19.11.2012 12:03 WITA - OTOBIOGRAFI MPU JAYA PREMA
Bab III. Gagal Jadi Pemangku, Janji Jadi Pendeta

Otobiografi Mpu Jaya Prema: "Wartawan Jadi Pandita")

Setiap kali saya pulang ke Bali, saya pasti mengadakan diskusi, menularkan gaya diskusi yang sudah rutin di Jakarta. Kalau tidak di kampung, diskusi diadakan di Denpasar dengan melibatkan teman-teman dari Pemuda Hindu. Diskusi di kampung diadakan di ruang tamu rumah yang tidak begitu besar. Yang bisa duduk lesehan paling banyak 20 orang, selebihnya ada di luar rumah, duduk di kursi di alam terbuka. Nara sumber yang pernah saya ajak ke desa antara lain, Ketut Wiana, pengurus PHDI Pusat yang tinggal di Denpasar, Made Titib yang jadi dosen di IHDN Denpasar,  Made Darmayasa, seorang penekun meditasi yang mondar-mandir ke India.

Rumah saya terlalu sempituntuk ajang diskusi. Padahal masyarakat desa haus dengan pencerahan agama. Bagi mereka, datangnya orang-orang sekaliber Ketut Wiana dan Made Titib sangat didambakan. Tapi apa daya, tak ada tempat yang lebih luas untuk mengadakan pertemuan keagamaan di malam hari. Kalau diadakan di Pura Puseh, tidak tahan di alam terbuka yang begitu dingin. Pernah sekali saya membawa Made Titib ke Pura Puseh, peserta tak banyak karena kedinginan. Sedangkan jika diskusi diadakan siang hari, peserta pasti tak banyak. Penduduk desa saya bertani dan selalu sibuk di kebun setiap hari.

 

Terpikir kemudian, di mana mencari lahan yang lebih luas untuk masa depan saya sebagai pemangku. Saya tak ingin menjadi pemangku tradisional yang hanya memimpin upacara ritual di pura. Saya ingin memberikan pencerahan kepada warga kampung, minimal anak-anak dan para remaja. Masyarakat di Bali tak banyak mengenal tatwa agama, mereka sibuk dengan urusan ritual. Ini tak baik untuk masa depan.

Begitu saya mengutarakan niat untuk membeli lahan agar bisa membangun rumah lebih luas, tawaran datang dari Putu Sutamba, anak Wayan Nesa Wisuanda yang jadi tetangga saya di desa. Ia menyebutkan ada warga yang kesulitan ekonomi karena terbelit utang dan akan menjual sawahnya. Luasnya 3.000 meter persegi, atau 30 are. Ukuran are memang populer di kampung saya untuk jual beli lahan tanah. Letaknya di pinggir jalan menuju puncak Gunung Batukaru, dan di sebelah Pura Manikgeni. Saya langsung minta agar Putu Sutamba menjajagi soal ini dan memberi tahu saya berapa harganya.

Di Jakarta, saya punya sebidang tanah yang masih berupa kebun, luasnya hanya 930 meter persegi. Ceritanya begini. Setelah enam tahun tinggal di Perumahan Ciputat Baru, saya memutuskan untuk pindah dari sana. Penyebabnya rumah itu kebanjiran karena di dekat sungai dan pembangunan perumahan semakin gencar. Saya mencari rumah yang bebas banjir di wilayah Pamulang, kebetulan banyak teman-teman wartawan Tempo yang melirik lahan ini. Rumah ini pun fasilitas kredit perumahan rakyat (KPR) tetapi tidak melalui Bank Tabungan Negara, jadi tak ada persoalan dengan rumah di Ciputat.

Rumah di Pamulang saya tempati pada awal 1990, dua tahun setelah Ibu saya meninggal dunia. Sementara rumah di Ciputat Baru dikontrakkan. Namun pada 1992, rumah di Ciputat itu saya jual karena hasil kontrak tak bisa dinikmati, habis untuk memperbaiki rumah.  Hasil penjualan ini saya belikan tanah kebun, sekitar 2 km dari rumah di Pamulang. Isi kebun itu ada pohon rambutan yang sudah besar, lalu saya menanam pepaya. Belakangan saya membuat sumur dan kolam untuk memelihara lele. Saya pun membuat pondok kecil untuk bersantai. Memang kebun yang menyenangkan. Saya suka berjalan kaki ke sini, kadang naik sepeda bersama anak-anak. Dalam angan-angan saya, karena pembangunan perumahan mengarah ke sini, saya nanti punya rumah yang lebih luas. “Nanti kita membangun kolam pribadi untuk berenang, bukan kolam untuk lele,” begitu sering saya katakan kepada anak-anak. Maklum, hobi saya adalah berenang.

Hampir setahun saya memiliki kebun itu, ternyata baru tahu kalau di seberang jalan adalah kuburan. Tadinya, itu semak-semak yang saya pikir tanah yang tidak produktif. Ketika suatu saat warga desa di sana bersih-bersih menjelang lomba desa, banyak nisan di sana. Kuburan yang luas. Wow, saya merasa tertipu ketika membeli tanah di seberang kuburan itu.

Untung tak lama saya menawar-nawarkan tanah ini. Hanya sebulan setelah memasang pengumuman “tanah dijual”, sudah ada peminatnya. Harganya lumayan, saya sudah mendapat untung. Memang investasi tanah sangat menggiurkan.  Saat saya menerima pembayaran tanah kebun itu, malamnya saya menerima telepon dari Putu Sutamba: “Betul tanah sawah di Manikgeni itu dijual, harganya Rp 18 juta, tak boleh tawar, siapa cepat dia dapat, yang punya butuh duit.”  Saya sempat menjawabnya, “Ayo hubungi, besok saya pulang membawa uangnya.”

Telepon dari Putu Sutamba singkat sekali, saya kira hanya itu, tanpa basa-basi. Saya mau menelepon balik tak bisa karena dia meneleponnya dari wartel. Saya pun lupa menanyakan dari wartel mana dia menelepon, apakah Seririt atau Tabanan. Di Pupuan saat itu belum ada telepon.

Ini sudah dalam skenario Tuhan, pikir saya. Esoknya saya terbang ke Bali, mencari pesawat sepagi-paginya dengan harapan malamnya saya sudah balik ke Jakarta. Saya  harus membeli tanah sawah itu. Letaknya di pinggir jalan, bersebelahan dengan Pura Manikgeni. Ketika terbang menuju Bali, saya berdoa dan berjanji (ini yang orang Bali sering dinamakan sesangi alias kaul): “Jika tanah itu berhasil saya beli, saya akan membuatkan jalan yang layak untuk menuju Pura Manikgeni.” Pura itu tak punya jalan, orang yang datang ke sana melalui pematang sawah sejauh 50-an meter. Kalau musim kering tak ada persoalan, karena sawah-sawah di kampung saya hanya sekali tanam antara November – April. Tetapi kalau musim tanam, pematang sawah itu kecil, orang harus berhati-hati berjalan dan bisa saja becek. Sampai di pura kaki sudah berlumpur.

Sampai di kampung siang harinya, pemilik sawah sudah menunggu, karena memang sudah dicari oleh Putu Sutamba. Transaksi dilakukan dengan cepat. Sayangnya, urusan tak semudah itu. Putu Sutamba dan pemilik tanah ingin dibuatkan surat jual beli yang ditandatangani Kepala Desa, supaya sah dan mudah diurus ke notaris untuk perpindahan sertifikat tanah. Memang, begitu yang baik, bahkan seharusnya saya yang lebih berkepentingan soal ini. Jadilah saya menginap di kampung karena Kepala Desa sedang pergi ke kota. Malam itu saya bersyukur luar biasa, bisa memiliki tanah seluas 30 are, dan jika itu dibangun cita-cita saya tercapai, punya rumah yang luas untuk tempat menyelenggarakan diskusi keagamaan.

Masalahnya, di mana mencari uang untuk membangun? Saya tak punya tabungan lagi. Selama dua tahun, artinya dua kali panen, tanah itu tetap berupa sawah. Petani penggarap sawah itu heran, karena  hasil panen bagian saya disumbangkan untuk masyarakat sekitar, saya tak perlu diberikan hasilnya. Jadi separoh padi hasil panen, diberikan kepada penggarap. Sisanya, dibagi-bagi kepada warga sekitar. Sedangkan pada saat musim kering, siapa pun penduduk desa yang ingin menanam palawija, silakan tanpa perlu menyewa pada saya, cukup memberitahu si penggarap. Di musim kering ini sawah-sawah biasanya ditanami ketela rambat, jagung, kacang dan sejenisnya. Saya pun dikenal oleh orang desa, terutama generasi saya, sebagai “tokoh Hindu yang dermawan”. Sedangkan jika bertemu orang-orang tua, generasi ibu saya, mereka selalu memeluk saya: “Kangen tiyang teken Putu, amonto sengsaran Putune imalu, jani sube enyak mekitipan, suwecan Hyang Widhi mule keto, ingetang Putu, mulih mani yen sube tue.” (Kurang lebih artinya: Prihatin dan senang saya melihat Putu, begitu sengsaranya Putu di masa lalu, sekarang mulai bangkit, ini anugerah Hyang Widhi, ingat sekali Putu, pulanglah kalau sudah tua).

 Jika mereka menangis, saya malah menghibur. Tapi malamnya saya pasti menangis sebelum tidur, dan menyebut-nyebut ayah dan ibu: “Anugrah Hyang Widhi ini kok tidak bisa dinikmati oleh Bapak dan Ibu, duh...”

 

***

Membangun Ashram dari Pesangon Majalah Tempo

Sore itu, Selasa 21 Juni 1994, saya baru saja tiba di rumah. Karena tidak ada deadline, saya bisa pulang sore-sore, tidak sampai malam. Sambil menunggu air panas untuk mandi, telepon selular saya berbunyi. Dari A Margana. “Put, di mana ini?” Tanya Margana.

“Sudah di rumah.”

“Balik ke kantor lagi, segera, ditunggu teman-teman.” Tak ada nada bercanda.

 “Memangnya ada apa? Capek, tahu...”

 “Tempo dibredel.” 

Ah, telepon ditutup. Saya kontak balik, nada sibuk. Tut... tut... tut...

Saya pakai telepon rumah, memutar alamat kantor. Lama tak diangkat, lalu tiba-tiba ada jawaban: “Sebentar  ya Pak, lagi bicara nih....”

 Saya tak sabaran menunggu. Lalu terdengar lagi suara itu, entah Indah atau siapa, tak jelas: “Halo?”

“Ya, siapa ya?”

“Putu...”

“Oh, Mas Putu, ya. Mas, ke kantor Mas, Pak Goen meminta semua orang Tempo balik ke kantor.”

“Benar Tempo dibredel?”

“Ya datang saja, sudah pada ribut di lantai bawah, saya sendirian di atas.”

Telepon saya tutup. Kepada istri saya bilang tak jadi mandi, saya mau ke kantor.

“Kok bolak balik?”

“Majalah Tempo dibredel.”

“Kok dibredel lagi, dulu kan sudah dibredel?”

Saya tak menjawab. Saya ke kamar, memakai celana dan baju yang tadi, lalu keluar tanpa menjawab pertanyaan istri saya. Istri saya benar, ketika bertugas di Yogya, Tempo juga pernah dibredel selama dua minggu.

Kantor dalam keadaan riuh. Saya tak ingin bercerita tentang pemberedelan ini sekarang, di bagian lain akan saya singgung. Semua orang sudah tahu, Majalah Tempo dibredel oleh rezim Suharto gara-gara laporan utama soal pembelian kapal selam bekas dari Jerman (Timur). Pembredelan ini berlangsung panjang. Tidak cuma dua minggu, dua bulan, juga bukan dua tahun. Dari bulan Juni sampai November 1994, semua karyawan masih masuk kantor dan digaji seperti biasa. Luar biasa manajemen Tempo, orang tak bekerja – dan hanya teriak-teriak – tetap digaji.

Di bulan November, rupanya harapan untuk terbit sudah tak ada lagi. Manajemen Tempo memutuskan untuk bubar, dan karyawan diberi pesangon. Banyak orang bersedih. Pesangon dihitung berdasar masa kerja dan tentu saja gaji pada saat itu. Saya tak peduli bagaimana cara menghitung, apakah benar atau keliru, saya mendapatkan surat yang isinya: “pesangon bersih Rp 65 juta setelah dipotong cicilan mobil yang tersisa”. Saya sempat bertanya kepada Pak Harjoko Trisnadi, yang memang sangat baik pada saya. “Apa tak salah pesangon yang saya terima, pak?”

“Ada kekurangan? Kan dipotong utang dan cicilan.”

“Bukan, terlalu banyak. Saya serius Pak, tak pernah pegang uang sebanyak ini. Dapat mobil saja sudah syukur.”

Harjoko Trisnadi hanya menepuk bahu saya. Ia tersenyum dan ke kamarnya. Saya tak tahu, apakah tersenyum senang atau senyum sedih. Saya pergi ke kamar mandi. Saya sempat menangis, lalu cuci muka.

Enam puluh lima juta rupiah. Uang dari Tempo. Ini adalah fakta, kasat mata, secara sekala. Tatkala saya merenung sambil bersembahyang di kamar suci rumah Pamulang, saya menganggap uang itu semata-mata kiriman dari Tuhan. Saya harus pergunakan uang itu untuk orang lain, untuk makhluk-makhluk Tuhan. Untuk kemanusiaan. Saya tahu apa arti penderitaan, karena saya pernah mengalaminya, dan saya akan pergunakan uang ini untuk kepentingan orang banyak. Tuhan, terimakasih telah mengirimkan uang lewat Majalah Tempo, lembaga yang telah mengangkat harkat hidup saya.

Saya memutuskan untuk membangun sebuah ashram, tempat belajar anak-anak, tempat para remaja berolahraga, tempat orang tua berdiskusi atau melakukan pesantian. Saya telepon adik saya di Denpasar. Saya minta dia pulang segera. Sawah jangan lagi ditanami pagi, mumpung belum seluruhnya sawah dibajak.  Saya berikan pengarahan, sekian petak sawah di bagian atas diratakan. Lalu di bagian bawah diratakan lagi. Jadi, sawah dengan terasiring khas Bali itu tinggal hanya dua tingkat, tidak lagi bertingkat-tingkat. Penggarap sawah dijadikan “kepala proyek”, siapa pun yang bekerja harus dibayar, tak ada istilah ngayah (kerja bhakti bergotong royong khas Bali). Uang saya kirim lewat pos wesel – adik saya tak punya rekening di bank saat itu.

Saya tak bisa pulang karena ada yang dikerjakan di Jakarta, yakni bersama teman-teman mencoba menghidupkan koran Sinar Pagi Minggu. Bekas wartawan Tempo yang tidak ikut bergabung di Majalah Gatra berkelompok-kelompok menghimpun diri untuk tetap eksis, selain yang di Sinar Pagi Minggu sebagian besar berkumpul di kawasan Tebet, menggarap Media Indonesia edisi Minggu. Saya tentu tak mau ikut ke Gatra, meninggalkan lembaga yang telah membuat saya “berdiri tegak” ini.

Saya tak lama di Sinar Pagi Minggu, lantaran pemilik modal bersengketa dengan pemegang surat izin terbit, sehingga tak melihat ada masa depan yang baik. Saya membantu majalah khusus kedokteran Medika, yang manajemennya masih dipegang PT Grafiti Pers. Medika berkantor di sebuah ruko di kawasan Velbak, komplek pertokoan Kebayoran Centre, bertetangga dengan Majalah Forum Keadilan, yang juga waktu itu dibawah manajemen PT Grafiti Pers.  Hanya empat bulan di Medika saya pun diminta ke Forum Keadilan, sebagai redaktur pelaksana. Di sini saya melihat keadaan “lebih aman” dan lebih ada harapan untuk waktu yang panjang.

Sejak itulah saya baru mondar mandir ke Bali, mempersiapkan sebuah rumah yang nantinya berfungsi sebagai ashram, tempat pendidikan yang boleh disebut semacam pesantren kecil – kini nama ashram sudah dipopulerkan menjadi pasraman, agar berbau pribumi. Mula-mula saya membangun hal yang paling mendasar, yakni sebuah rumah kecil di bagian paling depan yang nantinya akan ditempati adik perempuan saya. Rumah berukuran 3 x 6 meter dengan dua ruang, satu ruang untuk tidur dan satu ruang untuk membuka warung kecil-kecilan. Kemudian ada semacam gedung pertemuan, mirip balai banjar yang ada di Bali. Ada panggungnya (stage) dan di kiri kanan panggung itu ada kamar.  Di sinilah nanti saya tidur jika pulamg ke desa. Lalu satu bangunan besar lagi berada di ujung timur, berbatasan dengan Pura Manikgeni, yaitu tempat persembahyangan umum. Di lokasi ini saya hanya membangun satu Padmasana besar, tidak ada tempat pemujaan lainnya.

Dalam angan-angan saya, itu sudah mewakili ashram. Artinya, ada sektor ekonomi yang diwakili dengan pendirian warung, ada sektor pendidikan dengan adanya gedung pertemuan serba guna, dan ada tempat persembahyangan umum. Padmasana adalah bangunan suci untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa. Bukan untuk menyembah leluhur. Dengan demikian siapa pun boleh bersembahyang di sana tanpa disekat oleh masalah keturunan.

Ashram yang sederhana itu akhirnya saya resmikan pada 3 Maret 1995, Jumat Umanis Wuku Kulawu.  Untuk melaspas Padmasana dipuput oleh Ida Pandita Mpu Manikgeni Dharmayoga, yang geriyanya ada di timur Pura Manikgeni. Ashram masih sangat sederhana, tembok keliling pun tak ada. Yang penting kebutuhan minimum seperti kamar mandi dan WC komplit. Puluhan aktifis dan tokoh-tokoh Hindu dari seluruh Bali menghadiri undangan saya untuk peresmian ashram ini.  Kebetulan ini hari libur, Hari Raya Idul Fitri, sehingga banyak tamu yang hadir.

Sedianya yang meresmikan adalah Bupati Tabanan, namun mendadak berhalangan dan diganti oleh Camat Pupuan. Saya kecewa, beberapa tokoh lain juga kecewa, namun apa boleh buat, begitulah keadaannya. Yang jelas masyarakat desa menyambut gembira, bahkan di malam peresmian itu dipentaskan arja dengan gamelan nolin, kesenian khas Desa Pujungan yang lama tak pernah pentas. Ashram itu saya beri nama Ashram Dharmasastra Manikgeni. Arti harafiahnya, ashram tempat belajar sastra-sastra agama di kawasan Manikgeni. Media yang meliput peresmian ashram ini adalah Kompas, Antara, RRI (disiarkan sentral oleh RRI Jakarta) dan media lokal seperti Bali post, Karya Bhakti, Nusa Tenggara.

Sejak itu saya lebih sering pulang ke Bali. Saya harus menghidupkan ashram ini, meskipun saya tak ada di rumah. Di aula saya menempatkan sebuah meja pingpong, untuk menarik minat anak-anak remaja datang. Dan benar, setiap hari aula itu ramai didatangi anak-anak remaja. Jalan di depan ashram adalah jalan menuju SMA Pupuan yang letaknya di tengah-tengah kebun kopi. Kawasan itu mulai berkembang dan jalan pun mulai ramai. Kebetulan sudah diaspal oleh pemerintah.

Setiap hari minggu, di aula ini diselenggarakan pendidikan agama Hindu. Peserta murid-murid SD yang ada di Desa Pujungan kelas empat sampai kelas enam. Tentu saja yang berminat. Gurunya adalah Ketut Martoyo, kebetulan guru agama Hindu di SD 6 Pujungan. Dia dibantu oleh Wayan Nesa Wisuanda yang saya tunjuk sebagai kepala ashram. Anak-anak tidak dipungut bayaran, malah saya memberikan buku-buku gratis. Untuk kedua pengajar, saya pun memberikan honor ala kadarnya setiap bulan.

Di Forum Keadilan saya mulai bekerja dengan normal, artinya ada gaji yang tetap setiap bulan. Sebelumnya di Medika saya hanya menerima “uang transport” saja, sedangkan tatkala di Sinar Pagi Minggu sama sekali  tak menerima gaji. Lalu saya berpikir, uang pesangon Tempo biarkan semuanya saya “tanam” untuk pembangunan ashram itu. Saya pun kemudian membangun rumah induk – yang memang sudah dirancang sebelumnya – di antara bangunan rumah untuk warung dan gedung pertemuan. Rumah induk ini besar dengan tiga kamar dan kamar tamu yang luas, plus dapur dengan ruang makan yang juga luas. Dalam angan-angan saya, di sini nanti pusat kegiatan memasak dan makan-makan setiap ada acara di ashram.

Rumah induk itu selesai 1996. Karena saya sudah bisa tidur di rumah induk,  gedung pertemuan serba guna saya renovasi. Lantai saya pasangi keramik, meja pingpong dipindah ke bangunan pendopo yang terbuka di atas kolam. Kamar-kamar di samping stage di mana tadinya saya tidur, saya rombak dijadikan perpustakaan. Di satu sisi ruang serba guna yang berbatasan dengan tetangga saya membuat tiga kamar, fungsinya bisa untuk tidur para tamu, bisa pula untuk ruang belajar yang tertutup. Sekeliling ashram saya dirikan tembok yang permanen, tentu setelah menyumbangkan sebagian tanah untuk jalan menuju ke Pura Manikgeni.

Sekarang, berbagai fasilitas sudah tersedia. Ada tempat parkir yang lumayan, ada rumah induk yang cukup besar, ada tempat persembahyangan umum, lalu saya pun membuat pula tempat persembahyangan keluarga di samping rumah induk. Pada 10 Agustus1997 saya menyelenggarakan upacara manusa yadnya yang tergolong besar di kampung saya, yaitu upacara potong gigi untuk kedua anak saya.  Saat itu, anak saya Made Rini Wahyuni sudah menyiapkan skripsi di Universitas Borobudur Jakarta, sedang adiknya Nyoman Wirya Suniatmaja kuliah di arsitektur Universitas Udayana Denpasar. Adik saya, Wayan Supartha juga sudah lulus di Fakultas Hukum Universitas Udayana Denpasar.

Upacara potong gigi anak saya ini dihadiri oleh berbagai tokoh Hindu yang ada di Bali. Bahkan Nyonya Gedong Bagoes Oka datang dengan murid-muridnya dari Ashram Candi Dasa Karangasem, melakukan puja Agnihotra di tempat saya. Beberapa teman di Majalah Forum Jakarta juga datang, ada yang menginap untuk menyaksikan acara kesenian di malam hari. Kebahagiaan saya luar biasa. Saya betul-betul bersyukur. Tetapi begitulah kondisi saya, setiap saya bersyukur apalagi jika malam hari, saya pasti menangis. Mengenang kedua orang tua saya yang tak bisa menikmati kebahagiaan ini, sekaligus membulatkan tekad: siap menjadi pemangku dan menyerahkan segala apa yang ada untuk Tuhan.

***

Pensiun Dini yang Gagal, 2001

Tak ada kehidupan yang langgeng di dunia ini, semuanya pasti berubah. Perubahan itulah yang langgeng. Para tetua di Bali dalam acara pesantian seringkali mengibaratkan perjalanan hidup ini sebagai roda pedati, sekarang di atas, suatu saat di bawah. Sekarang menderita, suatu saat bersenang-senang, atau sebaliknya. Karena itu janganlah terlalu bersedih di kala duka, jangan terlalu gembira di kala senang.

Perjalanan hidup saya sepertinya sudah diatur, ibarat roda sedang menikmati berada di atas saat ini. Mungkin saya sudah dianggap cukup berada di bawah, sehingga sekaranglah saya merasakan nikmatnya. Tentu saja, nikmat yang sesuai dengan ukuran saya, bukan ukuran anak-anak para konglomerat atau keluarga yang terbiasa hidup mewah. Nikmat sebagai anak petani yang tercekik lintah darat.

Siapa yang menyangka terjadi perubahan dalam pemerintahan. Suharto jatuh setelah 32 tahun berkuasa. Situasi politik berubah, kebebasan lebih longgar. Hanya tiga bulan setelah Suharto jatuh, ada pemikiran untuk menerbitkan kembali Majalah Tempo.  Saya pun kembali ke Tempo. Tentang situasi di sekitar jatuhnya Suharto dan penerbitan kembali Majalah Tempo akan saya uraikan pada saat saya menceritakan suka duka sebagai wartawan. Karena di bagian itu cerita menjadi lebih nyambung.

Terbitnya kembali Majalah Tempo membuat kehidupan saya lebih mapan. Mapan dari sisi keuangan, mapan dari segi mental, dan ini membuat saya harus menunaikan janji untuk pulang ke kampung pada usia 50 tahun untuk menjadi pemangku. Tak boleh ditunda.

Bulan April 2001, ketika usia saya menginjak 50 tahun (saya lahir 4 April 1951), Majalah Tempo versi baru sudah berusia  sekitar 2,5 tahun. Saya merasa dari sisi tugas dan kewajiban untuk ikut membangun Tempo sudah berjalan dengan baik. Tenaga wartawan sudah cukup dan kemampuannya bagus, berkat latihan yang terus-menerus dan terjadwal. Sudah banyak wajah-wajah baru yang bisa meneruskan semangat Tempo. Para senior Tempo yang bertahan dan mau kembali ke Tempo juga cukup meyakinkan. Jadi, kalau saya pamit dari Tempo, tak akan terjadi apa-apa. Saya pun mengajukan pensiun dini ke manajemen Tempo, seperti biasa secara lisan dan kekeluargaan. Ini kebiasaan saya, kalau terjadi kesepakatan baru disusul dengan surat resmi. Ternyata jawaban yang saya terima tidak saya duga.

“Tidak ada ketentuan pensiun dini,” kata Ir. Leonardi Kusen, Direktur Utama PT Tempo Inti Media, perusahaan yang menaungi Majalah Tempo versi baru.

Saya jadi bingung. Lalu saya konsultasi dengan Yusril Djalinus, Zulkifli Lubis, juga Toriq Hadad, apa yang saya lakukan. Ada pemecahan begini, saya boleh melalukan cuti panjang selama setahun. Anggap saja cuti ini sama dengan cuti belajar yang memang boleh diambil oleh para wartawan. Saya lupa siapa yang menyodorkan ide ini. Tapi yang saya ingat Yusril Djalinus berkata: “Siapa tahu Anda tak betah di Bali, jadi balik lagi ke jakarta. Kalau betah dan tak balik-balik, artinya mengundurkan diri, bukan pensiun dini.”

Saya terima pendapat itu. Saya pulang ke Bali hanya membawa pakaian saja, tidak jadi membawa perabotan rumah. Saya pikir, kalau pun saya tak balik lagi bekerja di Tempo, perabotan rumah saya ambil lain kali. Selain mobil sedan Toyotan Corolla yang saya bawa, sebuah mobil boks,yang masih dicicil juga saya bawa. Siapa tahu di Bali bisa dipakai untuk berjualan buku, karena mobil itu didesain untuk jualan buku.

Di Bali saya lebih banyak ada di kampung, meski pun di Denpasar ada rumah yang didiami anak saya. Keseharian saya banyakdiisi oleh berbagai pembangunan yang melengkapi ashram yang saya dirikan.  Saya membangun balai untuk tempat tidur yang khusus untuk pemangku dengan gaya Bali. Tak begitu luas, hanya 5 x 5 meter persegi, namun ada KM/WC di dalam, ada tempat untuk meditasi. Dalam bangunan arsitektur Bali, balai ini disebut bale dauh.

Di halaman depan saya membangun garasi yang cukup untuk tiga mobil, menambah KM/WC umum yang nantinya digunakan khusus untuk tamu-tamu yang berstatus pemangku dan sulinggih. Halaman parkir saya tata dengan rapi dengan membuat kolam air mancur di tengah-tengahnya. Di sebelah tempat parkir saya membangun panggung (stage) terbuka dengan latar belakang candi bentar yang cukup besar.

Saya kira sarana ini sudah lengkap. Tak ada rumah seorang pemangku yang punya fasilitas seperti ini. Saya boleh bangga, nantinya akan menjadi pemangku yang paling moderen fasilitasnya, termasuk perpustakaan. Tentang perpustakaan ini ada yang unik, saya selalu menganggapnya sebagai mukjijat. Salah seorang pembaca Majalah Hindu Raditya dari Semarang, menyatakan kekagumannya kepada saya, yang mendirikan dan mengasuh majalah itu. Ia mengaku sangat mencintai “tradisi leluhur” dan ia merasa apa yang saya tulis di majalah Raditya itu mewakili keinginannya yang tak tercapai, yakni mewarisi tradisi leluhur di masa lalu. Lantas ia berkeinginan menyumbangkan buku-buku untuk mengisi perpustakaan saya. Tentu saja saya menyambutnya dengan gembira.

Hanya dua minggu setelah itu, sebuah truck bernomor polisi Semarang yang penuh muatan datang di ashram. Truck itu menurunkan 3 rak buku, dua rak memakai kaca, satu rak terbuka. Plus kardus-kardus berisi buku. Pengirimnya, “pembaca yang tak mau disebutkan namanya”, tetapi ia menulis surat pengantarnya dengan kertas berkop Yayasan Sudirman. Buku yang dikirimkannya beragam, dari cerita untuk anak-anak, cerita untuk remaja, novel-novel, filsafat sampai buku ketrampilan seperti bertenak lele, menanam jagung dan sebagainya. Ketika membalas surat itu saya ingin menanyakan, siapa nama Bapak, akan saya abadikan di dalam Ashram Manigekni. Tapi beliau tak mau menyebutkan namanya, tetapi boleh disebut Yayasan Sudirman. Beliau mengaku pendiri sekaligus pengurusnya.

Kiriman bukulewat perantaraan orang “tanpa nama” di Semarang itu membuat saya semakin percaya diri untuk membangun ashram di kampung, yang motonya: “mendidik sumber daya manusia di desa terpencil”. Saya sempat mengingat-ingat, siapa saja teman saya di Semarang. Ada Amen Budiman, seorang sejarawan, tetapi beliau hidup sederhana, rasanya tak mungkin bisa menyumbangkan buku sebanyak itu lengkap dengan raknya. Ada Darmanto Jatman, seorang dosen dan penulis puisi yang nyentrik. Saya pernah menginap di rumahnya di Semarang ketika saya masih bertugas di Yogya. Saya juga kenal baik anak perempuannya, yang ketika saya di Jakarta, pernah mengundang saya untuk memberikan ceramah jurnalistik di kampus Universitas Diponegoro. Saya kira bukan dia yang mengirimi saya buku.

Ah, tak usah memikirkan itu. Ini “kiriman Tuhan”. Berkali-kali saya menyebut itu, karena memang tak bisa menebak siapa yang mengirimi saya buku sebanyak itu. Di kop surat Yayasan Sudirman ada tertera tulisan: “melestarikan warisan leluhur, mengembangkan pertanian organik, melestarikan alam”. Wah, semakin bingung saya harus menebak, siapa mereka.

Perpustakaan di Ashram Manikgeni semakin menjadi lengkap karena ada buku-buku dari terbitan Pustaka Manikgeni – perusahaan yang saya buat untuk menerbitkan buku-buku Hindu – sumbangan dari Direktorat Jendral Bimas Hindu dan Budha Departemen Agama, dan buku-buku koleksi yang saya bawa dari Jakarta.

Semakin senang saya tinggal di kampung dan semakin yakin saya bisa melupakan Majalah Tempo, termasuk melupakan Jakarta.

Ternyata, Tuhan menentukan lain. Setelah enam bulan di Bali, ada kabar dari Jakarta, bahwa Bank Negara Indonesia (BNI) tak bisa mengeluarkan dana pensiun saya kalau usia belum mencukupi 55 tahun. Perlu diketahui, dana pensiun untuk karyawan Tempo versi baru ditaruh di BNI 1946, dikelola oleh Yayasan Dana Pensiun BNI 46. Salah satu persyaratannya adalah dana cair ketika usia memasuki masa pensiun pada umur 55 tahun. Kalau dicairkan sebelum itu, dikenakan penalti yang cukup besar dan itu pun harus disetujui pula olehDireksi Majalah Tempo.

Saya berpikir keras. Andaikata pun saya memaksa pensiun dini dari Tempo (itu pun istilahnya bukan pensiun tetapi mengundurkan diri), paling banter saya menerima pesangon tiga kali gaji, dengan catatan kalau cara pengunduran diri saya baik-baik. Sementara dana pensiun dari BNI tak seberapa besarnya.

Saya gelisah. Suatu hari kegelisahan ini saya sampaikan kepada para tetua di kampung. Kebetulan mereka lagi berkumpul di Ashram Manikgeni karena ada upacara Pitra Yadnya yang dipuput (diupacarai) oleh Ida Pandita Mpu Nabe Parama Manik Dwija Kertha dari Griya Seririt, Kabupaten Buleleng.

“Bagaimana ya, saya sudah mantap menjadi pemangku, tetapi ada masalah kepegawaian, pensiun tak bisa keluar,” kata saya, menyederhanakan masalahnya.

“Sebenarnya tak apa-apa juga, toh pemangku di Pura Dalem tak mungkin kita rebut, bisa menjadi masalah berkepanjangan dan melibatkan seluruh desa adat,” kata seseorang.

Mangku Putu Suweta menambahkan: “Tapi kan sudah janji menjadi pemangku pada usia 50 tahun.”

“Ya, itu kan janji. Sekarang, kalau jadi pemangku di taruh di mana? Belum ada pemangku pura yang kosong,” kata orang tadi, saya lupa siapa orangnya.

 Diskusi lalu berkembang, untuk apa menjadi pemangku kalau semua pura sudah ada pemangkunya. Nah, pada kesempatan inilah Ida Pandita Mpu Nabe Parama Manik Dwija Kertha yang populer disapa Mpu Seririt berkomentar: “Pemangku itu tak harus bertugas di pura. Ada pemangku status saja, secara kerohanian sudah selevel pemangku, tetapi tidak punya wilayah pura.”

“Kalau ada pemangku tanpa mewilayahi pura, itu lebih bagus,” kata saya. “Jadi tak perlu menetap di sini, bisa mondar-mandir. Jakarta-Bali kan bisa bolak-balik sehari, yang penting ada uang.”

Wajah para tetua berseri-seri. Mpu Seririt kemudian berkata: “Bagus, Nanak. Bagus. Yang lebih bagus lagi kalau setelah berstatus pemangku, Nanak melanjutkan yang lebih tinggi, menjadi sulinggih.”

Para tetua langsung sumringah dan menyatakan kesetujuannya. “Kalau mau seperti itu, wah, luar biasa, bagus sekali,” kata beberapa orang.

Saya masih diam, sampai Mpu Seririt kembali berkata: “Bagaimana Nanak, semuanya setuju. Ayo jadi sulinggih, Bapa yang melantiknya.” Ida Mpu menyodorkan tangannya. Saya menyambut dengan kedua tangan sembari mencium tangan Ida Mpu.

“Sip?” tanya Ida Mpu yang sudah tua tetapi sangat humoris ini.

“Ya, saya sanggup.”

Ucapan saya itu disambut gembira para tetua warga. Ada sekitar delapan orang di sana. Semuanya senang menyambut kesanggupan saya untuk menjadi sulinggih, pendeta Hindu yang nantinya bergelar Ida Pandita Mu.

“Kapan otonan Nanak?” tanya Ida Mpu. Otonan itu adalah hari lahir berdasarkan wariga Bali.

“Budha Pahing Wuku Krulut,” (Budha = Rabu).

“Oh, masih lama. Begini, pada saat otonan nanti, kita buat acara pewintenan pemangku di merajan Nanak di sini, Bapa akan datang memuput. Setuju?”

Saya tentu menyetujuidan mau menjawab, namun sebelum saya menjawab, para tetua warga yang lebih dulu serempak menjawab:  “Setuju....”

Peristiwa yang tak terlupakan.

Kejadian ini kembali mengubah jalan hidup saya. Saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan meneruskan sebagai karyawan Majalah Tempo sampai usia pensiun benar-benar tiba. Dua hari setelah pertemuan tak terduga itu, saya sudah terbang ke Jakarta bersama istri. Esoknya sudah kembali ke kantor di Jalan Proklamasi 72 Jakarta. Sambutan teman-teman biasa saja. Tak satu pun yang menganggap saya sudah keluar dari Tempo, semuanya menganggap menjalani cuti besar. Meja kerja saya pun masih utuh, tak ada yang berani memakainya. Di hitung-hitung, hanya delapan bulan saya meninggalkan Jakarta, tak sampai setahun seperti yang diperbolehkan.

***

Ashram Manikgeni, Juni 2002

Sesuai janji untuk mewinten pemangku pada hari otonan, saya pulang ke Bali pada Minggu 2 Juni 2002. Otonan itu sendiri akan dilangsungkan pada hari Rabu 5 Juni, jadi perlu persiapan. Untuk sesajen saya membeli langsung di Griya Mpu Seririt, supaya lebih mudah. Kalau membuat sendiri tentu rumit dan banyak yang tidak diketahui oleh keluarga besar saya. Hanya banten untuk “matur piuning” di pura-pura desa saja yang dibikin di Pujungan.

Ketika upacara sudah selesai pada Rabu itu, Ida Mpu Seririt memberikan wejangan pada saya. Beliau memberitahu tahap-tahap yang akan dilalui dalam perjalanan menjadi sulinggih. Setelah pewintenan Saraswati (ini saya lakukan secara masal di Pura Rawamangun Jakarta), ada pewintenan Pemangku. Setelah itu ada pewintenan Pemangku Gde. Kalau sampai di sini masih tetap berkeinginan menjadi sulinggih, maka harus menentukan siapa Guru Nabe nantinya. Jika sudah ditentukan maka Guru Nabe akan membuatkan pewintenan Bhawati (dahulu namanya Jero Gede). Setelah itu dilalui dan merasa cukup punya kemampuan untuk menjadi Sulinggih maka pada akhirnya ada pewintenan atau disebut diksa sulinggih. Di sinilah gelar Ida Pandita Mpu itu baru diperoleh.

“Nanak paham?”

“Ya, paham.”

“Sudah punya bayangan, siapa kira-kira nanti yang akan dijadikan Guru Nabe?”

“Ya, Ida Mpu tak usah tanya lagi. Pastilah Ida Mpu. Ini kalau Ida Mpu berkenan.”

“Bagus, bagus,” hanya itu jawab Ida Mpu Seririt. Sulinggih yang sudah uzur ini membuka tasnya. Lalu saya diberi buku Tri Yadnya untuk dipelajari di Jakarta.

Sejak itu, setiap saya pulang ke Bali, saya pasti mampir di Griya Seririt. Kebetulan mobil boks masih ada di Bali. Maka saya sempat menyumbang beberapa semen untuk membangun pasraman yang dibuat Ida Mpu Seririt di Banjar Uma, sekitar 6 km dari kota Seririt. Kesempatan seperti itu langsung saya gunakan untuk menimba ilmu.

Dua tahun setelah itu, pada 12 Juni 2004, di hari Sabtu Kliwon Wuku Landep, saya melaksanakan pewintenan Pemangku Gede, tapi tempatnya di Griya Seririt. Bersama saya ada dua pasang lagi yang menjalani pewintenan. Upacara dilangsungkan dini hari. Selesai upacara itu saya diberikan sebuah genta (bajra) oleh Ida Mpu untuk belajar. Genta ini saya tebus dengan uang Rp 400 ribu. Istilah tebus dipakai agar tidak terkesan jual beli atau transaksi, karena jual beli ini pantangan bagi sulinggih. Sebenarnya ini termasuk murah, karena kalau membeli langsung di Klungkung, tempat pembuatan genta, harganya bisa Rp 700 ribu. Mungkin karena Ida Mpu membeli dalam jumlah banyak, jadi dapat pengurangan harga.

Semakin mantaplah saya untuk menjadi sulinggih. Tinggal menunggu hari pensiun. Saat-saat menunggu itu, kebetulan pula tugas di kantor semakin ringan, saya banyak berkelana ke pusat-pusat kerohanian Hindu yang bukan tradisi Bali. Saya ingin tahu Hindu yang bukan hanya Bali. Saya tak ingin menjadi Bali sentris. Saya suka mengunjungi Siva Mandir yang ada di Jakarta Barat, dekat jalan tol menuju Bandara Soekarno Hatta. Di sini dipuja Dewa Siwa. Saya sering datang ke Devi Mandir di Kemayoran, Jakarta Utara.  Di sini dipuja para dewa-dewi, khususnya Dewi Laksmi. Saya juga mengunjungi ashram Santhi Graha di Cisarua Bogor, di sini ada Mohan MS, seorang Yogi keturunan India.

Bahkan saya sempat dibaptis di kuil Durga Maa (pemujaan Dewi Durga) yang ada di kota Tangerang, pinggir Kali Cisideng. Pendeta di sana sangat unik dan nyentrik sehari-hari memakai celana pendek (kalau tidak memuja) dan bekas preman. Beliau bernama Samin, keturunan India tetapi lama di Medan di kala muda. Pendeta Samin ketika membaptis saya sempat berujar: “Kau akan menjadi pendeta yang mengharumkan nama Hindu Nusantara.” Karena dia nyentrik, saya tak peduli kata-katanya itu, meskipun suasana ketika membaptis saya sempat membuat bulu merinding. Puja-puja khas India terus dikumangkan anak buahnya.

Gagal menjadi pemangku, siapa yang menduga saya lantas memilih menjadi Pendeta? Sungguh perjalanan yang sulit ditebak, tetapi pastilah Tuhan yang mengatur semuanya ini. Hidup mati saya sudah saya pasrahkan betul pada Tuhan. Apapun yang Kau lakukan, hamba telah pasrah, hamba hanya memujaMu. Om Tat Sat.

 
Maintained by rumahmedia