21.11.2012 16:46 WITA - OTOBIOGRAFI MPU JAYA PREMA
Bab IV. Menemukan Nabe Kayumas Kelod di Bukit

(Otobiografi Mpu Jaya Prema: "Wartawan Jadi Pandita"). Ini bab terakhir yang ditayangkan di web, karena bukunya sudah terbit. Beli bukunya, banyak kisah seru sekitar G30S/PKI, Malari, Pembredelan Majalah Tempo, kedekatan dengan Soeharto dllnya.

Kabar bahwa saya akan menjadi pendeta sudah menyebar di kantor Majalah Tempo. Setiap ada acara kumpul-kumpul, saya selalu didaulat untuk memimpin doa – meskipun pada akhirnya lebih banyak menolak. Daulatan itu antara guyonan dan serius. Disebut guyonan karena memang tak lazim kalau acara kumpul-kumpul seperti itu diisi dengan doa. Namun bisa dibilang serius jika suasana memungkinkan, saya bersedia, dan teman-teman baik karyawan maupun wartawan memang siap berdoa. Tempo itu seringkali disebutkan sebagai miniatur Negara Kesatuan yang tak pernah membedakan agama, suku, atau sekat-sekat lainnya. Pimpinan dan semua jabatan di sini tak pernah dikaitkan dengan asal, suku, agama, etnis.

Bambang Harymurti, yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo biasa menyebut saya Pendeta atau kadang-kadang dengan sebutan Pedanda (meskipun ini salah kaprah karena mengacu kepada pendeta dari keturunan tertentu). Sebutan-sebutan di Tempo memang unik tak mencerminkan jabatan atau usia. Toriq Hadad, juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo setelah Bambang Harymurti, menyebut saya bos, padahal yang bos,kan dia. S Malela Mahargasariememanggil saya bli. Yang lainnya kebanyakan Mas. Panggilan Bapak di Tempo sangat jarang, mungkin karena orang terbiasa memanggil Goenawan Mohamad dengan Mas Gun.

Tiga bulan sebelum pensiun saya sudah dipanggil pimpinan dan dinyatakan bebas tugas dari pekerjaan. “Ini untuk persiapan pensiun,” kata Direktur Utama PT Tempo Inti Media, Ir. Leonardi Kusen. Karena pensiun saya efektif per 1 April 2006, saya sudah boleh meninggalkan kantor mulai 1 Januari 2006. “Jangan khawatir, selama persiapan pensiun gaji tetap diberikan, tapi tak perlu masuk kantor lagi,” ujar Leonardi.

Saya tak menduga hal itu, saya kira tak ada persiapan pensiun. Saya dipanggil sekitar pertengahan Desember 2005. Kemudian bagian personalia menginformasikan bahwa cuti saya untuk tahun 2005masih tersisa, apakah akan diambil. Ini pucuk dicinta ulam tiba. Tentu akan saya ambil, karena kalau saya pulang pada tahun baru, lalu lintas pasti padat. Saya memutuskan untuk pulang sebelum hari Natal. Sebagian perlengkapan rumah saya bawa, beberapa tempat tidur besar, almari, meja makan, satu set kursi tamu. Yang lainnya saya tinggal.

Meski uang pensiun belum saya terima, setibanya di Bali saya sudah merancang, apa yang akan saya kerjakan. Saya pikir bangunan di desa sudah memadai, tak ada lagi “proyek” yang besar. Saya justru memprioritaskan renovasi rumah di Denpasar yang belum sepenuhnya rampung. Rumah yang berdiri di atas tanah 150 meter persegi ini baru separohnya bertingkat. Ini akan saya lanjutkan agar saya lebih leluasa bergerak.

Setelah rumah itu jadi, lengkap dengan merajan (tempat persembahyangan keluarga) yang cukup memadai di lantai atas, saya lantas berpikir bahwa saya pasti akan sering ada di sini. Saya tak mungkin bisa sepenuh hari di kampung, apalagi saya masih ingin berinteraksi dengan “masyarakat intelektual”, masih butuh informasi dengan membaca koran setiap hari, masih ingin mengikuti diskusi-diskusi kebudayaan dan berbagai aktifitas lainnya. Denpasar akan menjadi rumah saya kedua setelah di kampung, itu yang saya pikirkan.

Dengan alasan inilah lalu saya berpikir, berguru ke Nabe Mpu Seririt sepertinya tidak efektif dari sisi waktu. Dari Pujungan ke Seririt memang tidak jauh, hanya 23 km. Tetapi kalau saya banyak hari-harinya ada di Denpasar, tentu akan jadi masalah. Saya meminta pendapat kepada beberapa tokoh Hindu yang ada di Denpasar, terutama sekali yang aktif di organisasi Mahagotra Pasek Sanak Sapta Resi (MGPSSR), organisasi klan (ikatan berdasar keturunan). Berbagai masukan saya jadikan pertimbangan.

Akhirnya saya menemui alasan kuat untuk tidak melanjutkan belajar ke Seririt. Alasan utama adalah soal jarak. Saya akan direpotkan untuk setiap saat belajar ke Seririt, jika keberadaan saya ada di Denpasar. Apalagi Pengurus MGPSSR akan meminta saya aktif di organisasi itu. Alasan kedua, Mpu Seririt sudah sangat sepuh, sudah berusia 85 tahun pada 2005itu. Sudah dipastikan tak akan bisa mentransfer ilmunya kepada saya, karena beliau saja sudah mulai pikun. Alasan ketiga, ini yang baru saya ketahui, Mpu Seririt sebenarnya sudah melebihi punya “nanak dharma” (anak didik perguruan), karena berdasarkan ketentuan MGPSSR, seorang Guru Nabe dibatasi punya “nanak dharma” sampai tujuh orang. Itu berarti, seorang Guru Nabe akan melahirkan “nanak dharma” enam orang dari luar, ditambah satu orang dari anak kandungnya yang akan “nyambung rah” (menyambung di keturunan sendiri).

Dengan mempertimbangkan ini saya memutuskan untuk mencari Guru Nabe yang lain sebagai alternatif. Mumpung belum ada ikatan yang resmi antara saya dengan Mpu Seririt. Antara saya dengan Mpu Seririt baru ada “ikatan batin” dan “kekeluargaan”, belum ada ikatan antara sisya (murid atau “nanak”) dengan nabe. Pewintenan pemangku yang dilakukan Mpu Seririt belum merupakan ikatan antara sisya dan nabe, karena siapa pun boleh mewinten pemangku di mana saja. Ikatan sisya dan nabe ada acara ritual secara niskala, sedangkan saksi secara sekala dikukuhkan oleh pengurus MGPSSR.

Saya bertekad untuk mencari Guru Nabe yang lain, namun belum memberitahukan hal itu ke Mpu Seririt. Saya agak curang, kalau ternyata tidak menemukan Guru Nabe yang lain, ya, saya akan meneruskan berguru ke Mpu Seririt. Ibarat pepatah, burung lain boleh dikejar, burung di tangan janganlah dilepas.

***

Ketemu Mpu Kayumas Kelod, 2007

Saya pernah mendengar kabar, ada bekas staf Bupati Badung yang sekarang menjadi sulinggih dan bertempat tinggal di Denpasar. Ketika itu Bupati Badung dijabat oleh Wayan Dana, dan staf yang kini menjadi sulinggih itu sepertinya pernah saya kenal. Ketika itu saya sudah menjadi wartawan. Saya tak jelas apa jabatan orang itu, yang saya ingat beliau berbadan tegap, seorang militer, bicaranya keras dan meledak-ledak, tetapi sangat humoris.

Saya mencari informasi ke sana ke mari, siapa sulinggih itu dan di mana griyanya. Ada yang menyebut griyanya di Kayumas, Denpasar. Ternyata ada dua sulinggih di kawasan Kayumas, satu sulinggih ada di Kayumas Kaja, yang satu lagi ada di Kayumas Kelod. Meski ini berbeda banjar adat, namun ada di satu jalan. Saya terus mencari informasi, yang mana dulunya menjabat staf di kantor Bupati?

Akhirnya ada kepastian. Sulinggih itu nama walakanya (nama sebelum menjadi sulinggih) adalah Drs. Lokantara. Jabatan terakhirnya adalah Lurah Desa Dangin Puri Denpasar, dan tinggalnya di Kayumas Kelod. Griyanya bernama Griya Nataran.

Lama saya berpikir, apakah saya punya keberanian untuk datang ke griya itu. Datang ke griya menemui sulinggih umumnya berpakaian adat Bali, membawa sesuatu (buah tangan, bisa buah-buahan atau kopi, teh dan sebagainya) dan berbahasa Bali yang halus. Saya pasti akan kikuk kalau seperti itu. Saya pun mengingat-ingat, di tahun 1975-an, beliau begitu terbuka, suka guyon. Apakah sifat-sifatnya itu begitu saja hilang ketika menjadi sulinggih? Biasanya tidak.

Saya pun memberanikan diri datang, memakai celana panjang, membawa satu Majalah Tempo, satu buku Mendebat Bali dan Bali Meradang yang semuanya karya saya. Sengaja buku itu tidak saya bungkus, maksudnya supaya beliau langsung tahu nama saya, dan siapa tahu pula ingat dengan saya. Di suatu sore, saya datang sendirian, tak bilang-bilang sama istri di rumah.

Ternyata Griya Natarankosong. Yang ada hanya satu perempuan yang saya duga adalah pembantu rumah tangga – belakangan saya tahu ternyata dia anak Sang Sulinggih. Dari perempuan ini saya diberitahu bahwa sulinggih ada di Pasraman Bukit dan dalam keadaan sungkan (sakit). Tapi besok akan pulang ke griya dan sekaligus mau ke dokter. “Kalau penting datang saja besok sekitar pukul empat sebelum ke dokter, mudah-mudahan beliau sehat,” kata perempuan itu.

Saya pamit namun majalah dan buku-buku saya serahkan ke perempuan itu dengan pesan: “Ya, saya akan balik besok, tolong sampaikan buku-buku ini.” Saya pun kembali ke rumah, menyetir mobil sendiri.

Esok harinya, saya datang lagi ke sana diantar anak saya. Saya sudah anitisipasi kalau-kalau membutuhkan bantuan untuk mengantar ke dokter, karena itu mobil yang saya pakai mobil kijang. Sesampai di griya sudah ada beberapa orang, tapi Mpu Nabe masih di dalam. Katanya sedang siap-siap mau berangkat ke dokter. Saya berdebar-debar menunggu, bagaimana wajah sulinggih itu, apakah saya masih mengenalinya dan yang penting apakah beliau mengenal saya?

Akhirnya beliau keluar dari balai tidur, dipapah perempuan paro baya yang kemudian saya tahu Ida Pandita Istri, sebutan isteri Sang Sulinggih. Saya hampir tak mengenalinya lagi. Namun yang membuat saya kaget, beliau langsung menyapa saya: “Eh, Putu, pidan mulih…” (Eh, Putu, kapan pulang). Saya menjawab dalam bahasa Bali pula: “Sampun suwe..” (Sudah lama).

Beliau lalu duduk sebentar di kursi yang ada di luar balai, kursi khusus yang dipakai sehari-hari. Saya pun berpikir, apakah beliau betul-betul ingat saya, atau karena membaca buku yang saya titipkan kemarin? Ada seorang lelaki yang sibuk menyiapkan mobil sedan corola yang sudah tua, yang terparkir di garasi.

Saya memberanikan diri bertanya ke supir itu: “Ke dokter mana?” Ya, saya pakai bahasa Indonesia. Rupanya, ucapan saya ini didengar Pandita Istri. “Nak, ke dokter mana baiknya?” Ternyata Pandita Istri juga memakai bahasa Indonesia. Saya tergagap sesaat, lalu saya jawab pakai bahasa campuran: “Durung janji sama dokternya?”

Durung Nak, ada sih dokter yang dulu suka ke griya, tapi dokter Puskesmas, tugasnya jauh di Mambal.”

“Mau dokter yang pernah merawat saya?”

“Coba Nak, hubungi…”

Saya menelepon dokter Nyoman Astika, internis yang pernah merawat saya di Rumah Sakit Dharma Usada Denpasar. Dokter ini masih muda, sangat familiar dan yang saya suka dia sangat senang mempelajari kerohanian. Dokter ini punya tiga tempat praktek, di RSU Dharma Usada, RSU Kasih Ibu Denpasar, dan RSU Kasih Ibu Kedonganan. Ternyata sore ini dokter prakteknya di RSU Kasih Ibu Kedonganan.

“Ida, dokternya praktek di Kedonganan, Rumah Sakit Kasih Ibu, jauh sekali. Bagaimana?”

Pandita Istri mengulang lebih keras ke Mpu Nabe. Oh, ternyata di telinga Mpu Nabe ada alat bantu pendengaran, baru saya perhatikan.

Oh, luwung to. Selesai ke dokter langsung ke Pasraman,” jawab Mpu Nabe. Pandita Istri meneruskan: “Ya, Nak, Nabe mau, pulangnya langsung ke Pasraman di Bukit.”

Akhirnya bersiap berangkat. Karena pertimbangan selesai ke dokter akan menuju Pasraman di Bukit, tidak balik lagi ke Griya Kayuman Kelod, Mpu Nabe dan Pandita Istri menolak di mobil saya. Beliau naik mobil corolla tua itu, diantar supir. Beliau berjalan lebih dulu, saya menyusul di belakang. Supir itu tahu persis rumah sakit itu, saya malah tak tahu. Belakangan saya tahu, “supir” itu ternyata pemangku, namanya Mangku Made Widya yang memang berasal dari Kedonganan, tak jauh dari rumah sakit itu.

Sampai di rumah sakit, dokter belum datang. Saya terus kontak lewat telepon, saya jelaskan keadaan Mpu Nabe. Dokter Astika meminta agar langsung dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD) dan diperiksa darahnya. Dokter datang bersamaan dengan selesainya pemeriksaan darah di laboratorium. Diperiksa kondisi Nabe dengan teliti. Setelah itu dokter ke luar kamar dan memberi kode agar saya mengikutinya.

“Sebaiknya Mpu Nabe dirawat, ada yang perlu dicermati.”

“Kalau begitu saya panggil Pandita Istri, dok.”

Saya masuk ke kamar pemeriksaan. Saya beritahu Pandita Istri kalau dokter mau bicara di luar kamar. Pandita Istri keluar, saya tetap di dalam. Hanya sebentar saja, Pandita Istri sudah masuk ke kamar diikuti dokter Astika. Pandita Istri kemudian menjelaskan kepada Mpu Nabe, harus masuk perawatan. Tak bisa berobat jalan.

“Ya, kalau memang itu yang baik. Nak, tolong carikan kamar Nak,” kata Mpu Nabe mengarah ke saya. Saya mendekati dokter Astika.

“Saya kira yang terbaik di Sanglah (RSUP Sanglah). Di sana ada kamar-kamar untuk pandita. Ruang Mahotama,” kata dokter Astika. “Lagi pula semuanya komplit, di sini alat-alat tak begitu lengkap.”

Mau tak mau semuanya setuju. Masalahnya, Mpu Nabe tak mau diangkut ke RSUP Sanglah dengan mobil ambulance. Dengan alasan masih kuat, beliau tetap ingin dengan mobil sedan tua itu. Saya berunding lagi dengan dokter. Dokter Astika menyebutkan tak masalah diangkut pakai mobil apa, kondisi Mpu Nabe juga tak parah amat. Yang jadi masalah, kalau tidak diangkut dengan mobil ambulance, bisa jadi dilarang masuk langsung ke halaman ruang Mahotama, dan diminta melalui prosedur biasa: melewati ruang UGD sebagaimana pasien yang baru datang.

“Coba kita kontak rumah sakit Sanglah,” kata dokter. Di ruang tamu di luar kamar periksa, dokter menghubungi RS Sanglah. Yang pertama ditanyakan adalah apakah ada kamar kosong di Mahotama, khusus untuk sulinggih. Setelah dapat jawabanada, disebutkan akan ada pasien sulinggih yang harus dirawat di sini, tanpa harus melewati UGD. Saya dengar dokter bicara: “Tak etis seorang sulinggih digiring ke UGD.”

Akhirnya semuanya lancar. Mpu Nabe bisa dibawa langsung ke RS Sanglah tanpa pemeriksaan UGD asal ada yang mengawal dari memasuki komplek rumah sakit sampai masuk ke gedung Mahotama. Sayalah yang mengawal itu, dan saya catat nomor telepon perawat yang akan menunggu di depan ruang Mahotama. Tadinya, dokter Astika mau ikut mengantar, tetapi ada empat pasien yang menunggunya di RS Kasih Ibu. “Tak apa-apa dok, saya kira lancar,” jawab saya.

Saya sendiri tak tahu di mana ruang Mahotama itu. Bahkan saya tak tahu kalau ada kamar-kamar khusus untuk sulinggih. Hebat juga jadi sulinggih, pikir saya. Saya berjalan lebih dulu, di komplek masuk rumah sakit, saya turun dari mobil dan saya minta anak saya mencari parkir. Kepada petugas loket saya minta petunjuk, di mana ruang Mahotama. Ternyata ruangan itu adalah bangunan berlantai tiga, di depannya adalah ruang Sanjiwani. Jadi untuk memasuki ruang Mahotama harus melewati lorong Sanjiwani.

Mobil yang membawa Mpu Nabe langsung ke halaman ruang Sanjiwani. Sempat dihalangi petugas, tetapi saya jelaskan bahwa ini pasien sulinggih, lagi pula para perawat Mahotama sudah menunggu dengan tempat tidur dorong dan kursi roda. Akhirnya mobil mulus sampai di depan pintu ruang Sanjiwani. Mpu Nabe diturunkan dan memakai kursi roda. Mpu Nabe menolak memakai kereta dorong, malah tadinya mau jalan kaki.

Mpu Nabe memasuki kamar lantai III Mahotama. Ruangan cukup luas, kamar ini setara dengan ruang VIP. Sedangkan lantai II dan lantai I setara dengan ruang kelas I. Di lantai I dan II, pasien umum nonsulinggih boleh memakainyasepanjang ada kamar kosong. Tetapi di lantai III hanya untuk pasien sulinggih. Pasien umum tak boleh memakainya meski pun tak ada sulinggih yang dirawat di sana. Tiba-tiba ada perasaan bangga menjadi sulinggih.

Mangku Made Widya, “supir” pribadi Mpu Nabe,rupanya sudah kontak dengan keluarga Nabe. Keluarga pada berdatangan menjelang malam, bahkan sebelum perawat selesai “mendadani”: memasang alat infuse, memasang slang oksigen, mengecek tensi darah, mengambil sample darah dan sebagainya. Karena keluarga sudah datang, Pandita Istri meminta saya pulang.

“Kasihan Nanak, capek, belum makan, belum mandi. Besok saja Nabe ditengok.”

Saya serba salah, ingin menemani Mpu Nabe tetapi sudah banyak yang menemani. Saya lihat ada seorang lelaki penuh tato di tangannya, ada remaja putri, dan entah siapa lagi. Tak seorang pun saya kenal malam itu, apa adahubungan keluarga dengan Mpu Nabe. Akhirnya saya pamit setelah mencium tangan Nabe yang sudah digelantungi infuse.

***

Berkenalan dengan Keluarga Nabe, 2007

Esoknya, pada jam besuk sore hari, saya mengunjungi Mpu Nabe bersama istri. Sudah banyak orang yang berkunjung, beberapa orang malah menunggu di luar kamar. Ternyata di ruang Mahotama ini jam berkunjung bebas. Ruang ini ada di luar pintu gerbang untuk memasuki zal perawatan rumah sakit.

Di dalam kamar ada Ida Pandita Mpu Nabe Pemuteran bersama Ida Pandita Istri. Usai saya mencium tangan Mpu Nabe, beliau langsung meminta agar saya sungkem kepada Mpu Nabe Pemuteran. “Ada kakiyang dan niang, sudah kenal?” Tanya Mpu Nabe. Saya mengangguk.

Kakiyangitu sebutan untuk kakek di kalangan sulinggih, niyang adalah nenek. Mpu Nabe Pemuteran tentu saja saya kenal, beliaulah yang memimpin upacara ketika Ibu saja diaben (pitra yadnya) tahun 1988. Kami di kampung menyebutnya Mpu Renon, karena griya (rumah pendeta) beliau ada di Renon, yang sesungguhnya tempat itu dilarang untuk membangun perumahan karena termasuk jalur hijau. Saya dan istri sungkem ke Mpu Nabe Pemuteran dan Pandita Istri dengan mencium tangan beliau. Lalu kami duduk di sebelahnya dan ngobrol macam-macam.

Mpu Nabe Pemuteran ini ternyata Guru Nabe Mpu Kayumas Kelod, jadi masuk akal kalau saya harus menyebut Kakiyang kepada beliau. Di rumah sakit itu saya diberi silsilah kekeluargaan “trah” (keturunan) Renon. Mpu Nabe Pemuteran atau Mpu Nabe Renon punya “nanak dharma” enampandita. Yang tertua Ida Mpu Nabe Bakung di Singaraja, adiknya Ida Mpu Nabe Badeg di Karangasem. Adiknya ini adalah Ida Mpu Nabe Kayumas Kelod. Yang nomor empat Ida Mpu Nabe Sesetan Denpasar, adiknya lagi Ida Mpu Nabe Paseban, Karangasem, yang terkecil atau nomor enam Ida Pandita Mpu Buahan di Tabanan. Nantinya yang nomor tujuh (terakhir) adalah putra kandung sendiri sebagai tradisi “nyambung trah”, sudah disiapkan tetapi masih lama menjadi pandita karena masih pegawai tata usaha di Universitas Udayana. Sekali lagi, nama Bakung, Badeg, Kayumas Kelod, Sesetan, Paseban dan Buahan adalah nama desa tempat tinggal beliau-beliau itu. Nama kepanditaannya (bhiseka) panjang-panjang dan ciri khasuntuk trah Renonsemua memakai kata “jaya”.

Mpu Nabe Kayumas Kelod yang nama lengkapnya Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Rekananda, punya lima “nanak dharma”. Paling tua Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda (Mpu Kuta), menyusul Ida Pandita Mpu Jaya Satwikananda (Mpu Buton), Ida Pandita Mpu Jaya Satyananda (Mpu Bitra), Ida Pandita Mpu Wasisthananda (Mpu A Yani) dan Ida Bhawati Wayan Miarta. (Kelak, Ida Bhawati Miarta bernama Ida Pandita Mpu Acharyananda). Ciri khasnya adalah kata “jaya” sebagai penerus trah Renon, ditambah kata “nanda” di belakang sebagai penerus trah Kayumas Kelod. Saya pun semakin paham, ternyata nama-nama Ida Pandita Mpu yang panjang-panjang itu ada maknanya sebagai tradisi menghormatiperguruan.

Putra-putri kandung Mpu Nabe Kayumas Kelod akhirnya saya kenal juga setelah hampir setiap hari membezuk Mpu Nabe. Yang tertua Ir. Ni Luh Putu Shinta Eka Setyarini, dosen di Universitas Taruma Negara Jakarta dan kawin dengan Brigjen Basuki Rahmat. Nomor dua, Ni Kadek Laksmi DwiSetyati, sudah kawin dengan pemangku dari Sangeh, kini termasuk penjual banten dan alat-alat upacara yang laris. Adiknya perempuan juga, Ni Komang Shanti Tri Setyasih, S.Sn kawin dengan pengusaha landscape. Komang inilah yang saya jumpai ketika pertamakali ke Griya KayumasKelod. Adiknya Komang, laki-laki, namanya I Ketut Gde Ketut AdhiSetyadi, S.H.. Dia penggemar tato, sekujur tubuhnya ada tato, pegawai negeri di lingkungan Kota Madya Denpasar. Dia jugasudah berkeluarga.Satu lagi laki yang masih membujang,  I Ketut Gde Adhi Setyasa. Dia ini mengikuti jejak Nabe sebagai militer, baru Agustus 2012 dilantik sebagai Letnan Dua TNI AD.

Sekitar seminggu Mpu Nabe dirawat di rumah sakit, beliau akhirnya boleh pulang. Seperti yang diduga banyak orang, beliau lebih memilih tinggal di Pasraman Bukit dibandingkan di Kayumas Kelod. Pasraman Bukit itu resminya bernama Pasraman Merta Sari terletak di Bukit Ungasan. Udarasekelilingnyapanas, namun halamanpasramanteduh karena banyak sekali pohon-pohonan, bahkan lahan itu dijadikan tempat pembibitan tanaman hias oleh suami Komang yang dipanggil Apung(nama lengkapnya:  Putu Gede Paramadipa Medjana). Dia memang sarjana pertanian, hampir semua pedagang tanaman hias di Denpasar punya kontak dengan Apung.

Pasraman Bukit hanya punya satu bangunan seperti bangunan joglo di Jawa. Di bagian belakang tempat tidur Mpu Nabe dan Pandita Istri, lalu ada dapur dan kamar mandi untuk umum (kamar mandi MpuNabe ada di dalam kamar beliau), dan di sebelahnya ada kamar tidur untuk anak-anak dan cucu kalau ada yang datang. Selebihnya seperti aula tanpa dinding, di sanalah Mpu Nabe menerima tamu-tamu. Di halaman di antara pepohonan ada bangunan seperti lumbung, tetapi bukan untuk menyimpan padi. Di sana ada tempat tidur, tapi jarang sekali ada orang yang mau tidur di sana. “Pada takut,” kata MpuNabe suatu ketika. Tetapi jika putra angkat Mpu Nabe cuti, dia berani tidur di sini. (Putra angkat Mpu Nabe itu sejak SMA tinggal di Jakarta dan masuk Akademi Militer di Magelang, lulus 2012. Dia adalah keponakan Pandita Istri yang diasuh sejak kecil).

Saya jadi sering ke Pasraman Bukit, kadang bersama istri, kadang sendirian. Kadang-kadang ketemu Mpu Nabe, kadang tidak dan hanya bercengkrama dengan Apung sambil meminta tanaman hias untuk saya tanam di Pujungan. Ya, betul-betul meminta karena Apung tak mau menerima bayaran dari saya. Di Pasraman Bukit saya paling sering ketemu dengan Mpu A Yani. Ternyata mobil Toyota corolla tua tahun 1986 itu milik Mpu Yani yang dipinjamkankepada Mpu Nabe. Mpu A Yani ini kocak, ceplas-ceplos, tak ada yang mau disembunyikan, insinyur sipil dan bekas Kepala Bagian di Kanwil Pekerjaan Umum Provinsi Bali.

Suatu hari Mpu A Yani menghampiri saya ketika sedang memeriksa tanaman hias di Bukit. “Mangku kok seringkali ke sini, memang ada tujuan ya?” katanya. Ia memanggil saya mangku, karena saya memang berstatus pemangku dan di atas kepala saya ada destar putih.

“Ya, tujuannya minta tanaman untuk di kampung saya.”

Mpu A Yani tertawa. “Bilang saja terus terang, wartawan kok tak mau terus terang,” beliau mulai ceplas-ceplos. “Mau mengambil hati Mpu Nabe ya? Bilang saja mau menabe ke sini, mau melinggih kan?” (Melinggih itu maksudnya mau menjadi sulinggih/pendeta).

Apung yang menjawab: “Kalau betul begitu memangnya salah Nak Lingsir?” (Nak Lingsir adalah sebutanhormat untuksulinggih di kalangan orang Bali).

“Salah alamat,” kata Mpu A Yani. “Terus terang ya, saya orangnya terbuka, blak-blakan. Nabe kita ini sudah tutup, sudah tak mencari sisya lagi. Nanaknya kan sudah lima, jatah satu lagi untuk keluarga di Sumerta, sudah enam. Selesai, yang satu lagi nanti nyambung rah Ketut Adi. Saya terus terang saja bilang. Nabe kita ini tak mau melanggar aturan. Ada Nabe yang anaknya lebih dari tujuh, malah sebelas seperti yang di Marga itu, tapi Nabe kita tak mau begitu.”

Saya lama terdiam. Lalu, agar saya tak merasa terpojok, saya pun berkata: “Saya tak tahu apa akan melinggih atau tidak. Kalau saya melinggih kan ada Mpu Nabe Seririt, apalagi saya mewinten pemangku di sana.”

Kembali Mpu A Yani tertawa; “Mpu Seririt sudah tua, kalau ada apa-apa dalam proses menabe, rumit urusannya.” Lalu ia menjelaskan proses menjadi Sulinggih itu harus melewati Bhawati paling tidak dua tahun. “Kalau sudah jadi Bhawati lalu Nabe meninggal dunia, repot sekali, belum tentu ada Nabe lain yang mau menggantikan.”

Saya diam, tak bisa harus menjawab apa. Berbagai pikiran berkecamuk dalam hati saya. Terutama tentu saja tertutup kemungkinan menabe ke Mpu Nabe Kayumas Kelod.

“Sekarang begini Nak Lingsir,” tiba-tiba Apung menimpali. “Beritahu wartawan kita ini, apa yang harus dilakukan. Kalau di sini tertutup, di sana tak bagus, lalu bagusnya di mana? Kalau ngebet jadi sulinggih kan harus ada jalan, lain kalau saya yang jadi tukang taman.”

“Gampang,” sahut Mpu A Yani. “Nanti saya antar mencari calon Nabe. Di mana ada jalan di sana ada kemauan.”

Demikianlah obrolan di sore itu di Pasraman Bukit, betul-betul memakai bahasa Indonesia. Obrolan terpaksa putus karena Mpu Nabe sudah datang dari muput yadnya. Akhirnya kami semua menuju aula pasraman, biasa ngobrol ke sana kemari. Nabe lebih banyak bertanya tentang kegiatan saya di Jakarta, soal kiprah Forum Cendekiawan Hindu Indonesiasetelah saya tinggalkan, kok tidak ada bunyinya, tentang gerak langkah Parisada, dan nostalgia ketika saya jadi wartawan Bali Post dan Nabe menjadi staf Bupati yang mengurusi macam-macam termasuk soal sampah. Tapi tak ada satu pun menyinggung soal keinginan saya melinggih apalagi mencari Nabe.

***

Keliling Mencari Calon Nabe, 2007

Mpu A Yani selain ceplas-ceplos juga amat lincah. Beliau tahu hampir semua griya sulinggih di Bali, tentunya sulinggih yang bergelar Ida Mpu yang bernaung di bawah Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi. Kalau sulinggih dari soroh (wangsa) lain, dia mengaku tak hafal. Tak ada urusannya, begitu alasannya.

Dia benar-benar membantu saya mencarikan calon Nabe. Mula-mula dia mengajak saya ke Mpu Nabe Basangbe, namun saya minta hal itu jangan menjadi prioritas. Saya sudah mengenal Ida Mpu Nabe Basangbe saat beliau “napak” Ida Pandita Mpu di Penebel. Saya ingin diperkenalkan dengan Mpu Nabe yang lain, yang belum saya kenal.

Lalu Mpu A Yani mengajak saya ke Mpu Nabe Padangan. Desa Padangan ini sebenarnya hanya 4 km dari Desa Pujungan, tetapi saya belum kenal dengan Mpu Padangan. Kami ke sana hanya berdua, saya yang menyupir sendiri. Ini kan seperti perjalanan pulang kampung saja.

Di Padangan kami diterima dengan baik, bahkan disiapkan durian yang sudah dibuka dari kulitnya. Rupanya Mpu A Yani sudah menelepon sebelumnya, jadi kedatangan kami ditunggu. Kami hanya ngobrol saja, tak ada sesuatu yang serius dibicarakan. Kami sudah berjanji di jalan, jangan sekali-sekali menyingsung soal menabe atau mencari nabe. Ngobrol macam-macam saja di luar itu. “Saya nanti akan menilai, apakah Nabe itu cocok untuk saya atau bagaimana,” kata saya kepada Mpu A Yani.

Nabe Padangan usianya lebih muda dari saya. Nanak dharmanya baru satu, itu pun belum menjadi sulinggih, baru berstatus Bhawati, dan tinggal di Galiukir, hanya 3 km dari Padangan. Kesannya, beliau juga tak buru-buru menambah nanak dharma dengan alasan masih berusia muda dan belum mampu mengawasi nanak dharma.

Seminggu kemudian, kami berjalanke Mpu Nabe Juukmanis di Kabupaten Jembrana. Karena Desa Juukmanis itu terpencil dan jalannya rusak, saya membawa supir. Perjalanan ditempuh dari arah selatan, yaitu naik dari desa Pangiangan– desa yang terletak di antara Antosari – Negara. Rencananya nanti, pulang dari Juuk manis langsung naik menuju Pupuan, terus singgah di Pujungan sebelum balik ke Denpasar.

Setelah menempuh jalan menanjak di hutan lindung, Desa Juukmanis terasa sangat terpencil. Listrik sudah ada, namun desa itu sepi seperti rumah-rumah di pondokan. Griya Juukmanik adalah bangunan yang paling bagus di desa itu. Ida Mpu Nabe ada di griya, padahal kami tidak berjanji. Soalnya tak ada telepon umum ke sana, sementara telepon seluler Mpu Nabe Juukmanis sulit dihubungi.Sinyal kadang ada kadang tidak.

Kami disambut di beranda balai tempat tidur beliau. Di seberangnya ada balai terbuka dan beberapa perempuan sibuk membuat banten. Mpu Nabe ini dikenal sangat “laris”, lantaran kalau ada orang yang menyelenggarakan yadnya, beliau langsung yang membuatkan bantennya. Tentu dengan harga yang sudah disepakati.

Seperti biasa kami ngobrol macam-macam. Mpu Nabe ini usianya masih muda, sekitar 40-an tahun. Konon ketika menjadi Ida Mpu, usianya belum sampai 30 tahun, tercatat sebagai pandita mpu termuda yang melinggih. Sekarang hal itu tak dibolehkan, usia Pandita Mpu paling rendah 40 tahun saat melinggih.Supaya lebih mapan.

Ketika pembicaraan menyingsung soal “nanak dharma”, Mpu Nabe Juukmanis langsung berkata dengan nada tinggi: “Saya tak akan mencari nanak. Ngurus diri sendiri saja sulit, apalagi mengurus nanak.”

Mpu A Yani menimpali: “Ya, lama-lama kan harus punya nanak Nabe, tak bisa sendiri.”

“Ya, tapi sulit, itu terserah nanti. Apakah ada yang mau? Berat syaratnya, harus mengikuti apa yang saya mau. Kalau tak mau ikut saya, tak usah jadi nanak.”

“Contohnya, Nabe?” Tanya Mpu A Yani.

“Ya, harus seperti saya. Vegetarian yang kuat. Banyak lagilah syaratnya, ya, tak usah disebut.”Beliau lalu menoleh ke saya: “Mangku ada keinginan melinggih?”

“Ya, belum tahu Nabe, masih banyak yang dipikirkan,” jawab saya.

“Lebih baik jangan, lebih baik membuat buku-buku, majalah, supaya ada yang dibaca para sulinggih. Menjadi sulinggih itu berat sekali.”

Kami kemudian ngobrol macam-macam, soal kebun kopi, soal harganya, soal tanaman cengkeh yang jarang berbunga, dan banyak lagi. Pulang dari sini kamiterus naik menanjak ke tebing dan tembus di jalan raya Pulukan-Pupuan. Kami menuju Pupuan untuk makan siang – padahal sudah pukul 15.00 Wita – untuk selanjutnya menuju Ashram Manikgeni Pujungan

Di ashram, Mpu A Yani sudah ditunggu beberapa tukang bangunan, yang memang saya kontak kemarin. Mereka akan membangun bale yadnya dan Mpu A Yani yang akan memberi pedoman di mana balai itu akan dibangun. Balai yadnya ini sangat penting untuk keperluan griya, karena semua pelaksanaan upacara Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya dilangsungkan di balai ini.

Oya, dengan uang pensiun dari Majalah Tempo dan pencairan uang dari Yayasan Dana Pensiun BNI 1946, sudah banyak hal yang saya lakukan. Uang pensiun ini diberikan sekaligus, tidak dibayarkan bulanan sebagaimana uang pensiun pegawai negeri. Saya sudah membeli seperangkat gong kebyar dengan harga Rp 95 juta. Pemesanan gong kebyar ini dilakukan di sebuah bengkel gong kepunyaan Wayan Sukarta di Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Bengkel ini langganan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, dan ketika memesan gong pun saya bersama Gde Arya, pembantu Rektor ISI Bidang Kemahasiswaan.

Gong kebyar ini penting buat saya, sebagai niat saya untuk mengembalikan wibawa leluhur di masa lalu. Leluhur saya di masa lalu punya gong kebyar yang kemudian justru disumbangkan ke desa (ada informasi dari seorang tetua, gong itu hanya dipinjamkan, tetapi lama-lama menjadi dimiliki desa dan tak ada keluarga saya yang berani menagih). Gong yang saya beli ini pada “gamelan pengugal” (gamelan yang menjadi dirigennya) saya minta supaya dibuat ukiran khusus dengan tulisan: “Gong Ashram Manikgeni”. Boleh dipinjam desa atau siapa pun tetapi harus dikembalikan selesai dipakai. Sedangkan bagi kelompok-kelompok yang ingin belajar menabuh gamelan, silakan datang ke ashram. Karena itulah, saya juga membangun balai gong tempat berlatih. Gong ditata di balaiitu sudah dalam keadaan siap dipakai, jadi tak perlu menata letak terlebih dahulu. Begitu membuka pintu langsung memukul gamelan.

Balai yadnya adalah bangunan terakhir yang akan saya bangun di ashram ini. Karena ini balai untuk ritual, tidak seperti balai gong hanya untuk berkesenian, ukuran balai, letaknya, besarnya, harus mengikuti lontar Asta Kosala Kosali. Untuk itulah saya mengundang Mpu A Yani, beliau ahlinya, mantan orang PU dan arsitek balai-balai untuk upacara.

Hari sudah hampir malam ketika selesai mengukur itu. Memang rumit, karena harus memperhitungkan letak aula (balai serba guna), letak rumah induk dan ukuran pekarangan. Balai ini diperkirakan selesai dalam dua bulan, ada dua kelompok tukang yang mengerjakannya. Yakni pekerjaan phisik seperti dasar, lantai, keramik dan pekerjaan kayu dengan mengukirnya sekaligus.

“Kalau balai ini selesai, ya, sudah. Tinggal melinggih, ini menjadi griya terbesar di Bali,” kata Mpu A Yani begitu mobil meninggalkan Ashram Manikgeni. “Tapi, siapa dulu nabenya? Harus cari segera…” Diatertawa.

Perjalanan saya berkeliling bersama Mpu A Yani bocor juga ke Mpu Nabe Kayumas Klod. Saya tahu hal ini dari istri saya. Menurut istri saya, suatu ketika ketika memasak di dapur, Pandita Istri Mpu Kayumas Kelod bertanya pada istri saya; “Apa yang dicari Mangku Lanang bersama Mpu A Yani berkeliling ke griya sulinggih?” Yang dimaksudkan Mangku Lanang adalah saya, lanang artinya lelaki. Istri saya mengaku menjawab: “Saya tak tahu Nabe, katanya sama-sama tak punya kerjaan…” Saya tak menanyakan apa reaksi Mpu Nabe, baik yang istri maupun yang lanang.

Perjalanan saya selanjutnya dengan Mpu A Yani terus disusun, namun belum kesampaian. Rencananya ke Mpu Nabe Badeg, tapi akhirnya urung. Pertimbangannya Mpu Nabe Badeg seperti halnya Mpu Nabe Paseban tak mau mengangkat nanak dengan alasan beliau menjadi sulinggih hanya untuk kepentingan melayani umat saja, bukan untuk melahirkan nanak. Bahkan Mpu Nabe Pesaban membatasi melayani umat karena tekadnya sejak awal menjadi sulinggih untuk menyucikan diri, bukan sebagai pelayan umat. Istilahnya: sulinggih ngeraga.

***

Pasraman Merta Sari Bukit, Desember 2007

Tibalah hari bersejarah itu. Saya lupa hari apa, sepertinya akhir tahun 2007. Saya duduk berhadapan dengan Mpu Nabe Kayumas Kelod di kursi meja makan di Pasraman Bukit. Istri saya dan Pandita Istri duduk di bawah sedang membuat sesajen. Tiba-tiba Mpu Nabe berkata agar keras – beliau selalu berkata keras karena faktor pendengaran itu: “Sudah selesai membangun di kampung?”

“Sudah Nabe, balai yadnya sudah selesai. Yang melaspas Mpu A Yani.”

“Nah, karena semua sudah selesai, bagaimana rencana Putu sekarang? Kapan mau dicarikan jadwal?”

Saya tersentak. Antara paham dan tidak, saya jadi tergagap: “Jadwal apa. Nabe?”

“Ya, sudah selesai semua sarananya, mau apa lagi? Jadwal mewinten Bhawati. La, kan tujuannya ke sana, toh?” Mpu Nabe beranjak dari kursi, mencari kalender. “Ini kalender lama. Kalender yang baru mana Rai?” Nabe menyebut Pandita Istri dengan Rai. Memang begitulahdi kalangan sulinggih, Mpu Nabe memanggil istri dengan sebutan Rai, sedang istri menyebut Mpu Nabe dengan kata Raka.

Pandita Istri masuk ke kamar, kemudian keluar membawa kalender baru. Karena itu saya yakin pertemuan itu terjadi di bulan Desember 2007. Mpu Nabe mengambil kalender yang baru dan membuka halamannya.

“Nah, ini dewasa yang bagus, 21Februari, Purnama Kesanga, sebelum Nyepi. Nanti bel Mpu Kuta, tanya apa yang perlu disiapkan.”

Mulut saya betul-betul terkunci. Jadwal itu adalah jadwal saya mewinten bhawati. Tanya Mpu Kuta apa yang harus saya siapkan. Jadi, saya diangkat nanak dharma oleh Nabe? Ya Tuhan, apa betul begitu?Tuhan, mukjijat apalagi yang Kau berikan?

“Begini Nak,” tiba-tiba Mpu Nabe memanggil saya Nak, dari kata Nanak. Kemarin-kemarin memanggil Putu, kalau ada banyak orang memanggilnya Mangku. Sekarang kok memanggil Nak, Nanak? Ya Tuhan, apa betul saya akan dijadikan Nanak?

“Nak, supaya semuanya selamat dan semua leluhur merestui, nanti matur piuning ke beberapa pura. Pertama Pura Pedharman di Besakih, kebetulan nanti ada pengurus Mahagotra mejaya-jaya, kita nebeng acara itu. Nabe ikut ke sana. Kemudian, Nanak ngaturang guru piduka ke Pura Dadya Agung Pasek Bendesa, nanti biar diantar Nanak Lengar itu. Nanak juga ngaturang pejati ke Kakiang di Renon, lalu di merajan pesraman ngaturang pejati untuk leluhur yang sudah jadi Dewa Hyang,” Mpu Nabe memberikan pengarahan.

Yang dimaksudkan Nanak Lengar adalah Mpu A Yani, beliau memang biasa diolok-oloh oleh Nabe karena kepalanya lengar, alias botak. Mpu A Yani tak pernah marah diolok-olok oleh Nabe dan saudara seperguruan soal kepalanya yang plontos dibagianatas.

Perasaan saya sudah sulit untuk diungkapkan. Antara gembiradanbersyukur, bercampur aduk. Pengarahan Mpu Nabe terakhir sudah dapat dipastikan bahwa saya akan dijadikan nanak dharma. Aneh bin ajaib, atau adakah ini mukjizat yang untuk kesekian kalinya saya terima? Saya tak pernah melamar, tak pernah meminta, tetapi anugerah yang saya dapat. Leluhur manakah yang membantu saya mendapatkan kemudahan ini?

Sepulang dari Bukit di malam hari, saya menelepon Mpu A Yani. Saya ceritakan pertemuan saya tadi dengan Mpu Nabe. Mpu A Yani semula mengaku kaget, namun tiba-tiba dengan enteng dia berkata: “Kalau begitu calon dari Sumerta itu tak jadi. Ya, Mangku bersyukurlah. Kita sekarang jadi Raka dan Rai.”

Saya mau mengabarkan ke Mpu Kuta soal pertemuan saya tadi dengan Mpu Nabe sekaligus mohon petunjuk apa yang saya lakukan. Mpu Kuta tak ada di griyanya, beliau masih ada tugas muput ke Padangsambian. Baru esoknya sekitar pukul sembilan pagi saya berhasil kontak beliau.

“Nabe memberi jadwal tanggal itu?” Tanya Mpu Kuta dengan nada kaget di telepon.

“Ya, Nak Lingsir. Saya kan tak berani berkata apa-apa.”

“Salah itu, Nabe mungkin lupa,” kata Mpu Kuta yang membuat saya terhenyak, apakah ini akan batal? “Mungkin Nabe lupa, Nanak yang di Lebih itu kan belum embas Pandita. Masih Bhawati.”

Mpu Kuta menjelaskan, Drs. Wayan Miartha, M.Ag yang merupakan nanak dharma nomor lima, belum menjadi sulinggih. Beliau baru menjadi Ida Bhawati. Yang dimaksudkan Bhawati itu adalah berada dalam kandungan sang sulinggih, masih dikandung, dididik dalam kandungan, belum lahir.Embas itu artinya lahir.Nah, logikanya, kan tak mungkin seseorang mengandung dua anak yang berlainan usianya. Kalau kembar bisa, tapi ini kan tidak kembar. Jadi Nabe lupa soal itu.

“Nanti kita datang ke Bukit, kita ketemu di sana,” kata Mpu Kuta mengakhiri pembicaraan di telepon.

Penjelasan ini tak membuat saya cemas sedikit pun. Ini hanya soal waktu, pikir saya. Tak tersirat dalam pembicaraan lewat telepon Mpu Kuta menghambat jadwal saya, apalagi menentangnya.

Sorenya,saya sudah ada di Bukit pukul 16.00 siang, seperti yang saya sepakati dengan Mpu Kuta. Ternyata Mpu Kuta sudah menunggu dan sudah duduk santai di aula. Mpu Nabe rupanya masih tidur. Saya langsung mendekati Mpu Kuta dengan mencium tangannya (ini tradisi kesulinggihan),lalu duduk di hadapannya.

“Jadwal diundur sekitar enam bulan. Ini ada hari baik, Purnama Sadha, tanggal 18Juni. Jadi, yang di Srongga sudah pandita, lebih banyak yang bisa diajak kerja,” kata Mpu Kuta.

“Ya, saya manut saja, bagaimana baiknya.”

“Kapan bisa ke griya Kuta?”

“Kapan Nak Lingsir di griya, saya siap.”

“Sudah tahu griya saya? Jangan parkir di depan griya, tak ada tempat, jalan ramai. Ini kan kampung turis. Parkirnya di bassment Matahari, dari sana jalan, ya, seratus meter. Jalan Kutuh Nomor 9, semua orang tahu. Nanti saya berikan Arga Patra, hafalkansemuanya.”

Saya mengangguk. Mpu Nabe sudah bangun dan langsung duduk di tempatnya. Tempat yang khusus, berbantal kasur dan juga ada senderan dari kasur busa.Tak seorang pun boleh duduk di tempat itu, termasuk Pandita Istri.

“Sudah selesai urusannya,” Tanya Nabe.

“Sudah klop Nabe, jadwalnya Purnama Sadha, 18 Juni,” jawab Mpu Kuta.

Setelah itu kami ngobrol biasa, tak ada lagi menyinggung soal penabean. Kalau pun ada menyangkut soal perguruan, Nabe hanya bertanya bagaimana persiapan Nanak di Lebih (maksudnya Ida Bhawati Wayan Miarta). Upacara diksa sudah dijadwalkan tanggal 21 Maret 2008, Purnama Kedasa. Nabe agak cemas masalah tempat, apakah diterima dengan baik di Desa Lebih. Di sini saya baru tahu, ketika mewinten bhawati, Wayan Miartha melakukannya di Griya Kayumas Kelod. Sekarang untuk menjadi Pandita Mpu tentu harus di merajannya sendiri. Merajan tuanya ada di Desa Lebih namun Bhawati Wayan Miartha siap membangun merajan sendiri di tempat tinggalnya sekarang, Desa Srongga. Desa Lebih dan Srongga bertetangga.

Namun perhatian saya tak di sana. Saya sudah merasa memasuki dunia baru, dunia kesulinggihan. Yang sangat membanggakan saya adalah perguruan yang saya masuki adalah trah Renon. Apakah ini karena restu ibu saya yang dipuput oleh Mpu Kakiang Renon? Saya tak tahu.  Malam itu saya menangis mengenang Ibu, tak pernah saya membayangkan akan nasib saya seperti ini. Orang yang sangat menderita, bersakit-sakit, dan tiba-tiba akan menjadi Pandita Mpu.

Oh, Tuhan, keajaiban apa lagi yang akan saya terima?Kenikmatan apa lagi yang diberikan? Oh Ibu, andai Ibu masih ada... Saya sungkem di bawah foto Ibu yang terpampang besar di kamar suci.

Saya mengenang wajah ayah, samar-samar. Tak ada foto beliau, saya sudah berkeliling ke tetua di kampung, tak ada yang menyimpan foto ayah. Saya membatin: oh... ayah, anakmu kini akan jadi pendeta...

 
Maintained by rumahmedia