26.07.2012 18:21 WITA - KABAR SEKILAS
Dua Pandita Mpu Menjadi Nabe

Bertepatan dengan piodalan di Griya Kayumas Kelod Denpasar pada Purnama Kasa 3 Juli 2012, dua Pandita Mpu yang selama ini aktif memberi pencerahan di berbagai media masa, dinobatkan sebagai Pandita Mpu Nade. Keduanya adalah Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda yang dikenal sebagai pendharma-wacana yang populer di Bali, dan Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda yang sering tampil di media maya dan punya pengikut yang banyak di jejaring sosial Twitter dan Facebook.

Keduanya adalah putra dharma dari Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Rekananda dari Griya Nataran Kayumas Kelod Denpasar. Ida Pandita mempunyai enam putra dharma. Empat putra dharma sebelumnya adalah Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda, Ida Pandita Mpu Jaya Satwikananda, Ida Pandita Mpu Jaya Satyananda dan Ida Pandita Mpu Jaya Wasisthananda semuanya sudah “madeg nabe” pada Tilem Kepitu bulan Januari 2008 dan langsung dinobatkan oleh Ida Pandita Nabe Jaya Rekananda di Pasraman Merta Sari, Bukit Ungasan, Badung.

Seperti diketahui, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Rekananda lebar (wafat) pada 12 April 2012 dan beliau sering menyebutkan masih punya “utang” menobatkan kedua putranya sebagai Nabe. Beliau pun merencanakan acara “munggah Nabe” atau “madeg Nabe” pada piodalan di Griya Kayumas Kelod di Purnama Sasih Kasa. Sayang rencana itu tidak semulus yang diharapkan karena Ida Pandita Nabe mendahului kita semua. Akhirnya, acara “madeg Nabe” tetap berlangsung dan Ida Pandita Mpu Rai Istri Jaya Rekananda memimpin upacaranya. Dari upacara ngeresik sampai mejaya-jaya semuanya dipimpin Ida Pandita Mpu Rai Istri, namun tatkala “napak” berlangsung, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Rekananda yang sudah abra dan menjadi Ida Bethara “ditedunkan” (diturunkan) dengan perantara Daksina Linggih. Lewat Daksina Linggih yang dipegang Ida Pandita Mpu Rai Istri maka upacara “madeg Nabe” dianggap sah. Keseluruhan acara ini disaksikan oleh putra-putra dharma lainnya. Juga ikut menyaksikan pengurus Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi Pusat dan pengurus MPSSR Kodya Denpasar.

Sebelum upacara “madeg Nabe” ini dilangsungkan piodalan Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan dan Pedudusan Alit di merajan griya. Rangkaian acara ini juga disertai dengan mendak-nuntun Ida Bethara di Dalem Puri dan Pedharman Besakih, lalu dilanjutkan dengan melasti sebelum acara puncak. Semua putra dharma Ida Pandita Nabe ikut muput secara bergantian. Suasana khikmad seringkali disertai rasa haru karena tidak seperti biasanya, karena kehilangan Ida Pandita Mpu Nabe yang amat disucikan.

Belum Baku

Upacara “Madeg Nabe” ternyata belum baku di kalangan semeton Warga Pasek. Di beberapa tempat upacara ini berbeda-beda. Ada yang seluruh Pandita Nabe tatkala napak dwijati kembali “munggah” bersama. Jadi, prosesinya seperti pediksan dwijati, ada Nabe Saksi, Nabe Napak dan Nabe Waktra. Ritual pun seperti upacara pediksan, namun tanpa lagi ada upacara “seda raga”.

Di Griya Kayumas Kelod sudah ditradisikan acara “madeg Nabe” dilangsungkan saat piodalan di merajan Nabe dan yang “munggah” hanya Nabe seorang diri. Nabe Saksi dan Nabe Waktra  sewaktu dwijati tidak ikut “munggah” meskipun diundang untuk menyaksikan.

Ada pula yang lebih gampang dan sederhana. Calon Pandita Nabe cukup datang ke Griya Nabe, lalu minta restu hanya dengan “ngaturang pejati” dan setelah diberi restu calon Nabe itu langsung berstatus Nabe. Apakah suatu saat perlu ada keseragaman, entahlah.

Namun yang pasti, calon Nabe harus sudah memenuhi beberapa syarat. Syarat itu misalnya, sudah lebih dari tiga tahun mediksa dwijati, dan tentu saja dianggap cakap dan mampu sebagai Nabe. Karena setelah seorang Pandita Mpu berstatus Nabe, beliau berhak mengangkat putra dharma. Pandita Mpu Nabe mendapatkan sertifikat yang dikeluarkan oleh MGPSSR Pusat.

Apakah dengan “madeg Nabe” ini nama Pandita Mpu yang bersangkutan itu langsung menjadi panjang lagi dengan penyebutan nama Nabe? Ini pun tergantung pribadi masing-masing, jadi belum ada ketentuan yang harus diberlakukan. Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda dari Griya Kutuh Kuta, nama Nabe itu tak harus dilekatkan pada nama pandita. “Tak perlu nama atau abiseka pakai kata Nabe, yang menyebut nabe itu kan setelah kita punya nanak,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. “Nama bhiseka saya sudah amat panjang, kalau ditambah kata Nabe lagi, wah makin panjang. Nanti orang bisa bingung,” katanya. “Biarkan abiseka tidak ditambah-tambah lagi.”

Tapi, apakah akan segera mengangkat nanak pandita? Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda mengatakan, memang sudah ada tanda-tanda ada yang melamar sebagai nanak. Tapi beliau belum memastikan apakah mengangkat nanak segera atau tidak.

Akan halnya Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda dengan rendah hati mengatakan, “Apa ada yang percaya jika saya mengangkat nanak? Saya masih banyak belajar, jadi belum kepikiran mengangkat nanak. Tanggung-jawabnya kan berat,” katanya. Namun beliau menyebut kalau saatnya tiba, ya apapun bisa terjadi.

Foto: Tengah adalah Ida Pandita Mpu Nabe Rai Istri Jaya Rekananda. Pasangan sebelah kiri Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda dan Istri, pasangan sebelah kanan Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda dan Istri.

 
Maintained by rumahmedia