05.01.2012 16:48 WITA - PASRAMAN
Pengantar Diskusi Film Drupadi di Pasraman

Oleh Ida Bhawati Putu Setia

Drupadi adalah seorang tokoh perempuan dalam kisah klasik Mahabharata. Saya menyebut Mahabharata sebagai karya klasik karena ini adalah karya yang sudah ribuan tahun ada dan selalu menjadi bahan inspirasi bagi banyak orang, termasuk dunia seni (tari, teater, film, lukis). Puluhan film dan ratusan pertunjukan seni di Indonesia maupun berbagai negara pernah menafsirkan kisah dari khazanah budaya Hindu ini. Bahkan sutradara Peter Brook pernah membuat pertunjukan teater The Mahabharata dan mengangkatnya ke layar lebar. Meski ceritanya mencoba untuk bersetia pada pakem, tasir tentang tokoh-tokohnya jauh dari karakter seperti yang kita kenal dalam “seni pewayangan” di Indonesia. Seniman Bali pun dalam pertunjukan teater (utamanya wayang kulit) berkali-kali menafsirkan kisah ini dengan bebasnya, tanpa mengubah alur pokok. Semuanya sah-sah saja.

Mahabharata bebas ditafsirkan oleh siapa saja karena Mahabharata sudah milik semua umat, bukan hanya milik umat Hindu atau bukan hanya milik orang India, meski pun alur cerita ada di tanah India. Dalam agama Hindu, Mahabharata bukanlah kitab suci yang utama. Ini adalah “karya suci” yang menjabarkan intisari dari kitab suci Weda, untuk memudahkan umat mempelajari Weda. Banyak kitab-kitab seperti ini.

Kitab Suci Hindu sudah sangat jelas, yakni: Weda, wahyu Tuhan yang diterima oleh Sapta (Tujuh) Rsi. Weda terdiri dari 4 kitab, yakni Atharwa Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Reg Weda. Kitab inilah yang dijadikan rujukan baik dalam ritual maupun amalan agama. Karena ke empat Weda ini terdiri dari sloka yang sangat rumit, maka para Rsi yang maha suci di zamannya melahirkan karya-karya yang bersumber dari kitab suci ini. Di sinilah, antara lain, lahir Mahabharata yang kemudian disebut Pancamo Weda, artinya Weda kelima.

Dalam sastra budaya Hindu, kitab Mahabharata ini digolongkan Ithiasa, yaitu kisah-kisah yang bisa dijadikan sesuluh (pedoman) dalam kehidupan di dalam masyarakat. Jadi, dalam Ithiasa ada kisah baik dan ada kisah buruk, untuk memudahkan umat yang awam memahami perjalanan hidup ini. Kitab Suci Weda sebagai wahyu Tuhan, tentu tidak mengajarkan hal-hal yang buruk. Ada beberapa kitab lain yang digolongkan Itihasa, yang terkenal misalnya Ramayana.

Ramayana dan Mahabharata sudah ada ribuan tahun yang lalu. Kita tak tahu sarana apa yang dipakai untuk mempublikasikan kedua kisah ini. Dalam perjalanan ribuan tahun itu wajar muncul berbagai versi, dan tak ada hak seseorang untuk mengklaim versi yang satu lebih otentik dari versi yang lain. Dengan alat apa membuktikan keotentikan itu?

Demikianlah, maka dalam Mahabharata dan Ramayana ada versi India Utara, versi India Selatan, versi Thailand (khususnya Ramayana), bahkan yang kontroversial versi Sri Lanka, khusus pada Ramayana. Di Nusantara ini bisa jadi muncul versi Jawa, Sunda atau Bali. Dalam khazanah seni wayang, khususnya wayang kulit, versi-versi ini biasa disebut “carangan”. Namun, kisah pokoknya itu sendiri umumnya tidak berbeda.

Weda sebagai kitab suci Hindu disebut atau tergolong Sruti, artinya, wahyu dari Tuhan yang diterima langsung para Rsi. Selanjutnya ada kitab-kitab Sutra, Dharmasastra, Itihasa, Purana dan kitab-kitab Darsana yang digolongkan sebagai Susastra Hindu. Vatsyayasa dalam bukunya Nyayasutrabhasya, memberi penjelasan begini: Weda adalah pedoman umum dan acuan dalam ritual (yadnya). Itihasa dan Purana menguraikan “sejarah dunia” dan tentang umat manusia. Weda adalah sumber utama dari wahyu Tuhan, sumber segala dharma dan hukum Hindu.

Jadi, Itihasa dan Purana itu menguraikan aliran dan ajaran dalam Weda dengan kisah-kisah menarik sehingga mudah untuk diterima umat. Karena begitu sulitnya mempelajari Weda, apalagi di masa lalu sarana untuk itu terbatas, maka para Rsi membuat kisah-kisah Itihasa, tujuannya tiada lain untuk menyebarkan isi Weda itu sendiri. Di zaman emas Kerajaan Majapahit di mana Hindu berkembang bagus, dalam kitab Sarasamuccaya dimuat sloka yang terjemahannya begini: “Weda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna melalui jalan Itihasa dan Purana sebab Weda akan takut pada orang-orang yang sedikit pengetahuannya.” Maksudnya adalah mulailah mengenal Itihasa dan Purana lebih dahulu, kemudian setelah pengetahuan menjadi bertambah, baru ke Weda. Sampai saat ini pun, meski kitab Weda sudah diterjemahkan dan dijual di toko buku, masih sulit mempelajarinya jika tidak didampingi seorang guru atau nabe.

Dengan demikian, Itihasa dan Purana betul ajaran suci, tetapi bukan  kitab suci yang utama. Pertama, karena itu bukan wahyu Tuhan. Kedua, karena bentuk Itihasa adalah kisah, tentu ada kisah buruk dan kisah baik, yang buruk jangan dicontoh, yang baik dijadikan contoh. Weda sebagai wahyu Tuhan tidak memberikan contoh yang buruk. Ketiga, Maharsi Vyasa yang menyusun Mahabharata bukanlah Rsi yang menerima wahyu Tuhan, namun jasa beliau luar biasa sebagai penghimpun sloka-sloka Weda.

Kini, para sineas muda Indonesia yang penuh idealis mengangkat cuplikan kisah Drupadi dalam Mahabharata ke layar lebar. Mereka membawa Drupadi atau “sepenggal Mahabharata” itu dalam nuansa budaya Nusantara, khususnya budaya Jawa. Sesuatu yang sah saja, karena kisah klasik yang bersumber dari ajaran suci itu sudah menjadi milik “umat dunia”.

Drupadi memang tokoh yang patut diangkat untuk memberi semangat kepada kaum wanita, bagaimana mempertahankan derajat kewanitaan. Sebagai seorang anak, Drupadi begitu setia kepada keluarganya, dalam ajaran Hindu ini disebut anak Suputra. Sebagai istri, Drupadi sangat mencintai dan setia kepada suaminya. Namun di atas kesetiaan itu, ia punya harga diri, seorang istri bukanlah budak pemuas nafsu lelaki, bukan “barang” yang bisa dijadikan taruhan. Karena itu, ketika suaminya mempertaruhkan dirinya dalam judi, Drupadi meradang dan dengan kekuatan doanya, Tuhan dalam perwujudan Awatara Krishna, menolong wanita setia ini. Bharatayudha sebagai perang saudara di antara keluarga Kuru, antara Pandawa dan Kurawa, salah satunya dipicu dari penghinaan kepada Drupadi. Dalam ajaran Hindu ada sloka yang menyebutkan: “Di mana wanita tidak dihormati, di sana kekacauan akan terjadi”.

Film Drupadi karya Riri Riza yang skenarionya ditulis Leila S. Chudori ini, sangat layak untuk dijadikan renungan. Film pendek ini selain berhasil mengangkat Mahabharata dalam budaya Nusantara, juga telah memperkaya bentuk kreasi seni yang bertebaran di berbagai dunia yang mengambil sumber dari Mahabharata. Ithiasa Mahabharata tak akan pernah kering sebagai bahan renungan dan tak perlu untuk dikhawatirkan jika diadaptasi dengan berbagai budaya lokal. Kelak, saya berharap ada film yang mengangkat tokoh Karna, misalnya, yang tentu memberi renungan mendalam, ke mana kesetiaan utama harus diberikan, apakah kepada “ibu pertiwi” atau kepada “ibu yang melahirkan”.

Penulis adalah wartawan, budayawan, dan rohaniawan Hindu

 
Maintained by rumahmedia