikan keadaan tanduk lembu yang akan menjadi semakin besar dan panjang jika si lembu semakin dewasa dan semakin gemuk, demikianlah keinginan itu akan menjadi semakin bertambah hebat jika segala kemauannya dituruti.

454.
Tiada bedanya keinginan itu dengan keberadaan seorang wanita yang dapat menundukkan suaminya, dengan tega si istri menyuruh suaminya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak pantas untuk dilakukan; demikianlah kehebatan keiinginan apabila selalu dituruti segala kehendaknya, niscaya ia akan memperbudak korbannya dan dibawalah mereka menuju kesesatan.

455.
Sesungguhnya sangat hebat pengaruh keinginan itu, timbulnya permusuhan, peperangan, dan berbagai kejahatan disebabkan olehnya; sebaliknya jika orang mampu menguasai keinginan maka tiada permusuhan dan dendam kesumat baginya, tiada kemiskinan pun kekayaan dan dapat terbebas dari duka nestapa.

456.
Bagaimanakah rupa dan wujud dari keinginan? Adalah sesuatu yang tidak berbadan namun sangat kuat melekat dalam badan, tidak mungkin tersingkirkan oleh orang-orang jahat; ia tidak turut musnah apabila badan sakit, merana dan sengsara, bahkan dapat tetap bertahan hidup walaupun badan telah mati. Jika keinginan itu dapat ditundukkan dan dikendalikan, kebahagiaan sejati pasti tercapai.

457.
Jika seluruh kesenangan di bumi dan kesenangan pahala surga disatukan, kemudian beratnya itu ditimbang dengan kebahagiaan sejati karena dapat terbebas dari keinginan, maka kesenangan bumi dan surga itu menjadi seringan kapas yang melayang tertiup angin.

Prihal Kelobaan

458.
Keinginan itulah yang melahirkan keserakahan, tiada bedanya keserakahan itu dengan buaya, karena keduanya sama kejam menenggelamkan orang ke dalam kesengsaraan, jika keserakahan bertambah hebat timbullah kejahatan, adapun kejahatan itu mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan.

459.
Singkatnya keinginan menimbulkan keserakahan, keserakahan merupakan rumah dari segala macam kejahatan, jika orang telah di kuasai oleh keserakahan ia pasti akan menjadi jahat, walau awalnya ia bijaksana dan suci sekalipun.

460.
Semakin besar keserakahan itu, semakin bertambah besar saja ketidak puasan hati, jika orang tidak puas pastilah mengalami kesedihan dan kedukaan. Apabila keserakahan itu mengacaukan pikiran maka tiada gunalah kebijaksanaan dan segala ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Bersambung

 
Maintained by rumahmedia