10.05.2013 07:26 WITA - OTOBIOGRAFI MPU JAYA PREMA
Otobiografi Mpu Jaya Prema

Otobiografi Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda "Wartawan Jadi Pendeta" beredar Akhir Mei 2013 diseluruh toko buku Gramedia di kota-kota besar Indonesia.

Pree Order sudah bisa dilakukan lewat Majalah Raditya, Jl. Pulau Belitung Gg. II No. 3 Denpasar (telepon 0361.723765 – 082146000640) untuk mendapatkan tandatangan dan salam (doa) dari penulisnya.

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (Penerbit KPG)

Tebal: xi + 404 halaman

Harga: Rp 70,000.00

 

Ini teks halaman belakang buku tersebut:

Putu Setia tidak pernah menduga dirinya akan menjadi seorang pendeta. Dari keluarga miskin di Bali, Putu Setia melakoni kehidupan yang keras. Ia pernah menyaksikan kelamnya tragedi pasca G30S (pembantaian PKI) dan Peristiwa Buleleng (peng-golkar-an Bali), berhenti sekolah karena persoalan biaya, merasakan sulitnya menjadi anak panggung, hingga akhirnya menemukan gairah dalam dunia jurnalistik yang ia tekuni selama lebih dari tiga dekade. Dunia yang mengasah idealisme dan memapankan kehidupannya.

Namun bagi Putu Setia, hidup bukan hanya tentang materi, melainkan proses dalam mensyukuri segala hal yang telah semesta beri, bagaimanapun caranya. Menjadi pendeta dan mengabdikan dirinya pada umat merupakan cara yang dipilih oleh Putu Setia untuk mensyukuri kehidupan —selain membayar utang budi terhadap leluhur . Nama Putu Setia pun berganti menjadi Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda dan akrab disapa “Mpu Jaya Prema”.

Buku ini menuturkan kisah Mpu Jaya Prema dalam menjalani transformasi spiritual untuk menjadi seorang pendeta. Tidak hanya itu, Mpu Jaya Prema juga mengajak kita untuk menelusuri seluk beluk kehidupan sosial dan adat istiadat Bali, memahami makna yang terdapat dalam setiap tradisi. Dituturkan dengan rinci dan jernih, buku ini membuat kita seolah-olah hadir dalam setiap pengalaman yang ia kisahkan.

“Membaca kenangan Mpu Jaya Prema Ananda ini, saya membaca sesuatu yang agak lain: buku ini lebih merupakan sebuah ucapan rasa syukur dan sekaligus rasa berutang—dan pertanggungan jawab mengapa itu perlu.”

Goenawan Mohamad

(Komentar yang lebih panjang ada di dalam isi buku)

 

Otobiografi  ini awalnya membuat saya kaget. Saya mengenal Pandita Mpu Jaya Prema Ananda sejak beliau di Jakarta, masih bernama walaka Putu Setia, Ketua Umum Forum Cendekiawan Hindu Indonesia… Saya percaya ada kekuatan besar yang mengatur jalan hidup anak petani miskin ini sampai dia memperoleh predikat Wartawan Utama dari Dewan Pers, menjabat Redaktur Senior Tempo, hingga menerima panggilan sebagai pendeta Hindu untuk melayani umatnya. Kekuatan itu adalah Tuhan Yang Maha Esa.”

Komjen Pol. (Purn) Drs I Made Mangku Pastika, Gubernur Bali

 
Maintained by rumahmedia