21.01.2012 16:51 WITA - BELAJAR JURNALISTIK
Menulis Ilmiah Populer

"Tulisan  ilmiah  populer" sebenarnya  adalah  tulisan  yang  mendalam  --  dan karena itu disebut ilmiah --  tetapi  disajikan  dengan penuturan yang mudah dimengerti.  Pembaca tak harus berker­ut kening untuk menikmati tulisan yang mendalam itu.

Ilmiah dalam pengertian ini bukan berarti tulisan itu  mesti  berupa hasil penelitian ilmiah saja. Bisa saja tulisan itu berupa  kisah  pengalaman  nyata dan pengamatan biasa  yang  bukan  hasil  penelitian, tetapi disajikan dalam tulisan yang mendalam.  Kisah  atau pengamatan itu dikaji dengan menggunakan etode ilmiah.

Ciri  khas sebuah tulisan yang disusun dengan metode  ilmiah  adalah keobjektifan pandangan yang dikemukakan. Singkatnya  adalah  keobjektifan  dan  kedalaman.   Dua sifat  inilah  yang  senantiasa menjadi ciri tulisan itu ilmiah atau tidak.

Sebuah  tulisan  "bersifat  ilmiah"  apabila  ia  mengandung  kebenaran  secara objektif, karena didukung oleh  informasi  yang  sudah  teruji  kebenarannya, akurat, dan  disertai  analisa  yang  cermat. Namun, tulisan itu tidak ilmiah lagi jika isinya hanyalah  ilmu,  baik teori maupun fakta, yang sifatnya sudah sangat  umum  dan apalagi sudah ditulis berulang kali. Artinya, apa yang disaj­ikan  itu  sudah tidak ada yang baru lagi.

Sebuah  tulisan ilmiah yang walaupun ditulis secara  populer  diharapkan  mampu menjelaskan "mengapa" dan  "bagaimana"  sesuatu  perkara atau gejala itu terjadi. Kalau tidak begitu, maka tulisan itu  hanyalah tulisan dangkal yang masih belum matang, dan  perlu  diolah lebih lanjut menjadi tulisan yang memenuhi syarat.

Istilah  "populer"  sebenarnya  menunjukkan  arti   diakrabi  (sesuatu  yang akrab), menyenangkan, disukai karena  menarik  dan  mudah  untuk dimengerti dan dipahami. Agar sebuah  tulisan  dapat menarik, tulisan itu harus enak dibaca, teratur dan lancar  baha­sanya.  Dan agar mudah difahami, tulisan yang sudah  menarik  itu  harus mampu pula menyederhanakan persoalan.

Penyederhanaan  persoalan baru dapat dilakukan dengan  baik,  bila kita sendiri sebagai penulis memiliki pengertian yang jernih  tentang  hal yang hendak ditulis itu. Dan pengertian  jernih  itu  baru  dapat diperoleh kalau kita sudah membaca berulang kali  dan  memahami  betul bahan bacaan atau temuan yang hendak  kita  tulis  itu.

Sebelum kita membahas bagaimana tulisan yang ilmiah  populer  itu, saya mengulang sedikit dengan menunjukkan bagaimana biasanya  sebuah laporan ilmiah (yang ditulis tidak populer). Ini  sebenar­nya  adalah informasi awal untuk sebuah tulisan  ilmiah  populer.

Secara garis besar, tulisan itu umumnya dengan urutan  seba­gai  berikut:

1.  Judul.  Selain judul ada nama penulis dan tempat  penulis  bertugas atau identitas pekerjaan.

2. Abstrak. Ini isinya intisari tulisan yang hendak  disaji­kan.  Tujuannya, agar pembaca dapat secara cepat  mengetahui  isi  tulisan,  dan  cepat  pula memutuskan untuk  membaca  atau  tidak  tulisan itu.

3.  Pendahuluan.  Ini berisi informasi  latar  belakang  dan  identifikasi (pengenalan) masalah, yang mengantar para pembaca  arah masalah dan pemecahannya yang bersangkutan.

4.  Tubuh tulisan. Isinya mengenai bahan dan metode  peneli­tian  yang dipakai serta uraian pelaksanaan dan  tafsiran  maupun  rekaannya terhadap materi yang ditulis.

5.  Penutup. Isinya, hasil penelitian dan hasil  pembahasan,  kadang juga kesimpulan, dan biasanya ada basa-basi ucapan  terima  kasih  kepada mereka yang telah membantu  pelaksanaan  penelitian  sampai laporan itu ditulis.

Dalam bentuk seperti itulah, sesuatu  gejala, fakta, kejadi­an, bahkan sesuatu masalah dapat kita baca. Di situ sudah  diter­angkan kelayakan sebuah laporan ilmiah, seperti halnya  kelayakan  sebuah berita bagi wartawan media massa, misalnya: apa, di  mana, kapan, siapa dan bagaimana duduknya perkara, cara pemecahan, atau  jalan keluarnya.

Tulisan seperti ini sering kita jumpai pada skripsi,  tesis, disertasi  dan sebagainya.

Sebelum  tulisan  ini  kita angkat  menjadi  tulisan  ilmiah  populer, keilmiahannya dulu dipersoalkan. Benarkah informasi yang  kita  baca  itu  ilmiah? Apakah hal-hal yang  ditulis  itu  sudah diseminarkan?  Kalau  sudah diseminarkan, apakah  seminarnya  itu bermutu?  Apakah yang ditulis itu sudah bisa  dipertanggungjawab­kan? Semua ini dimaksudkan untuk menjernihkan  pengertian-penger­tian  yang  kabur atau ditafsirkan secara  salah.

Kalau keilmiahan itu sudah kita uji, maka tinggal bagaimana  kita menulisnya menjadi populer. Karena itu pada kesempatan ini saya  tak lagi memberikan materi tentang pengumpulan bahan untuk tuli­san ilmiah populer, karena bahan mentahnya sama saja ketika kita hendak membuat laporan ilmiah atau makalah atau skripsi. Yang  diperlukan sekarang adalah bagaimana mengolah bahan itu.

Mengolah Data

Sering  kali terjadi bahan yang kita kumpulkan berlebih dan  kita  merasa sayang untuk membuangnya. Padahal salah satu yang  penting  dalam  tulisan ilmiah populer adalah fokus yang jelas  dan  sudut pandang tidak melebar ke mana-mana. Karena itu banyak pemula yang  bingung, bagaimana memperlakukan data itu. Untuk menulis  laporan ilmiah   atau   penelitian,  tidak  jadi   soal.   Tapi, supaya  populer?

Jangan  bingung.  Periksa dulu rencana awal, sebenarnya  apa  sih tema  yang  mau anda tulis itu? Fokus ceritanya apa,  lalu  angle (sudut pandangnya) ke mana. Cocokkan dengan data yang Anda  pero­leh.  Apakah  sudah terkumpul semuanya? Kalau  belum,  cari  yang  kurang.  Kalau  pas dan berlebih, siap-siaplah  ditulis.  Seperti yang sudah disinggung tadi, sering yang terjadi adalah  kelebihan  data. Belanjaan terlalu banyak, begitu istilah di pers. Sepanjang  ''belanjaan  yang  banyak'' itu tidak mengubah  fokus  dan  angle bukanlah  persoalan.  Tetapi  sering  ''belanjaan''  yang  dibawa  melenceng dari perencanaan dan tema pokok.

Karena  itu siangi data dan taat asaslah pada fokus cerita.  Mana  yang relevan untuk tulisan yang akan digarap dan mana yang tidak.  Jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu, walau  tadinya dicari dengan penuh gesit dan susah payah.

Dalam proses menyiangi ini akan terlihat apakah hasil  penelitian atau  wawancara masih dibutuhkan untuk menunjang tema pokok  itu.  Atau tidak perlu tambahan sama sekali.

Karena  ini  tulisan ilmiah populer, bentuk-bentuk  baku  seperti  menulis  laporan  ilmiah atau sejenis skripsi  tadi  ditinggalkan  sama  sekali. Tidak perlu ada abstrak dan tak perlu ada  pendahu­luan  yang  menjelaskan tentang tujuan penelitian,  masalah  yang  diteliti, ruang lingkup, pertanggungjawaban dan sebagainya. Kalau tulisan  ilmiah populer itu berupa buku, hal itu cukup  disarikan saja untuk pengantar. Kalau tulisan ilmiah itu berupa artikel  di majalah atau surat kabar (feature), hal-hal seperti itu tak perlu sama sekali. Kalau terpaksa dibutuhkan hanya dalam satu atau  dua kalimat saja, dan itupun yang relevan benar.

Sebuah  contoh kita ingin menulis tentang ''arti  perlambang  dan fungsi  tatarias penganten Aceh.'' Penelitian sudah kita  lakukan  secara  mendalam dan bahkan laporan penelitian pun sudah  ditulis  dan diseminarkan. Karena materinya banyak maka kita ingin menjad­ikan tulisan ini ilmiah populer dalam bentuk buku. Kalau  artikel di koran terlalu singkat dan kurang banyak yang diungkap.

Kita  langsung  saja  pada persoalan.  Tentu  dibagi-bagi  setiap permasalahan yang dibahas. Kita tidak perlu bertele-tele berceri­ta tentang daerah penelitian. Cukup disebutkan desa mana, kabupa­ten mana, dan berapa jauh dari pusat kota. Tak perlu menceritakan letak  geografis  daerah itu dengan ukuran Lintang  Utara,  Bujur Timur, sekian meter di atas permukaan laut dan sebagainya. Apala­gi  sampai  melebar ke soal iklim, jumlah  penduduk,  cara  hidup penduduk,  arah  angin dan sebagainya. Ini bukan  pelajaran  ilmu bumi,  kita mau menulis buku soal tata rias  pengantin.  Kalaupun  iklim itu berhubungan dengan tata rias, misalnya karena  udaranya dingin  jadi kebanyakan memakai kain tebal, itu hanya  disinggung pada  bagian tertentu saja. Bukan dalam suatu pembahasan  tersen­diri soal iklim dan temperatur itu.

Pergunakan  data  sesuai dengan kebutuhan tulisan  itu.  Misalnya soal-soal  detail. Tak semua detail itu penting. Misalnya  menye­butkan  jarak sebuah desa di Aceh yang dijadikan wilayah  peneli­tian.  ''Desa  itu  berjarak 15, 74  kilometer  dari  kota.....'' Pembaca  malah  bisa keliru kalau  membacanya  cepat-cepat,  lima belas kilometer atau seratus limapuluh tujuh kilometer atau tujuh belas  kilometer. Sebut saja angka bulat, misalnya, sekitar  lima  belas  kilometer atau lebih sedikit dari lima belas kilometer  -- walaupun Anda tadinya betul-betul mengukurnya secara tepat dengan  sangat susah.

Tetapi untuk hal tertentu, detail itu penting. Misalnya,  pertan­dingan sepakbola. ''Gol terjadi pada menit ke 43''. Ini tak  bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main.   Menit  ke  43 sangat penting artinya dibandingkan  menit  ke  30,  misalnya.  Atau  tulisan  begini: ''Pelari  itu  mencapai  finish dengan  waktu  10.51 detik.'' Ini penting  sekali  bagi  pembaca.  Mereka akan marah kalau detail itu ternyata salah. Apakah pembaca  bingung  melihat  angka-angka ini? Tidak, karena  sebelum  mereka membaca tulisan itu, mereka sudah punya persiapan apa tema  tuli­san  itu.  Kalau dalam hal menulis tata rias pengantin  Aceh  ini  kita mau menulis detail seperti ini: ''Selesai mengenakan  hiasan itu pengantin wanita berdiri selama 15 menit, 12 detik, 6  second  lalu  muncullah  pengantin lelaki...'' ya untuk  apa  angka-angka itu? Capek membacanya.

Ada kalanya data itu penting semua. Apalagi ini menyangkut  desk­ripsi  seorang tokoh atau obyek yang mau ditonjolkan.  Kalau  itu  memang tak bisa dihindari, jangan memperlakukan data itu semaunya dengan menumpahkan dalam satu kalimat. Akan lebih baik kalau data itu disebar dalam beberapa kalimat. Jangan dijubelkan.

Contoh. Ada seorang pelukis lumpuh bernama Ketut Rinuh. Ia menda­pat  penghargaan  pemerintah karena karyanya  sangat  bagus,  tak kalah  hebat  dengan pelukis yang normal.  Anda  sudah  melakukan penelitian  di rumah Ketut Rinuh dan sudah mendapatkan  data-data  yang banyak sekali. Lalu Anda menulis di artikel begini:  ''Ketut Rinuh,  pelukis lumpuh sejak kecil dari Desa Kesiman, umurnya  50 tahun, anaknya sembilan, istrinya guru TK, dan ia sudah  berhasil menyekolahkan anaknya sampai menjadi insinyur, mendapat  penghar­gaan dari pemerintah karena karyanya dinilai sangat bagus,  mele­bihi  karya-karya  pelukis  normal lainnya.''  Kalimat  saya  ini  sebenarnya sudah bagus karena meletakkan koma dengan benar. Kalau meletakkan  koma ceroboh dan sama sekali diabaikan, pembaca  bisa bingung.  Jangan-jangan yang dimaksudkan ''ia'' itu istri  Rinuh, jangan-jangan  yang dimaksudkan mendapat penghargaan itu  anaknya yang insinyur.

Tapi, sebagus-bagusnya kalimat di atas tetap saja capek  membaca­nya.  Dan  itu bukan bahasa ilmiah populer. Anda  harus  memecah-mecah data yang mendukung Ketut Rinuh itu. Misalnya: Pada  kalimat pertama Anda cukup tulis : “Ketut Rinuh,  50  tahun, mendapat penghargaan dari pemerintah.” Kemudian dilanjutkan dengan  kapan  penghargaan  itu diberikan, dalam rangka apa,  siapa  yang memberikan.  Lantas, tentang siapa Ketut Rinuh  dilanjutkan  lagi dengan  menulis:  “Pelukis  lumpuh dari Desa  Kesiman  itu  begitu  terharu  menerima  penghargaan itu.”  Kemudian  dilukiskan  suasana pada saat upacara itu berlangsung. Dan sebagainya.

 

Out-line perlu

Membuat  out-line sangat perlu agar menggampangkan Anda  mengolah  data. Apalagi kalau tulisan yang Anda rancang itu tulisan panjang  dalam  bentuk buku. Tentu banyak data yang sudah  Anda  dapatkan,  banyak informasi yang tersedia.  Out line akan membantu karena ia  mengatur pembagian informasi dan membagi permasalahan.

Misalnya, Anda mau menulis masalah perparkiran di kota ini.  Anda  tentu  meraih banyak informasi. Ada dari tukang parkir, ada  dari  wali  kota, ada dari pengusaha yang berminat ikut tender  parkir,  ada  dari polisi, dan sebagainya. Bahan yang masuk  tentu  banyak  sekali.  Maka  out line sangat membantu  mengatasi  masalah  ini.  

Misalnya, Anda merancangnya begini: Bab  pertama tentang semerawutnya parkir. Kenapa bisa  semerawut,  ruas  jalan  tak  sesuai jumlah  kendaraan,  banyak  pelanggaran,  banyak gedung tanpa tepat parkir memadai, ruang parkir dipakai  pedagang kaki lima, dan sebagainya.  Bab kedua tentang untung  ruginya parkir dikelola swasta sampai bagaimana tentang tender.  

Bab ketiga dari segi hukum, apa beda parkir dengan penitipan  mobil. Apakah seluruh wilayah kotamadya itu menjadi taman parkir?  Kalau tidak kenapa di depan apotek ini ada parkir, di depan  restoran sana tidak ada. Kenapa ada parkir di trotoar, peraturan  mana yang membolehkan? Kenapa tukang parkir saling bersaing,  apakah mereka menyetor sesuai target dan bukannya digaji? Adakah kemungkinan penyelewengan, karcis tak dirobek, lalu dipakai  berulang-ulang. Kalau begitu siapa yang rugi, pengusaha atau  kotamadya?

Nah, kalau out-line itu sudah jelas, Anda tak akan lari ke  mana-mana pada saat menulis. Tanpa kejelasan itu, Anda bisa melebar ke mana-mana. Persoalan A belum selesai, Anda sudah menulis  persoa­lan C. Kemudian ingat lagi masalah A, ditulis lagi. Tulisan  jadi  tak runtut. Akan terjadi pengulangan-pengulangan.

Masalah Bahasa

Bahasa Indonesia yang kita gunakan untuk menyusun artikel  ilmiah  populer  haruslah  ''bahasa tulisan''. Yang dimaksudkan  di  sini adalah bukan bahasa lisan atau bahasa percakapan sehari-hari.

Namun,  bahasa  itu tetap komunikatif, mampu  menghubungkan  alam pikiran  penulis dan pembaca secara lancar dan hemat  kata.  Agar dapat  menyampaikan  gagasan penulis tanpa  cacat,  kalimat  yang disusun harus bebas dari kata-kata yang melelahkan dan kata-kata pemanis basa-basi yang biasa diucapkan orang dalam pidato yang menjemukan. Kata-kata itu bahkan sejauh mungkin harus kita hin­dari penggunaannya.

Selain  menggunakan bahasa tulisan, artikel ilmiah  populer  juga  perlu  menggunakan  bahasa  teknis. Dan  bahasa  teknis  menuntut  penuturan yang ringkas. Dalam usaha menyusun kalimat ringkas ini,  kita harus tetap ingat, jangan sampai mengorbankan kejelasan.

Sebuah  artikel dikatakan tidak lengkap dan tidak jelas,  apabila  ia tidak dapat menjawab pertangaan pembaca lebih lanjut,  seperti pertanyaan:  "Berapa"?  (jumlah, ukuran, umur,  hasil,  suhu  dan  lain-lain).  Artikel yang lengkap tidak akan  membiarkan  pembaca  bertanya-tanya  lagi,  berapa ukuran lubang  yang  harus  digali,  misalnya, atau berapa kilogram hasil yang diharapkan dari pemeli­haraan ayam petelur.

Pernyataan  seperti  "lubang penanaman harus  digali  yang  cukup  dalam  untuk  menanam bibit pohon" atau "hasilnya  lumayan  kalau memelihara  ayam petelur unggul" adalah contoh-contoh  pernyataan  yang  tidak  lengkap. Seharusnya dicarikan  angkanya  yang  lebih  tepat,  seperti "sedalam 1 meter" atau "300  butir/ekor/  tahun".  

Pemakaian  kata  ''banyak'', ''sering sekali''  atau  pengandaian  seperti  ''setinggi  gunung''  atau  ungkapan  seperti  ''sungguh  mati''  harus  dihindari karena tak jelas  memberikan  perincian.  Begitu  pula  diskripsi seseorang, kita  jangan  terlalu  gampang  menulis  ''orang  itu begitu cantik  setelah  mengenakan  pakaian  pengantin  Aceh''. Cantik untuk ukuran orang lain  bisa  berbeda-beda, maka lebih baik deskripsikan ''kecantikan'' itu.  Misalnya,  setelah  mengenakan pakaian pengantin itu, sang  gadis  kelihatan  lebih  langsing, matanya lebih bersinar, lehernya  lebih  jenjang  dan sebagainya. Namun, keterperincian itu tadi tetap jangan sampai terjebak  pada  hal-hal yang tidak perlu.

Ketelitian menjadi hal penting, baik dalam penulisan kata, umur,  nama orang, nama tempat dan alat, ejaan dan tanda baca. Jelas  akan merosot nilai artikel ilmiah populer itu, kalau ketelitian  ini diabadikan begitu saja. Begitu pula masalah ejaan yang benar  sebagaimana pedoman baku yang telah dikeluarkan Pusat Bahasa.  Di Majalah TEMPO misalnya kalau ada penulis artikel yang masih  menulis kata “rubah, robah, merubah, merobah” langsung dicampakkan  karena semestinya kata dasar itu “ubah”, jadi harus ditulis  “peruba­han, mengubah, diubah”. Ini contoh-contoh kecil yang perlu dicer­mati.

Menulis kalimat, jangan terlalu berpanjang-panjang. Kalimat  yang  paling  ideal itu adalah kalimat yang mencetuskan satu ide,  satu  gagasan.  Kalimat yang lebih dari satu ide dan satu gagasan  akan  membuat  kabur, lebih-lebih kalau penempatan kata penghubung  dan  koma dikacaukan. Misalnya kalimat ini: “Iwan Qodar, bapak  seorang  anak  yang  baru  saja diwisuda sebagai  insinyur....”  tak  jelas  benar,  siapa yang lulus insinyur itu, Iwan Qodar  atau  anaknya?  

Ini  hanya  karena penempatan koma. Kalau  ditulis:  “Iwan  Qodar,  bapak  seorang anak, yang baru saja lulus insinyur...” yang  lulus  insinyur jelas Iwan Qodar, bukan anaknya.  Atau: “Iwan Qodar, bapak  dari  seorang  anak  yang baru  saja  lulus  insinyur,  meninggal  dunia...” yang lulus insinyur anaknya, yang meninggal bapaknya.

Kalimat  panjang  membuat pembaca sulit  bernapas  dan  akibatnya  meletihkan. Misalnya: “Dilihat dari segi budidaya, kecipir atau jaat dalam bahasa  daer­ahnya  dan  dalam  bahasa  latinnya  Psophocarpus  tetragonolubus  termasuk kelompok sayuran yang berasal dari Indonesia, diusahakan  baru sampai tingkat sebagai tanaman pagar, lain halnya  perhatian  dunia luar terhadap tanaman ini mereka menganggap bahwa jenis ini  mempunyai  potensi untuk dikembangkan sebagai sumber protein  dan  diduga akan sama pentingnya dengan kedele sekarang ini.” Betapa capeknya membaca.

Cobalah kita jadikan kalimat seperti ini: “Kecipir atau jaat (Psophocarpus tetragonolubus), termasuk  kelom­pok sayuran Indonesia yang baru diusahakan sebagai tanaman pagar.  Lain halnya di luar negeri, ada anggapan tanaman ini punya poten­si  untuk dikembangkan sebagai tanaman sumber protein. Diduga  ia  akan sama pentingnya dengan kedele.”

Tetapi,  kalimat terlalu pendek-pendek, juga tidak  baik,  karena  terkesan  patah-patah  atau gagu. Toh kita tidak  menulis  puisi.  Misalnya:

“Bunga matahari. Bunga ini ditanam sebagai tanaman hias.  Bunganya bunga majemuk. Ujung tangkai bunga amat lebar. Bentuknya  seperti bantal.  Pada dasar bunga terdapat daun  pelindung.  Kecil-kecil.  Hijau warnanya.”

Kalimat  ini tidak memikat, walau pengertiannya mudah  ditangkap.  

Bagaimana pun juga, sebuah artikel ilmiah populer, daya pikat itu  sangat penting untuk menggiring pembaca ke kalimat-kalimat  beri­kutnya. Jadi  dibutuhkan  variasi panjang pendek. Barangkali ada  yang  8  kata, 10 kata, dan yang panjang jangan lebih 16 kata.

Saya  kira masalah bahasa ini menjadi satu topik tersendiri  yang  menarik untuk kita diskusikan, dalam kesempatan yang lain.

(Klik tulisan mengenai Bahasa Jurnalistik).

Jakarta, Putu Setia, Redaktur Senior TEMPO, 1999.

 
Maintained by rumahmedia