05.01.2012 16:50 WITA - PASRAMAN
Banjar Sebagai Ashram

Oleh Putu Setia

Sebenarnya kalau kita membaca kitab-kitab agama dan meneruskan apa yang dirintis oleh para leluhur di masa lalu, sistem banjar di Bali adalah tempat menggembleng manusia Hindu untuk menjadi manusia yang andal dalam berbagai bidang kehidupan. Istilah populernya, mencetak SDM (sumber daya manusia) yang tangguh.

Kitab Brahma Purana pada sloka 228, 45 menyebutkan tujuan hidup adalah Dharma artha kama mokshanam sarira sadhanam. Lalu kitab Agastia Parwa menyebutkan tahapan dalam perjalanan hidup yang disebut Catur Asrama yaitu Brahmacari Asrama, Grhastha Asrama, Wana Prastha Asrama dan Sanyasin Asrama.

Di India asrama ini biasa disebut ashram, di Bali diperkenalkan kata pesraman. Memang, kata asrama untuk Indonesia yang terbayang adalah asrama militer atau asrama mahasiswa, ada sejumlah ruang tidur, ruang belajar, ruang makan, ruang sekretariat, aula dan perlengkapan lainya. Padahal bukan itu yang dimaksudkan. Mpu Kuturan, leluhur orang Bali, memperkenalkan konsep Desa Pekraman yang memiliki Kahyangan Tiga  sebagai sarana untuk mempersatukan umat. Itulah penjabaran asrama yang termuat dalam kitab-kitab Hindu. Di wilayah Desa Pekraman inilah umat menempuh pendidikan yang bertujuan mewujudkan Dharma, Artha, Kama dan Moksha secara bertahap sesuai dengan tahapan Catur Asrama.

Saya tak akan meneruskan “dharmawacana” ini. Saya ingin mengajak untuk melihat realita yang ada di masyarakat sekarang. Ada yang hilang dari konsep lama ini, yakni unsur pendidikannya. Tapi tentu saja tidak hilang di semua banjar atau Desa Pekraman. Di beberapa tempat masih ada yang bertahan. Namun, secara umum, yang tersisa sekarang ini hanyalah unsur sosial religiusnya, yakni urusan piodalan di pura dan urusan kematian atau di sekitar itu.

Urusan pendidikan sudah diserahkan sepenuhnya ke pemerintah atau dalam istilah kerennya pendidikan formal. Banjar tidak lagi menjadi tempat pendidikan. Memang di beberapa banjar ada pesantian, tetapi itu lebih banyak diikuti oleh orang-orang tua. Dan itu pun sesugguhnya bukan pendidikan dalam arti untuk diamalkan, tetapi sekedar urusan kesenian. Bedanya adalah jika penekanannya seni, orang hanya mahir menembang atau mewirama, tetapi tidak mengamalkan apa filosofi dari sastra yang dibaca itu. Contoh nyatanya, orang bisa mahir menembangkan berbagai kekawin dan geguritan, hafal Geguritan Sucita Subudi atau Kekawin Ramayana, tetapi kesehariannya masih suka metajen, meceki, mabuk-mabukan dan sebagainya.

Yang saya ceritakan di atas adalah kisah kelabu tentang fungsi banjar di Bali. Di luar Bali justru ada gerakan yang menggembirakan. Banjar betul-betul berfungsi sebagai sarana pendidikan. Anak-anak belajar agama di banjar, orang tua yang mengantarkan anak-anaknya, berkumpul mendengarkan berbagai diskusi. Padahal di luar Bali itu warga banjar tidak diikat oleh Kahyangan Tiga. Mereka hanya diikat oleh semacam perkumpulan suka duka atau paguyuban. Memang ada saja perkecualiannya, misalnya orang tua hanya mengantarkan anak-anaknya belajar sementara dia sendiri sambil menunggu ngobrol di warung.

Setidaknya ada dua sistem pendidikan model banjar ini di luar Bali. Yang pertama model di kota-kota besar, di mana umat Hindu tinggal berpencar-pencar. Pendidikan hanya efektif pada hari Minggu saja, atau ditambah pada hari Sabtu. Yang bernama banjar itu, kadang tidak ada “balai banjar” secara khusus. Rumah warga pun bisa difungsikan sebagai “balai banjar”.

Model yang kedua ada di daerah-daerah transmigrasi atau untuk umat Hindu etnis Jawa ada di pedesaan di mana tempat tinggal mereka berkelompok. Umumnya mereka punya balai banjar, meskipun sangat sederhana. Pendidikan di sini sangat efektif, bisa setiap malam, dan betul-betul informal. Model seperti inilah yang juga berkembang di Lombok Timur. Kegairahan atau keseriusan mereka mempertahankan model pendidikan informal ini adalah menjawab kebutuhan zaman karena mereka sering bersentuhan dengan lingkungan yang beda agama atau berbeda suku. Mereka sadar kalau tidak terus-menerus mengasah pengetahuan, akan tersisihkan dari persaingan di zaman yang moderen ini.

Yang unik dan sekaligus menarik adalah model pendidikan banjar yang berkembang di Lombok Timur itu. Bukan saja bentuknya yang informal tetapi sistem pengajarannya juga tradisional. Yakni, pelajaran diberikan lewat sastra lisan, lewat cerita, dongeng, hikayat, fabel dan sebagainya. Bukankah semuanya ini sudah dikenal oleh umat Hindu sejak dulu kala, ketika para leluhur kita menciptakan dongeng-dongeng tentang kebajikan? Bahkan jika ditelusuri lewat susastra Hindu, inilah konsep pendidikan melalui asrama (asrham atau pesraman). Umat diajarkan pengetahuan melalui Ithiasa (Mahabharata, Ramayana dan lain-lain) dan juga melalui cerita sejenis Tantri. Di masa lalu, pendidikan model begini tak asing bagi orang Bali.

Sayang, tak banyak yang memikirkan kembali konsep pendidikan banjar di Bali, padahal Bali adalah tempat tumbuhnya banjar-banjar.

 
Maintained by rumahmedia